Suguhan Drama Opera SEMI-STAGED DOUBLE BILL OPERA “CAVALLERIA RUSTICANA/PAGLIACCI” di Singapura

Oleh: wisnu - 29 Nov 2023

Image credit: Singapore Lyric Opera

Cinta sejati dan kebencian kadang hanya dibatasi oleh garis tipis. Itu rasanya yang ingin disampaikan sempurna oleh opera “Cavalleria Rusticana/Pagliacci” yang digelar di SOTA (School of the Arts) Theater Hall malam pada tanggal 23 & 24 November lalu.

Diboyong langsung dari Italia dan berkolaborasi dengan pemain dan penyanyi opera lokal Singapura; “Singapore Lyric & Opera”, dua opera ini merupakan drama dua babak dengan cerita terpisah namun memiliki konsep dan kedekatan cerita yang sama, yakni tragedi.

attachment

Opera pertama, Cavalleria Rusticana, (cerita ditulis di tahun 1890 oleh Giovanni Verga, musik oleh Pietro Mascagni) ber-setting pada hari Paskah di sebuah desa kecil Sisilia, dimana Turiddu, sang tokoh utama, sekembalinya dari tugas militer, menemukan Lola yang dicintainya telah menikah dengan Alfio. Dia menemukan pelipur lara dengan hadirnya Santuzza yang ternyata hanya memberi harapan palsu untuk menikah. Turridu berselingkuh dengan Lola dan menyingkirkan Santuzza. Santuzza kemudian menceritakan perselingkuhannya kepada Alfio.

Yang kedua, Pagliacci, ditulis oleh Ruggero Leoncavallo,1892. Tentang rombongan komedian keliling yang akan tampil di desa Calabria. Tepat sebelum pertunjukan drama komedi tersebut dimulai, Canio mengetahui bahwa istrinya, Nedda, yang keduanya adalah aktor dalam komedi tersebut, berselingkuh dengan seseorang dalam rombongan tersebut, dan dia sangat ingin mengetahui siapa orang tersebut. Dia memaksa dirinya untuk naik ke atas panggung. Disini batas antara teater dan kenyataan langsung runtuh, karena pertunjukan tersebut secara kebetulan juga bercerita tentang seorang istri yang selingkuh.

Dari kursi penonton yang seolah tanpa jarak, penonton benar-benar dapat merasakan emosi dari tiap-tiap karakternya. Penuh dengan nasib tragis, kesedihan dan kebencian mendalam, nafsu, cinta tak berbalas, kecemburuan, balas dendam, pisau dan darah, merupakan alur keseluruhan dari kedua drama opera ini.

attachment

Tokoh utama dalam kedua opera ini dibawakan sempurna tanpa cacat oleh penyanyi opera tenor José Heredia (sebagai Turiddu & Canio) dan Lisa Algozzini, sopranos Italia (berperan sebagai Santuzza & Nedda). Kedua aktor sekaligus penyanyi opera ini sudah tidak diragukan lagi kualitas-nya dengan berbagai awards dan penghargaan kelas dunia. 

Sementara dari penyanyi opera dan aktor Singapura; Martin Ng, Edward Kim, Li Yang bermain apik di antara sekitar 40-50an aktor/penyanyi opera lainnya yang tergabung dalam Singapore Lyric Opera (SLO). Singapore Lyric Opera itu sendiri adalah sebuah perusahaan teater tertua di Singapura yang mengkhususkan dirinya untuk opera-opera barat unggulan yang menampilkan artis internasional dan lokal yang jarang tampil di Asia-Pasifik, ditujukan untuk komunitas dari semua lapisan masyarakat di Singapura.

Sementara yang tak luput untuk diacungi dua jempol, orkestrasi musik dari Singapore Lyric Opera Chamber Orchestra dan Adult Chorus yang di-konduktori oleh Joshua Tan yang merupakan konduktor orkestra dari Singapore Symphony Orchestra dan Principal Conductor dari Singapore National Youth Orchestra.

Dengan nama-nama di belakang layar sehebat ini, tak perlu diragukan lagi kualitas dari pertunjukkan ini. Gelora khas musik & vokal opera yang membahana, akting setiap pemain dan applause tak habis-habisnya dari penonton seakan meruntuhkan SOTA Theater Hall malam itu. Hanya itulah ‘kekurangan’ dari opera ini. Andaikan saja digelar di hall yang lebih besar dan dekor yang lebih artistik, tentu akan lebih terasa sempurna.

 

wisnu
More from Creative Disc