Quantcast

Kembalinya Dua Raja Lantai Disco – Pet Shop Boys The Super Tour, Singapore 2019

By - 3 months ago in Concerts Review

Istilah “Boys Will Be Boys” bisa jadi terbilang tepat untuk Pet Shop Boys. Duo yang pernah merajai lantai disko di era 80-90an ini masih membuktikan bahwa mereka masih sebagai raja EDM (electronic dance music). Tanyakan saja pada mereka yang pernah merasakan era keemasan disko di era tersebut. Di usia mereka yang sudah mencapai 60 tahun dan di usia 3 dekade band mereka ini, Neil Tennant dan Chris Lowe tampaknya masih paham betul bagaimana mempersembahkan sebuah pagelaran pesta disko di era kini.

Creative Disc merasa beruntung diundang secara eksklusif oleh Lushington Entertainment yang memboyong duo asal UK ini ke Singapura dalam rangkaian Super Tour mereka tanggal 26 Maret lalu.

Bertempat di Star Theatre, sebuah venue konser megah di kawasan Buona Vista, yang interiornya yang mirip sebuah opera house dan dulunya pernah dipakai sebagai tempat ibadah misa minggu, malam itu bertransformasi menjadi sebuah lantai disko.

Namun disisi lain, hal ini membuat saya agak berpikir, Pet Shop Boys yang merupakan sebuah band beraliran EDM, new wave, synth pop, techno, disko, atau apapun lah itu, kok malah digelar di non standing hall alias duduk.

Rasa penasaran dan sekedar ingin ber-nostalgia ke era masa SMA saya pun akhirnya membawa saya memenuhi undangan tersebut. Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, venue didominasi dengan para anak disko yang tampaknya menikmati masa kejayaan Pet Shop Boys.

Pukul delapan malam tepat, lampu hall mendadak mati, gemuruh beat khas trance music ditimpali synthesizer Chris Lowe dari lagu Inner Sanctum sebuah lagu pembuka penuh energi, sempurna membuat sontak penonton bangkit melupakan kursi mereka, terhipnotis bergoyang dalam histeria. Di atas panggung yang bermandikan cahaya dan grafis warna warni, dua buah telur raksasa di kanan kiri berputar perlahan, menampilkan duo British yang telah ditunggu-tunggu.

Dengan gaya khas mereka yang dingin dan super cool, duo yang juga pernah tampil di Singapore F1 2014 ini membuat para penonton seakan lupa bahwa ini seating venue. Agak disayangkan memang. Histeria yang sebetulnya bisa terbawa lebih hidup, seakan terhalang kursi-kursi. Apalagi di deretan atas dan balcony. Kaki-kaki dan tangan yang tampaknya gatal untuk bergoyang, harus terpaku di kursi mereka. Hanya penonton di barisan depan yang tampaknya paling total bergoyang tanpa terhalang. Dan memang itu juga yang terjadi di beberapa negara yang mereka kunjungi. C’mon guys, we are not that old!

Dari segi pertunjukkan itu sendiri, Pet Shop Boys tampak berhasil dan sukses memuaskan rasa nostalgia penonton. Disamping aksi panggung mereka yang minim, hanya berjalan kesana kemari dan menggerakkan tangan, terus terang saya terpukau dengan kemampuan vokal Neil Tennant yang tidak berubah sedikitpun dengan apa yang pernah saya dengar di kaset (dan di klub) jadul.

Sebuah konser disko memang berbeda dengan sebuah konser rock atau heavy metal. Tak afdol rasanya sebuah dance music tanpa pertunjukkan laser. Dan cukup satu kata; Spektakuler! Seakan laser show merupakan bagian besar dari konser Pet Shop Boys disamping kemampuan musikalitas mereka. Bukan hanya tambahan embel-embel belaka. Begitu menyatunya dengan musik, memukau penonton dari awal hingga akhir tanpa membosankan. Bukan itu saja, akustik gedung dan tata suara pun patut diacungi jempol. Sempurna.

Meskipun tak dapat dipungkiri, lagu-lagu lama mereka lah yang paling berhasil memancing histeria penonton, termasuk saya. Seperti memasuki gerbang time tunnel, rasa haru dan flash back masa lalu langsung berkelebat di kepala begitu mendengar intro dari lagu-lagu ikonik mereka seperti Go West, West End Girls, It’s A Sin, Domino Dancing dan lain-lain. “Together! we will go our way, Together! we will leave someday, Together! your hand in my hands, Together! we will make our plans”

Konser malam itu memang sepertinya lebih layak sebagai konser reuni bagi penggemar lawas yang besar bersama mereka. Se-pengamatan saya, musik dance dengan beat seperti Pet Shop Boys seperti ini belum tentu dapat dinikmati generasi EDM masa kini. Meskipun tampaknya mereka berusaha mengimbangi dengan menyuntikkan ciri musik kekinian di album-album terakhir mereka. Belum lagi ditambah ciri khas mereka yang dingin diatas panggung. Ah jaman memang sudah berubah.

Konser ditutup dengan dua encore dari hits klasik mereka, Domino Dancing dan Always on My Mind. Memorable songs dan cocok memang dipilih sebagai penutup. Saya pribadi jarang bisa menikmati lagu cover, apalagi dari seorang dewa musik, Elvis Presley. Namun Always on My Mind ini salah satu pengecualian bagi saya.

Dan kalaupun ada satu-satunya ganjalan saya, adalah tidak dimainkannya salah satu anthem mereka; Suburbia. Apakah mereka sedang berusaha melepas dari image bayang-bayang dan label band jadul atau hanya sebuah wujud kebosanan, entahlah.

Terima kasih Pet Shop Boys yang telah membawa saya bernostalgia. Konser musik memang tidak selalu hanya pertunjukkan skill njlimet belaka untuk dinikmati, dan Pet Shop Boys berhasil membuktikan itu selama 30 tahun! You guys will be always on my mind!

Setlist Pet Shop Boys Super Tour, The Star Theatre, Singapore, 26 Maret 2019:
Inner Sanctum
Opportunities (Let’s Make Lots of Money)
The Pop Kids
Burn
Love Is a Bourgeois Construct
New York City Boy
Love Comes Quickly
Se A Vida É (That’s The Way Life Is)
Love etc.
The Dictator Decides
Inside a Dream
West End Girls
Home and Dry
Vocal
The Sodom and Gomorrah Show
It’s A Sin
Left to My Own Devices
Go West

Encore:
Domino Dancing
Always on My Mind

————————————————-

Text: Wisnu H. Yudhanto, w1snu.com
Photo Official: Aloysius Lim

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | May 18, 2019 By

Jason Mraz Good Vibes Tour – Singapura 2019: Lebih Dari Sekedar “Good Vibes”

Concert News Music News | May 8, 2019 By

Jason Mraz kembali ke Singapura Sabtu ini Untuk Good Vibes 2019 Concert

Music News | May 6, 2019 By

DJ Kenamaan Singapura Asal Melbourne, Adam Sky, Tewas dalam Kecelakaan Tragis di Bali