Trending News

Blog Post

SOUTHSIDE: Ketika Sam Hunt Menjadi Nicholas Sparks
NEW YORK, NEW YORK - DECEMBER 31: Sam Hunt performs during the Times Square New Year's Eve 2020 Celebration on December 31, 2019 in New York City. (Photo by Michael Stewart/WireImage,)
Album of The Day

SOUTHSIDE: Ketika Sam Hunt Menjadi Nicholas Sparks 

Album kedua Sam Hunt mengisahkan lelaki yang amat, sangat, terlalu jatuh cinta



Sam Hunt – SOUTHSIDE
Tanggal rilis: 3 April 2020 (Digital)
Genre: Country Pop, Country Rap, R&B
Durasi: 39:01
Jumlah Lagu: 12
Label: MCA Nashville
Produser: Zach Crowell, Luke Laird, Bryce Cain, Charlie Handsome

Belakangan ini, nyaris setiap artis country yang hendak bereksperimen dengan genre berbeda tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana.

Tidak sulit untuk menemukan satu-dua contohnya. Album terbaru Kelsea Ballerini (Kelsea), yang banyak bermain dengan genre pop dan R&B, langsung terjun bebas dari tangga Billboard US 200. Kolaborasi Morgan Wallen dengan Diplo (“Heartless”) belum berhasil mendongkrak sepuluh besar Billboard US Hot Country Songs. Hal yang sama terjadi juga dengan Kane Brown yang baru-baru ini berkolaborasi dengan John Legend (“Last Time I Say Sorry”). Alhasil, musik lintas genre country yang terbukti sukses (misalnya Maren Morris “The Bones”, Gabby Barrett “I Hope”) masih dianggap sebagai ‘pengecualian terhadap norma’.

Sejak awal music lovers tahu betul bahwa Sam Hunt bukan artis country tradisional. Terlepas dari single-single awalnya yang berhasil menjadi cross-over hits (“Take Your Time”, “Break Up in a Small Town”), Sam Hunt masih belum dipandang sebagai figur panutan di Nashville, Tennessee. Kala album debutnya dirilis (Montevallo, 2014), banyak yang masih memandang Sam Hunt sebagai lelaki pemberontak dengan visi yang belum jelas. Tidak ada yang bisa menjamin seperti apa album country Hunt selanjutnya. Bahkan, tidak ada yang bisa menjamin apakah Hunt akan konsisten dengan aliran country yang dipilihnya.

Enam tahun vakumnya Sam Hunt menjadi pertaruhan yang sesungguhnya mengerikan–apalagi bagi seorang artis yang baru merilis satu album. Akan tetapi, bila ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari album terbaru Hunt yang bertajuk SOUTHSIDE, itu adalah seorang artis sejati memang perlu menjalani hidupnya terlebih dahulu sebelum benar-benar berkarya. SOUTHSIDE sama sekali tidak terkesan layaknya album kedua yang diwajibkan label.

Konsep SOUTHSIDE sangat sederhana–bahwa Sam Hunt sedang jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Mungkin sulit untuk membayangkan bahwa album debutnya yang liar dan penuh pemberontakan malah dilanjutkan dengan album kedua yang “lovey-dovey” dan nyaris sakarin. Akan tetapi, memang itulah yang menjadi cerita dari 12 track yang mengisi SOUTHSIDE. Sam Hunt menjelma menjadi Nicholas Sparks dari tanah country (dengan sepersekian persen hip hop, R&B, dan rap).

Track nomor satu “2016” menjadi pembuka sekaligus keputusan yang berani. Ketika kebanyakan album di luar sana dibuka dengan up-tempo track yang menceriakan, “2016” justru merupakan balada menyayat hati mengenai bagaimana tahun 2016 adalah tahun terburuk dalam hidup Hunt. Bila kita menggunakan ungkapan ala orang Indonesia, “2016” adalah cara Hunt ‘membuang sial’ sebelum memulai lembaran baru.

