Trending News

Blog Post

The Slow Rush: Cara Tame Impala Memaknai Waktu
Album of The Day

The Slow Rush: Cara Tame Impala Memaknai Waktu 

Bagaikan superhero, Tame Impala kembali ke Bumi untuk menyelamatkan musik psychedelic pop

Album Review: Tame Impala – The Slow Rush
Tanggal rilis: 14 Februari 2020 (Digital)
Genre: Psychedelic Pop, Disco, House, Alternative
Durasi: 57:15
Jumlah Lagu: 12
Label: Modular/Island Australia/Interscope/
Fiction/Caroline
Produser: Kevin Parker

Tame Impala adalah definisi dari one-man army yang sesungguhnya. Sebagai satu-satunya ‘personil’ band, Kevin Parker selalu ‘betah’ menjadi multitasker dengan mengambil peran sebagai vokalis, instrumentalist, produser, sound mixer, sound engineer, dan composer dan membuatnya tampak sangat mudah. Terlepas dari itu, gemilang Tame Impala justru berasal dari penguasannya yang nyaris sempurna atas genre musik psychedelic pop. Dengan menelurkan The Slow Rush, kini Tame Impala telah resmi mengukuhkan reputasinya sebagai Sang Maestro tanpa tandingan.

Entah disengaja atau tidak, keseluruhan dari The Slow Rush terkesan seperti concept album— sesuatu yang rasa-rasanya belum pernah benar-benar dieksplor oleh Tame Impala. Dalam album ini, Tame Impala mempelajari bagaimana konsep waktu bertransformasi dari lawan menjadi kawan menjadi sesuatu yang mendominasi eksistensi manusia. Apabila boleh menebak, mungkin vakum lima tahun sejak album terakhir Tame Impala (Currents, 2015) menciptakan inspirasi tersendiri– baik itu dalam kehidupan pribadi Parker maupun dalam arahan musik Tame Impala.

The Slow Rush dibuka dengan “One More Year” dan “Instant Destiny” yang seolah-olah menjadi deklarasi Parker untuk menghentikan waktu. “Tomorrow’s Dust” menjadi meditasi atas bagaimana kenangan memiliki kemampuan untuk berevolusi. “Lost in Yesterday” adalah cara Parker merayakan masa lalu sedangkan “Is It True” adalah cara Parker mengkhawatirkan masa depan. “It Might Be Time” mengeksplorasi bagaimana rasanya menua dan menerima perubahan.

Apabila Currents menjadi wadah Tame Impala untuk bereksperimen, maka The Slow Rush menjadi wadah Tame Impala untuk mempertajam apa yang menjadi kekuatannya sejak awal. Aransemen psychedelic pop sangat konsisten dari awal hingga akhir, dengan atmosfer yang lebih menjurus ke koridor mainstream pop daripada punk rock. “Instant Destiny” dan “Borderline” menjadi track yang paling radio-friendly sedangkan “Is It True” adalah track yang paling mendekati format dance banger. Melihat discography Tame Impala secara keseluruhan, The Slow Rush mungkin adalah album Tame Impala yang paling groovy sekaligus yang paling accessible. Tidak ada eksperimentasi genre yang berlebihan–hanya murni psychedelic pop.

The Slow Rush masih tidak lepas dari ketidaksempurnaan. “Posthumous Forgiveness”, yang adalah track paling personal sepanjang keseluruhan album, menjadi kesempatan berharga yang sangat terlewatkan. Menciptakan emotional impact kerap menjadi kelemahan Tame Impala dan sayangnya, situasi yang sama masih terulang lagi untuk album yang satu ini. Terdapat kesan bahwa Parker menghindari menciptakan sesuatu yang sonically lebih vulnerable– mengakibatkan terciptanya sedikit ketidakseimbangan antara style dan substance. Ironisnya, yang kerap menjadi kritikan terhadap genre psychedelic pop itu sendiri adalah kebanyakan musiknya yang seolah-olah lebih mengedepankan production values daripada emotional values. Apakah sebegitu parahnya alergi Parker terhadap ballad? Ironisnya, hanya waktu yang bisa menjawab.

Music lovers di seluruh dunia –khususnya pemuja psychedelic pop— sudah seyogyanya berbahagia dengan kembalinya Tame Impala. The Slow Rush memiliki potensi untuk memuaskan penggemar setia sekaligus menarik penggemar baru yang belum pernah mendengar Tame Impala atau pun genre musik psychedelic pop. Pada akhirnya, semoga The Slow Rush belum menjadi ujung dari musikalitas Tame Impala-garis-miring-Kevin Parker. We’ve seen your genius, Parker. Next time, we would like to see your heart.

IN A NUTSHELL:

+ Concept album yang sangat kohesif dengan beberapa lagu yang cukup accessible dan radio-friendly

Terdapat sedikit ketidakseimbangan antara style dan substance

 
TRACK PICKS:
“Instant Destiny”, “Is It True”, “It Might Be Time”

 

 

TENTANG PENULIS

Felix Martua adalah seorang novelis, penulis, dan kontributor lepas berbasis di Kota Bogor, Jawa Barat. Selain mengerjakan proyek fiksi, Felix Martua turut mengulas topik seputar musik, film, seri, buku, novel, pop culture, dan isu sosial-budaya. Felix Martua bisa dihubungi via Instagram @felixmartuaofficial atau dengan mengirimkan email ke felixmartuaofficial@gmail.com

 

Related posts

Leave a Reply