Belakangan ini, terbukti bahwa lagu-lagu ‘berumur’ yang didaur ulang (alias “recycle”) oleh para artis kontemporer tidak hanya berpotensi mendulang kesuksesan, tetapi juga berpotensi menghembuskan nyawa baru di dekade yang baru ini. Sebut saja “Bahasa Kalbu” yang didaur ulang oleh Raisa, “Kala Cinta Menggoda” oleh NOAH, dan “Ruang Rindu” oleh Mawar de Jongh.
Kenyataannya, lagu-lagu tersebut memang memiliki kualitas yang sepatutnya hidup dan bernafas melampaui era ketika lagu-lagu ini pertama kali dipopulerkan. Berikut ini adalah rekomendasi album kompilasi yang mendaur ulang karya-karya generasi pendahulu sekaligus menambahkan warna orisinil yang lebih kontemporer.
Front-man Padi bernama lengkap Satriyo Yudi Wahono ini berkolaborasi bersama beberapa artis pendatang baru (pada kala itu) untuk mendaur ulang beberapa karya terbaik band legendaris asal Surabaya tersebut. Salah satu “recycle” yang paling berkesan adalah “Belum Terlambat” yang dibubuhkan dengan groove khas Sandy Sondoro.
Producer-songwriter yang telah melambungkan nama sejumlah artis rekaman sepanjang dua dekade plus ini menggarap kembali beberapa karya terbaiknya bersama artis-artis Gen Z seperti Feby Putri dan Novia Bachmid. “Aku Baik-Baik Saja” yang didaur ulang bersama Pasto melukiskan potret narasi yang berbeda untuk lagu yang aslinya dibawakan oleh wanita.
Persembahan bagi seni-wati kebanggaan Tanah Air Titiek Puspa ini menghadirkan sesama legenda seperti almarhum Chrisye, Iwan Fals, dan Kahitna. Terlepas dari itu, kesatuan ensemble seluruh kolaborator untuk “Marilah Kemari” berhasil mengusung semangat seorang Titiek Puspa yang telah menginjak usia kepala delapan (namun masih tidak letihnya berkarya).