Trending News

Blog Post

CreativeDisc Interview With Lay Zhang: Bicara Musik, Ambisi, EXO dan Fans Indonesia
Music News

CreativeDisc Interview With Lay Zhang: Bicara Musik, Ambisi, EXO dan Fans Indonesia 

Nama Lay Zhang mulai dikenal sejak debut bersama grup K-Pop EXO bentukan SM Entertainment di tahun 2012. Di awal debutnya, dia lebih dikenal dengan nama Lay, sementara nama aslinya adalah Zhang Yixing. Kini Lay yang tengah merintis karier internasional memilih menggunakan nama Lay Zhang.

Perjalanan yang amat panjang telah ditempuh Lay menuju titik kariernya yang sekarang. Memulai aktivitasnya di dunia hiburan Tiongkok sejak usia kanak-kanak, Lay digaet SM Entertainment dan debut sebagai member sub-unit EXO-M di tahun 2012. EXO-M adalah sub-unit EXO yang fokus beraktivitas di Tiongkok. Sementara grup saudaranya, EXO-K, memfokuskan aktivitas promosi mereka di Korea Selatan.

Bertahan kurang lebih tiga tahun, EXO-M dan EXO-K kemudian dilebur jadi satu di tahun 2015 saat perilisan album Love Me Right. Di tahun tersebut tiga member Tiongkok EXO lainnya mengundurkan diri dan hanya Lay yang tersisa. Kini Lay Zhang jadi satu-satunya member EXO asal Tiongkok, meski sejak perilisan album album musim dingin EXO yang bertajuk For Life di tahun 2016, dirinya vakum sementara dari grup.

Lay Zhang tidak mau berhenti hanya sebagai seorang member dari grup idola K-Pop yang populer. Dia terus berusaha melawan batasan-batasan yang mungkin ada dalam hidupnya dan menjalani ambisinya untuk menjadi seorang musisi. Lay mulai merilis lagu-lagu yang ditulis dan diproduserinya sendiri lewat serangkaian album-album solo seperti “Lose Control”, “Lay 02 Sheep”, “Namanana”, “Honey”, hingga yang terbaru, “Lit”.

Album “Lit” dirilis dalam dua bagian. Bagian 1 dirilis 1 Juli 2020 dan bagian 2 menyusul pada 21 Juli 2020. Lay yang mulai mandiri dalam bermusik menyertakan berbagai genre dalam lagu-lagu yang ditulisnya. Namun yang menurutnya paling penting dari album “Lit” adalah pesan yang ada di dalamnya.

“Semua orang tidak perlu takut untuk meraih mimpi-mimpi mereka,” kata Lay Zhang dalam sebuah wawancara dengan CreativeDisc belum lama ini. Dengan penuh keyakinan, Lay merasa perlu memberikan semangat buat semua orang yang kini tengah mengejar mimpi mereka. Satu tips yang bisa diberikan Lay adalah tidak menghiraukan kritik yang menjatuhkan.

“Abaikan kritik negatif dari orang lain dan teruslah bergerak ke arah tujuanmu. Semua orang bisa hidup di mimpi yang mereka inginkan,” katanya.

Makna album “Lit” tak hanya sekedar soal mengejar mimpi. Namun juga kepercayaan diri dan tegar dalam menghadapi setiap tantangan yang mungkin muncul dalam perjalanan mengejar mimpi tersebut. Untuk album Lit ini, Lay Zhang terinspirasi dari filosofi bunga lotus.

“Bunga lotus tumbuh dari lumpur lalu kemudian menjadi cantik. Hal ini sebagai pengingat untuk orang-orang bahwa mereka bisa jadi yang terbaik tidak peduli dari mana mereka berasal. Tentu sepanjang perjalanan untuk mengejar mimpi atau tujuan akan ada tantangan-tantangan dan kritikan, tapi mereka harus bangkit di atas semua itu dan menyadari bahwa mereka punya kekuatan untuk melangkah maju,” ujar Lay.

Menuju ke “Lit”, gaya bermusik Lay sejak merilis album solo pertamanya “Lose Control” terbilang cukup berkembang. Dia terus mencoba mengeksplorasi berbagai genre dan warna musik untuk ditampilkan dalam album-albumnya. Lay Zhang sendiri merasa kini dirinya jauh lebih berkembang sebagai produser musik dibanding saat awal-awal memulai karier solo.

“Lose Control” adalah album solo pertamanya yang berisi lagu-lagu yang lirik, musik, dan aransemennya dikerjakan langsung oleh Lay bersama timnya. Album ini kental dengan nuansa M-POP (Mandarin Pop), genre musik yang sudah akrab dengan dirinya sejak masih muda. Di sini Lay masih memperdengarkan suara-suara yang kalem, mellow, dan balada. Sementara kini musiknya jauh lebih dinamis.

“Dari “Lose Control” ke “Lit”, aku berkembang sebagai produser. Aku amat bersyukur bisa bekerja dengan produser-produser berbakat seperti Scott Storch dan Murda Beatz yang mengajari aku banyak hal. (Kini) musikku kurang fokus ke ballad dan lebih ke ritme dan beat yang kuat. Aku sudah bereksperimen dengan suara-suara baru dan ide-ide dari berbagai budaya. Contohnya, ‘BOOM’, dan terutama remix baru yang digarap R3HAB, yang sekarang sudah bisa didengarkan,” katanya.