Begitu track pembuka selesai, pendengar langsung disuguhkan dengan Hunt yang kini berbahagia hingga ke langit ketujuh. Hunt memuja belahan jiwanya hingga melampaui batas kewajaran (“Hard to Forget”, “Body Like A Back Road”). Hunt tidak sabar untuk memperkenalkan sang kekasih kepada semua teman sekampung halaman (“Kinfolks”). Seakan belum cukup ‘lebay’, Hunt juga mengumpamakan sang kekasih bagaikan dewi surgawi (“Sinning With You”). Siapa pun itu yang menjadi belahan jiwa Hunt, singkat kata: she’s a lucky girl, indeed.

Tentu saja, ada momen-momen ketika Sam Hunt menjadi budak cinta yang menderita atas nama belahan jiwa. Ada kalanya Hunt mengkhawatirkan sang kekasih (“That Ain’t Beautiful”), ada kalanya Hunt merasa hidupnya berakhir sudah (“Downtown’s Dead”, “Nothing Lasts Forever”), namun Hunt juga tahu bahwa cinta sejati patut diperjuangkan (“Drinkin’ Too Much”, yang juga merupakan lagu Hunt paling jujur dan paling rapuh yang mungkin pernah digarapnya).

Begitu pendengar mencapai akhir dari album SOUTHSIDE, rasa-rasanya bukanlah sesuatu yang berlebihan untuk menyatakan bahwa Sam Hunt adalah sosok lelaki yang dicari-cari Taylor Swift sepanjang kariernya.

Terlepas dari konsep album yang “oh so sweet” tersebut, SOUTHSIDE juga menjadi surga bagi produser yang menggarapnya. Sam Hunt masih gemar mencampuradukkan aliran country dengan elemen lain seperti rap (“That Ain’t Beautiful”, “Drinkin’ Too Much”), dubstep (“Nothing Lasts Forever”), dan bahkan ska (“Hard to Forget”). Akan tetapi, yang menjadi pembeda adalah eksekusi terhadap produksi musik yang lebih menyatu, tajam, dan harmonis. Acungan jempol patut diajukan kepada Hunt dan kuartet produser yang berhasil menyulap semua elemen asing tersebut menjadi amplifier bagi pesan dan emosi yang hendak disampaikan Hunt (dan bukannya malah menjadi distraction).

Vokal Hunt yang semakin matang juga berhasil meromantiskan bahkan lirik yang paling janggal. Mungkin hanya Hunt yang bisa menyanyikan lirik seperti “For lookin’ up the girl from LSU on Instagram”/ “With the drunk bridesmaids divin’ for the bouquet”/ dengan cara yang maskulin. Mungkin juga hanya Hunt yang bisa bernostalgia ke era 90-an tanpa kehilangan ke-‘macho’-an (“Breaking Up Was Easy in the 90s”).

Patut diakui, beberapa track di dalam SOUTHSIDE agak sedikit kurang menyatu dengan keseluruhan cerita yang hendak disampaikan Hunt (“Young Once”, “Let It Down”). Terlepas dari catchiness lagu “Breaking Up Was Easy in the 90s”, konsepnya yang cukup mirip dengan single terdahulu Hunt (“Break Up in a Small Town”) mengurangi poin orisinalitas. Terlepas dari itu, tidak usah khawatir. Bahkan jika pendengar tidak menggemari musik country, mereka pastinya akan tergila-gila dengan Sam Hunt.

IN A NUTSHELL:
+ SOUTHSIDE menjadi kandidat album paling romantis pada tahun 2020 ini. Lirik dan produksi nyaris sempurna untuk setiap track
– Ironisnya, mungkin SOUTHSIDE lebih sedap di telinga pendengar kaum Hawa daripada di telinga pendengar kaum Adam

TRACK PICKS:
“Body Like A Back Road”, “Nothing Lasts Forever”, “Drinkin’ Too Much”

TENTANG PENULIS

Felix Martua adalah seorang novelis, penulis, dan kontributor lepas berbasis di Kota Bogor, Jawa Barat. Selain mengerjakan proyek fiksi, Felix Martua turut mengulas topik seputar musik, film, seri, buku, novel, pop culture, dan isu sosial-budaya. Felix Martua bisa dihubungi via Instagram @felixmartuaofficial atau dengan mengirimkan email ke felixmartuaofficial@gmail.com

 

  

Related posts

Leave a Reply