CreativeDisc Exclusive Interview With Laufey: Menyampaikan Perasaan Melalui Jazz Kepada Pendengar Seusianya

Oleh: luthfi - 09 Jun 2023

Ada alasan kuat kenapa penyanyi campuran Islandia dan Tiongkok Laufey Lín Jónsdóttir atau dikenal dengan nama Laufey (dibaca: ley-vey) menjadi ikon baru musik jazz kontemporer dan menjadi idola untuk remaja muda terutama di Indonesia. Tipe vokal Laufey memang sangat berkiblat kepada vocal jazz yang berat dan sulit dicerna namun musik yang ia sajikan merupakan hibrida antara acoustic, Bossa nova, R&B, indie pop bahkan sampai bedroom pop sehingga Laufey bisa dengan sangat leluasa masuk ke dalam skena musik pop dan mempunyai basis pendengar remaja yang sangat kuat terutama di Indonesia yang sangat menyukai musik jazz pop yang sendu dan menohok. Dengan cepat ia menjadi soundtrack untuk orang-orang yang mengalami jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan.


Fleksibilitas Laufey dalam menerjemahkan musik jazz sesuai dengan umurnya yang masih muda membuatnya menjadi anomali dan bintang baru dalam dunia jazz dan dibuktikan ketika ia tampil di hadapan 5000 orang di Java Jazz Festival 2023 kemarin yang menurutnya merupakan jumlah penonton terbanyak dari semua panggung yang pernah ia isi. Laufey tampil apa adanya dengan hanya bermodal gitar dan piano karena ada masalah kargo yang ia alami ketika melaksanakan tur untuk album perdananya yang membuat semua alat instrumen dan perlengkapan pribadinya masih tertinggal di Paris, meski demikian ia sukses membuat penggemarnya yang kebanyakan remaja atau muda mudi di bawah umur 30 tahun berteriak menggila dan menjadi bukti bahwa musik Laufey bisa menghipnotis para pendengarnya di Indonesia.

Sebelum ia tampil di panggung terbesarnya, Laufey menyempatkan diri untuk berbicara sejenak dengan CreativeDisc dan berbicara soal album perdananya “Everything I Know About Love”, serta berbagai topik tentang musik lainnya.


CreativeDisc (CD): Kamu baru merilis single terbaru “From The Start” bisa diceritakan lebih lanjut tentang lagu tersebut
Laufey (L): Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang jatuh cinta dengan seseorang yang menyukai orang lain dan perasaan gak enak ketika orang yang kamu suka ini malah menceritakan orang lain yang dia suka. Ketika kita mendengarkan cerita tersebut pasti ada perasaan yang gak enak kaya ada sesuatu yang ketahan di perut.


CD: Bisa diceritakan lebih rinci tentang album perdanamu “Everything I Know About Love” yang dirilis Agustus 2022 kemarin?
L: “Everything I Know About Love” berisikan koleksi lagu yang sudah aku tulis dari empat tahun lalu dan menceritakan tentang apa yang kutahu tentang cinta mulai dari hal baik sampai hal buruk. Aku mencampurkan banyak hal yang aku suka ke dalam album ini mulai dari musik klasik, pop, dan jazz. Perpaduan ini mungkin terdengar aneh untuk para remaja putri yang mendengarkan laguku.


CD: Album perdanamu terdengar sangat unik karena menggabungkan jazz, pop, acoustic, R&B di dalam satu album. Bagaimana kamu bisa menggabungkan semua jenis musik tersebut tanpa terdengar terlalu berlebihan?
L: Jujur aku juga merasa waswas ketika aku mencampurkan banyak jenis musik ke dalam albumku karena aku tidak mau terdengar terlalu terdengar tua seperti lagu “Valentine” dan aku juga tidak mau terdengar terlalu pop. Untungnya cara penulisanku dan suaraku ketika aku bernyanyi pas di tengah-tengah antara jazz dan pop jadi itu semua terjadi secara alami.  


CD: Jadi apakah kamu mengetahui tentang cinta sehabis mengerjakan album ini?
L: Ya gak juga dan semua orang pasti gak tahu tentang cinta itu seperti apa (tertawa). Kalau ada yang tahu orang itu pasti orang paling beruntung di dunia.


CD: Karir musikmu dimulai ketika di masa pandemi kamu banyak mengunggah video kamu menyanyikan lagumu sendiri dan lagu orang lain. Bisa diceritakan bagaimana situasi pandemi membuka jalan musikmu?
L: Pandemi merupakan masa yang paling berat bagi semua orang dan aku harus balik ke Islandia dari Berklee dan harus menjalani kuliah online. Tetapi buatku masa pandemi memberiku banyak waktu untuk mengerjakan musik untuk diriku sendiri. Pada waktu itu aku juga banyak membuat video dengan pikiran “orang-orang kayaknya lagi bosen deh pas pandemi, aku bikin video aja untuk mereka tonton”. Aku merasa bersyukur pada waktu itu dan memetik hasilnya sekarang yang menurutku terjadi dengan sangat cepat.


CD: Denger-denger kamu juga seorang swifties (julukan penggemar Taylor Swift), apa lagu Taylor Swift favoritmu?
L: Berat sih kalo menentukan judul lagu karena aku ga terlalu hafal banget. Lagu yang paling aku suka “Fearless” tapi kalau ditanya soal album yang paling kusuka aku jawab “Speak Now”.


CD: Menurutmu sendiri jazz itu seperti apa?
L: Menurutku jazz ada karena orang ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak terpaut dengan aturan.


CD: Kamu bisa menarik banyak pendengar muda di musik yang sebenarnya banyak didengarkan oleh orang tua dan mapan? Ada resep rahasia kenapa kamu bisa memikat banyak pendengar muda?
L: Aku tidak punya resep rahasia lain selain suaraku yang memang terdengar seperti suara perempuan muda karena berkat itu para pendengarku tidak merasa digurui dan bisa merasakan langsung apa yang aku ingin sampaikan lewat lagu. Lagipula orang muda kan tidak mau mendengarkan kata-kata dari musisi atau orang tua karena itu ga relate sama mereka dan memang sudah begitu adanya. Aku juga sangat beruntung hidup di era dimana tidak ada batasan akan jenis musik yang harus didengarkan oleh orang muda karena TikTok, jadi mau itu musik pop atau jazz selama orang tersebut merasa lagu yang ia dengarkan masuk ke dalam hatinya dan mempunyai kaitan erat dengan kisah hidupnya menurutku itu sudah sangat bagus. Aku tidak mau hidup di era yang berbeda karena aku sangat bangga menjadi perempuan dan penyanyi jazz perempuan berumur 24 tahun di era sekarang.


CD: Pernah kepikiran untuk membuat lagu dengan bantuan AI?
L: Aku pernah iseng menggunakan ChatGPT untuk menulis lirik dan membuat laguku. Aku memberikan masukan ke chat tersebut “Tolong buat lagu yang Laufey banget” dan hasilnya malah jelek banget karena kata-katanya jadi murahan dan aku geli sendiri melihatnya (tertawa).

 

luthfi
More from Creative Disc