Arctic Monkeys masih membuktikan bahwa mereka
adalah salah satu band terbaik untuk generasi musik saat ini. Yang terbaru,
Arctic Monkeys merilis album ketujuh “The Car” 21 Oktober.
Album ini cukup beda.
Ya, beda dari sisi musikal dan lirik, drummer
Arctic Monkeys, Matt Helders, sempat mengungkapkan lewat wawancara tahun 2018 bahwa
album baru Arctic Monkeys ini akan “mengambil sisi lain secara musikal”. Secara
implisit, mereka juga ingin keluar dari bayang-bayang ‘RU Mine?’ (2012) yang melejitkan
nama Arctic Monkeys.
Benar saja, album “The Car” jadi seperti dunia
yang jauh dari Arctic Monkeys. Hampir tidak ada lagu ala konser dengan drum dan
gitar yang sangar, atau reff yang sing-a-long. Justru album “The Car”
menampilkan palet sonik yang membuat segalanya lebih megah, penuh warna, dan
sinematik.
Beberapa lagu seperti ini malah dianggap
sebagai lagu terbaik mereka. Seperti single pertama ‘There’d Better Be a
Mirrorball’ yang merupakan kisah patah hati yang indah. Dengan vokal Turner yang
menceritakan hati-yang-berat, diiringi dengan musik yang memperkuat nada. Atau
lagu ‘Sculptures of Anything Goes’, dimana Arctic Monkeys bereksperimen dengan
mesin drum dan synth, sehingga seperti mendengarkan ‘Do I Wanna Know’
(2013) versi baru. Ini hampir membuktikan bahwa DNA band tetap sama, hanya
dengan pengemasan musik yang mengikuti jaman, dan jadi terdengar berbeda namun
tetap sama.
“The Car” seperti merefleksikan Arctic Monkeys
kedepannya. Dengan penggunaan ‘suara-baru-yang-mengerikan’, seperti jadi tekad
untuk mengisi dunia yang saat ini didominasi oleh musik elektronik. Mulai dari
lagu-lagu ‘Bid Ideas’, ‘Body Paint’, ‘Hello You’, ‘Perfect Sense’ dan lainnya
yang membawa perjalanan surealis, dan membuktikan kemampuan penulisan lagu
Turner yang tak tertandingi. Album ini jadi satu rekor mereka yang paling
berhasil dan mengesankan. Arctic Monkeys bukanlah ‘anak-baru’, namun dengan
kemampuan eksplorasi, membuat mereka selalu punya rasa yang baru.
Dengarkan album “The Car” berikut ini: