CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Ricky Lamar Hawk, rapper asal Atlanta yang dikenal dengan nama panggung Silento, resmi dijatuhi hukuman 30 tahun penjara setelah mengaku bersalah atas penembakan yang menewaskan sepupunya pada tahun 2021. Silento, yang sempat tenar lewat hit viral ‘Watch Me (Whip/Nae Nae)’ di tahun 2015, mengambil kesepakatan pembelaan (plea deal) tepat sebelum persidangan dijadwalkan dimulai minggu ini.
Dalam sidang yang dihelat pada Rabu, 11 Juni, rapper berusia 27 tahun tersebut mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan secara tidak sengaja (voluntary manslaughter), penyerangan berat (aggravated assault), kepemilikan senjata api, dan menyembunyikan kematian. Ia mengklaim bahwa dirinya tengah mengalami gangguan mental saat melakukan kejahatan tersebut. Dakwaan yang mulanya merupakan tuduhan pembunuhan berencana (malice murder) telah diturunkan, sementara jaksa negara bagian Georgia sepakat mencabut dakwaan pembunuhan berat lainnya.
Hakim Courtney Johnson dari Pengadilan Tinggi DeKalb County memvonis Silento dengan hukuman penjara 30 tahun. Ia akan mendapatkan pengurangan masa tahanan selama empat tahun yang telah dijalani sejak penangkapannya pada 2021.
Menurut jaksa, Silento menembak sepupunya yang berusia 34 tahun, Frederick Rooks, beberapa kali pada Februari 2021 sebelum melarikan diri. Dalam interogasi setelah penangkapan, Silento disebut mengakui telah membunuh Frederick Rooks. Selongsong peluru yang ditemukan di lokasi kejadian pun cocok dengan senjata api yang dibawa Silento saat ia ditangkap.
Saat ditangkap di tahun 2021, pihak perwakilan Silento menyatakan bahwa sang rapper mengalami gangguan mental yang cukup parah. Ia kemudian didiagnosis menderita gangguan bipolar berat selama berada dalam tahanan, berdasarkan dokumen pengadilan.
Berbicara kepada Billboard setelah vonis dijatuhkan, pengacara Silento, Keith Adams, mengatakan, “Untuk pertama kalinya sejak ditangkap, Ricky kini berada dalam kondisi mental yang stabil dan benar-benar memahami segala yang telah terjadi serta bagaimana ia sampai pada titik ini.”
“Dia telah bergulat dengan gangguan mental sejak usia 12 tahun, dan sangat disayangkan semuanya berakhir seperti ini. Kami percaya hasilnya sudah sesuai, dan kini fokus kami adalah pemulihan kesehatannya secara berkelanjutan,” lanjut Keith Adams.