Trending News

Blog Post

Konser Supermassive Muse di Singapore F1 Grand Prix 2019
Concerts Review

Konser Supermassive Muse di Singapore F1 Grand Prix 2019 

Semenjak awal digelarnya pagelaran ajang balap mobil paling bergengsi sedunia, Formula One (F1) di Singapura di tahun 2008, sisi entertainment atau hiburan diluar track selalu menjadi hal yang paling dinanti. Sisi hiburan di ajang F1 Singapura tampaknya bukan lagi hanya sebuah embel-embel penggembira. Seakan event tiga hari tersebut seperti sebuah mata uang yang memiliki dua sisi berbeda. Pengunjung event seakan terbagi dua antara pendukung salah satu team F1 dan penggemar artis atau band yang ditampilkan di event tersebut yang sebenarnya banyak justru tidak memiliki minat atau pengetahuan apapun mengenai dunia balap F1.

Tak aneh rasanya di area sekitar track selain dipenuhi para masyarakat ber-atribut Ferrari, Red Bull, Mercedes dan sebagainya, juga penuh dengan para die-hard fans dengan kaos band-band pujaan mereka.

Diantara yang pernah tampil seperti; Queen+Adam Lambert, Ariana Grande, Maroon 5, Linkin Park, Justin Bieber, J-Lo, Katy Perry, Duran-Duran dan lain-lain.

Begitu pula di tahun 2019 ini. Di ajang yang digelar untuk kedua belas kalinya ini, komite juga tetap menggelar konser selama tiga hari berturut-turut dengan mendatangkan artis dunia papan atas, diantaranya; Muse, Red Hot Chili Peppers, Gwen Stefani, Swedish House Mafia, Fatboy Slim, Lighthouse Family dan lain-lain.

Muse dijadikan sebagai line up utama sekaligus penutup acara di hari kedua setelah konser Gwen Stefani dan sesi kualifikasi balap berakhir di track. Band rock alternative Inggris ini bukan pertama kali tampil di Singapura. Setelah tahun 2007 menggelar konser perdana di Fort Canning Park, lalu dilanjut di Indoor Stadium di tahun 2015. Namun ada yang berbeda di konser kali ini.

Pukul 22:10, panggung gelap gulita, intro khas STT Interstatial-1 menggema dengan gagahnya diiringi riuh hiruk pikuk sekitar 55.000 penonton yang memadati The Padang Stage yang merupakan panggung utama dari keseluruhan panggung hiburan F1 Singapura.

Layar back-screen menampilkan grafik outline berpendar kepala tengkorak yang seolah muncul dari air. Tiga siluet pria berjalan ke tengah panggung, lagu Pressure dari album terbaru mereka dibawakan sebagai lagu pembuka, disambut koor penonton yang setia menunggu berjam-jam. “Don’t push me! Don’t push me! Let me get off the ground!” Disambung berturut-turut dengan Psycho, Break It To Me & Uprising.

Terinspirasi apik dari konsep album terakhir mereka, Simulation Theory yang banyak menampilkan konsep luar angkasa, futuristik, dipadu dalam warna-warna glow in the dark dan neon-lights, ala Tron. Matt, sebagai frontman Muse tampil dengan kacamata neon flash yang hampir tak pernah lepas dari wajahnya. Bukan itu saja, backdrop screen dengan permainan animasi grafis senada yang memukau, ditingkahi dengan aksi teatrikal pendukung panggung dengan kostum astronaut dan juga alien, menjadikan konser ini tertata apik sempurna secara keseluruhan konseptual desain album, video dan elemen konser diantara setlist yang prima.

Belum lagi theme “Stranger Things” yang sempat diputar sebelum konser seperti mengajak penonton masuk ke dunia upside-down atau ke luar angkasa lewat tones legendaris dari “Close Encounters of The Third Kind” yang didengungkan sebelum Supermassive Black Hole.

Setlist malam itu juga terasa seimbang menampilkan lagu baru dan jajaran lagu lama yang semuanya dilahap penonton dengan antusias. Tak jarang dengan intro yang dimodifikasi panjang, sebelum memasuki intro aslinya. sebagian besar penonton tampak sudah paham akan lagu yang bakal dimainkan. Namun sudah menjadi hal lumrah, sambutan paling meriah pasti terjadi di setiap lagu-lagu legendarisnya seperti Starlight, Hysteria, Madness atau Plug-in Baby.

Histeria massa memang seakan tak pernah surut. Matt yang tampaknya menyadari hal tersebut terus memancing emosi penonton dengan berkomunikasi dan berjalan kesana kemari menghampiri penonton. Lengkingan gitarnya yang kadang dibarengi teknik bernyanyi falsetto-nya, serasa flawless malam itu. Dibandingkan dengan penampilannya di tahun 2015, kali ini Matt tampak lebih enjoy dan maksimal. Frontman berusia 41 tahun ini dikabarkan baru saja mengakuisisi kepemilikan saham perusahaan pembuat gitar, Manson Guitar Works yang selama ini digunakan Matt di konser-konsernya. Tak heran di sepanjang konser, Matt terus-terusan show-off berganti-ganti gitar Manson custom dan signature nya.

Tanpa terasa, 90 menit berlalu, intro harmonica ‘A Man With Harmonica’ dari Ennio Morricone terdengar menyayat. Bagi para fans Muse pasti sudah dapat menebak ini intro dari Knights of Cydonia yang selalu dijadikan pamungkas di setiap konser-konsernya.

“You and I must fight for our rights, you and I must fight to survive…” teriak Matt diiringi koor 55.000 penonton dengan kepalan tangan keatas mengakhiri konser gempita malam itu. Selesai lah pagelaran futuristis Muse. Para personil kembali ke planetnya, seiring dengan redupnya panggung dan terangnya cahaya sekitar. Meninggalkan penonton yang seakan tak percaya dahsyatnya konser barusan.

Setlist:
Pressure
Psycho
Break It to Me
Uprising
Propaganda
Plug In Baby
Pray (High Valyrian)
The Dark Side
Supermassive Black Hole
Thought Contagion
Interlude
Hysteria
The 2nd Law: Unsustainable
Madness
Mercy
Time Is Running Out
Houston Jam
Starlight
Knights of Cydonia

(teks & foto: Wisnu H. Yudhanto, w1snu.com)

Related posts

Leave a Reply