Perpaduan antara banyak budaya pun dilakukan Lay lewat Namanana. Dengan basis musik M-POP, Lay memadukan berbagai suara berbeda, instrumen, dan bahasa dari berbagai belahan dunia dengan nuansa dan budaya Tiongkok.

“Aku ingin M-POP menjadi cara orang-orang di seluruh dunia tahu tentang budaya Tiongkok dan bakat yang orang-orang Tiongkok seperti aku miliki. Namanana memulai perjalanan besar ini. Aku menyebut album-albumku sebagai anakku karena mereka sangat berharga untukku dan “Namanana” adalah awal dari perjalanan panjang (meraih mimpi) ini. Konsep di belakang Namanana adalah tentang sebuah hutan belantara imajinatif tempat semua orang mengejar mimpi dan lari dari tekanan-tekanan hidup dengan mendengarkan musik,”

“Lalu di “Li”t, aku membawa M-POP ke titik yang lebih jauh lagi. Di album ini aku memadukan instrumen tradisional Tiongkok dan cerita-cerita tradisional dengan suara-suara modern seperti hip-hop, trap, pop, Latin, dan reggaeton,” terangnya.

Identitas budaya Tiongkok di ‘Lit’ semakin diperkuat dengan visual yang ditampilkan di video musiknya. Dibuat bernuansa kolosal sehingga tampak seperti film live action Mulan dengan puluhan prajurit berbaris di medan perang dan sosok naga raksasa. Visual yang ditampilkan dalam video klip ini terbilang jarang muncul di video-video EXO sebelumnya.

Lay Zhang mengemas video musik ‘Lit’ dalam konsep berlatarbelakang sejarah Dinasti Qing. Terinspirasi dari Jenderal Xiang Yu yang kisah hidup sang Jenderal dinilai Lay Zhang mirip dengan perjalanan kariernya sebagai musisi.

“MV ‘Lit’ terinspirasi oleh General Xiang Yu dalam sejarah Tiongkok, dia berhasil mengalahkan Dinasti Qing yang kuat tetapi gagal menguasai daratan Tiongkok kuno. Kisahku dengan Xiang Yu seperti terhubung ketika aku memikirkan soal karierku. Aku sedang berada di medan perang, berusaha meraih mimpi dan segala tujuanku,” curhatnya.

Lay memproduksi MV ‘Lit’ dalam skala yang besar karena tidak ingin pesan budaya yang disampaikannya menjadi melempem. Dia pun mendorong semua batasan-batasan yang pernah ada dalam produksi MV di manajemen yang menaunginya saat ini untuk menampilkan cerita yang lebih hidup. Lokasi yang dipilih pun amat khas budaya Tiongkok dan tidak ketinggalan para figuran yang tampil sebagai prajurit.

“Kami menampilkan lebih dari 100 figuran sebagai prajurit di medan perang!” katanya.

Yang membuat MV ‘Lit’ terasa sangat tradisional adalah kehadiran sosok naga raksasa di separuh MV-nya. Sosok naga yang menurut Lay punya peran yang sangat signifikan secara budaya.

“Aku sangat ingin menampilkan sosok naga karena kaitannya yang sangat erat dengan budaya Tiongkok. Tapi naga yang ditampilkan harus sangat realistis seperti dalam film bioskop. Aku percaya cara terbaik untuk menampilkan budaya Tiongkok dalam level terbaik adalah dengan mendorong batasan-batasan dalam produksi MV namun tetap fokus dalam cerita dan juga lagunya,” lanjut Lay.

Fans pasti setuju bahwa usaha Lay Zhang tersebut telah berhasil ditampilkan dalam visual yang apik di MV ‘Lit’.

Empat tahun berselang sejak Lay Zhang hiatus dari aktivitas bersama EXO. Tahun 2018 dia sempat ikut tampil di promo perilisan album “Don’t Mess Up My Tempo” dalam foto teaser dan adegan video musik, namun tidak berlanjut ke promosi album di acara musik dan konser “EXplOration” yang jadi konser terakhir EXO sebelum sang leader, Suho, menjalani wajib militer.

Meski jarang bisa menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya di EXO, Lay Zhang menyebut bahwa dirinya selalu mendapat dukungan dari para member EXO. Dukungan yang sama juga kerap ditunjukkan Lay dengan secara khusus mengantarkan para member yang berangkat wajib militer.

“Mereka adalah saudaraku! Mereka selalu mendukung proyek soloku. Aku juga selalu mendukung proyek mereka. Aku menyayangi mereka dan selalu ada buat mereka. Mareka akan selalu jadi bagian dari hidupku,” katanya.

Sebagai penutup, Lay Zhang tak lupa memberikan salam buat para penggemarnya di Indonesia.

“Jaga kesehatan kalian. Aku ingin semuanya sehat dan bahagia. Tetap semangat! Pandemi ini akan berakhir. Tetap percaya diri dan positif. Aku sangat ingin segera bertemu kalian langsung!” tutup Lay.

Related posts

Leave a Reply