Trending News

Blog Post

Dua Lipa Membela Martabat Dance-Pop Melalui Future Nostalgia
Album of The Day

Dua Lipa Membela Martabat Dance-Pop Melalui Future Nostalgia 

Tidak ada kutukan “Best New Artist” untuk sang calon ratu dansa

Dua Lipa – Future Nostalgia

Tanggal rilis: 27 Maret 2020
Genre: Dance Pop, Dance Rock, Nu Disco
Durasi: 37:17
Jumlah Lagu: 11 (Standard Version)
Label: Warner

Selalu ada sesuatu yang istimewa dari seorang Dua Lipa. Pertama-tama, Lipa berhasil menjadi simbol “girl power” sedari usia belia berkat bangers seperti “New Rules” dan “IDGAF”. Ketika lanskap musik dance semakin didominasi oleh DJ pria, kehadiran Dua Lipa menjadi angin segar yang lama dirindukan. Latar belakang Lipa yang sangat humble (Dua Lipa lahir dan besar di keluarga imigran Kosovo) menjadikannya sebagai sosok yang relatable dan jauh dari kesan hedonisme.

Selanjutnya, kolaborasi “Kiss and Make Up” dengan grup K-pop Blackpink menjadi kisah sukses pertama “East-meets-West” yang selanjutnya menginspirasi proyek serupa dari Halsey, Lil Nas X, dan BTS. Ketika Dua Lipa berkolaborasi dengan mega-DJ seperti Martin Garrix dan Calvin Harris, entah bagaimana caranya, selalu Lipa yang berhasil keluar sebagai bintang utamanya (“Scared to Be Lonely”, “One Kiss”). Apakah seluruh dunia ini sadar bahwa Dua Lipa baru menginjak usia 24 tahun?

Ketika Dua Lipa memenangkan Grammy Award untuk “Best New Artist”, lengkap sudah sertifikasi yang harus dimilikinya. Terlepas dari itu, Dua Lipa masih memiliki “star power” yang kalah benderang bila disandingkan dengan jebolan Inggris Raya seperti Adele, Harry Styles, dan Ed Sheeran. Bila harus menebak, hal ini dikarenakan sejak awal Dua Lipa memutuskan untuk mengeksplorasi genre dance-pop, genre yang sering dipandang sekedar permainan dan bukan keseriusan. Kapan terakhir kali lagu bergenre dance-pop memenangkan Grammy Award untuk “Song of the Year”?

Kini, Dua Lipa hendak memperjuangkan martabat musik dance-pop melalui album terbarunya, “Future Nostalgia”.

Ketika kita memasuki track pertama (“Future Nostalgia”), kita semua yang menjadi pendengarnya langsung mengetahui bahwa seisi album ini adalah pesta raksasa berdurasi 37 menit dan tidak ada yang tidak diundang. Euforia pun berlanjut ke track nomor dua “Don’t Start Now” musik disko kekinian yang seolah-olah terlahir dari album greatest hits-nya Kylie Minogue. Akan tetapi, yang menjadi perbedaan di sini adalah Lipa tidak berniat untuk memuja Kylie Minogue atau ratu dansa veteran seperti Madonna, Robyn, dan Sia. Urgensi dan hook “Don’t Start Now” yang sangat adiktif menyiratkan ambisi bahwa Lipa ingin bersanding dengan para ratu dansa tersebut.

Hanya ada satu cara untuk mematahkan kutukan “Best New Artist”, yakni dengan meninggalkan kulitnya sebagai “artis pendatang baru” untuk berevolusi menjadi “artis sejati”.

Good mood yang tercipta pun semakin dibakar Lipa dengan track seperti “Cool” (yang bereksperimen dengan elemen dubstep bercampur 80s keyboard) dan “Physical” (bayangkan jika Olivia Newton John merasuki tubuh Debbie Harry). Track nomor lima “Levitating” seolah-olah menjadi oase untuk music lovers yang merindukan era ketika Spice Girls, Steps, dan B*Witched sempat berjaya. Jelas sekali bahwa hati Lipa masih tersemat di dekade 90-an–and that’s not a bad thing, at all.

Sejauh ini, semua lima track di atas berpotensi menjadikan “Future Nostalgia” menjadi album ‘kaya single’ mengikuti jejak manis album Teenage Dream (Katy Perry, 2010) dan 1989 (Taylor Swift, 2014).

Memasuki paruh kedua “Future Nostalgia”, Lipa seolah-olah memutuskan untuk “back-to-basic” dan memilih aransemen yang lebih sederhana. “Pretty Please” seolah-olah menjadi bentuk khayal bagaimana jadinya jika Barry Gibb masih berkarya. “Hallucinate” agak sedikit membingungkan karena terlepas dari hook yang menggoda, keseluruhan produksinya mengingatkan pendengar dengan Madonna era “Confessions on a Dance Floor”. Sayangnya, “Hallucinate” membuktikan bahwa vokal Dua Lipa masih belum bisa menyamai karisma magis Sang Ratu Pop Abadi tersebut.

Meski track selanjutnya “Love Again” cenderung mudah dilupakan (dan most likely hanyalah filler track), Dua Lipa tampak kembali prima ketika memasuki “Break My Heart”. Hook yang kelewat catchy dan vokal Lipa yang dinamis menandakan potensi Lipa untuk suatu hari nanti berkecimpung di ranah musik house dan dance rock.

Terlepas dari kemajuan Dua Lipa yang sangat pesat, tetap saja masalah klasik masih menghadang: bagaimana cara menutup album dengan ‘ambyar’. Dua track terakhir (“Good in Bed”, “Boys Will Be Boys”) malah memamerkan kelemahan Dua Lipa yang masih belum bisa ditambalnya. “Good in Bed” membuktikan bahwa Lipa masih kesulitan memancarkan sexy attitude bak Rihanna atau Sade. “Boys Will Be Boys” membuktikan bahwa Dua Lipa masih adalah sang ‘cewek gaul’ yang tidak tahu bagaimana caranya membawakan ballad.

Pada akhirnya, satu-satunya yang paling berhak untuk berdansa adalah Dua Lipa. Future Nostalgia adalah kesuksesan yang luar biasa berkat satu faktor utama: insting Lipa dalam menggarap hook yang mahal. Yang lebih penting lagi, Dua Lipa selalu ingat akan alasan nomor satu mengapa kita sangat membutuhkan musik dalam hidup kita: sebagai penghiburan dan pelipur lara.

IN A NUTSHELL:

+ Future Nostalgia penuh dengan musik yang catchy sekaligus menggarisbawahi Dua Lipa sebagai penerus tradisi Britpop di era modern.
Dua Lipa masih belum sepenuhnya menguasai ballad. Selain itu, Future Nostalgia menawarkan emotional range yang cenderung terbatas.

TRACK PICKS:
“Future Nostalgia”, “Don’t Start Now”, “Levitating”

TENTANG PENULIS

Felix Martua adalah seorang novelis, penulis, dan kontributor lepas berbasis di Kota Bogor, Jawa Barat. Selain mengerjakan proyek fiksi, Felix Martua turut mengulas topik seputar musik, film, seri, buku, novel, pop culture, dan isu sosial-budaya. Felix Martua bisa dihubungi via Instagram @felixmartuaofficial atau dengan mengirimkan email ke felixmartuaofficial@gmail.com

 

Related posts

Leave a Reply