Instagram: @achmadbaqas
CREATIVEDISC.COM - JAKARTA - Masih ingat sensasi viral 'Friday' yang mengguncang internet di tahun 2011? Rebecca Black gadis yang namanya mendadak melambung di usia 13 tahun itu kini telah bertransformasi menjadi musisi matang berusia 27 tahun yang akhirnya merangkul identitas artistiknya dengan penuh keyakinan.
Melalui mini album "Salvation" yang berisi tujuh lagu hyperpop berani, Black mengaku telah menemukan kebebasan kreatif yang selama ini dirindukannya.
Pada sore yang cerah di Los Angeles, Black tampak santai menikmati Diet Coke dan pastelitos di Cafe Tropical. Mengenakan denim gelap dan sepatu hak rendah, dia berbagi cerita tentang perjalanan panjangnya menemukan jati diri.
"Seperti ada sesuatu yang berontak ingin keluar dari dalam diriku selama bertahun-tahun," ungkapnya dengan mata berbinar. "Aku berkali-kali mencapai titik jenuh dan kehilangan arah. Tapi dengan 'Salvation', aku akhirnya berani menghadapi cermin dan melihat siapa diriku sebenarnya."
Viralitas 'Friday' yang tak terduga dengan 174 juta penayangan dan lebih dari 1 juta dislike menciptakan badai sempurna yang mengubah hidupnya. Dari target cyberbullying hingga ancaman kematian, Black kecil tumbuh menjadi pribadi yang penuh kecemasan.
"Aku selalu ingin diterima, tidak ingin menonjol terlalu jauh. Aku menekan diriku untuk menjadi versi Rebecca yang kupikir disukai orang," jelasnya sambil menggigit pastry Kuba kesukaannya.
Tekanan ini merembes ke segala aspek hidupnya. "Kadang aku membuat lagu dan setahun kemudian aku membencinya," akunya terbuka. "Aku mulai bertanya-tanya mengapa aku membenci semua orang, membenci diriku sendiri, dan selalu kecewa dengan keputusanku."
Single 'Trust!' yang dirilis Oktober lalu menjadi titik balik karier Black. Dengan ketukan tekno energik dan lirik yang berani mengeksplorasi seksualitas, lagu ini telah distreaming lebih dari 3 juta kali di Spotify. Dalam video musiknya, Black tampil mencolok di pengadilan wajah tertutup kasa, gelang kaki elektronik berkilauan, dan sepatu hak bening sebelum berdansa penuh keberanian di hadapan hakim.
"Aku sudah melepaskan gagasan bahwa aku harus sempurna dan selalu sopan agar disukai orang," tegasnya dengan kepercayaan diri yang tak pernah terlihat sebelumnya. "Semua batasan itu justru menghalangi diriku yang sebenarnya."
Black mengakui bahwa pergeseran lanskap musik pop telah membuka pintu lebih lebar untuk eksplorasi artistiknya. Kesuksesan Charli XCX dan Chappell Roan menunjukkan bahwa pendengar siap menerima suara-suara yang lebih eksperimental dan berani.
"Pop terbaik adalah yang paling jujur," ujarnya penuh semangat. "Bukan hanya lagu tentang berpesta di klub—yang tentu saja menyenangkan tapi ketika ada kedalaman emosi yang membuat orang terhubung, itu mengangkat sebuah lagu ke level yang jauh lebih tinggi."
Setelah perjalanan panjang dari meme internet menjadi bintang pop queer dan DJ Boiler Room, Rebecca Black kini berdiri tegak dengan identitas musik yang jelas. "Dulu aku selalu bertanya-tanya, 'Siapa sih aku sebenarnya? Bagaimana suaraku? Seperti apa seharusnya musikku?'" kenangnya. "Dan sekarang, semuanya terasa pas. Semuanya akhirnya masuk akal."