Photo Credit: Henzy David (@iamhenzydavid)
CREATIVEDISC.COM – SINGAPURA – “Waktu kecil dulu, aku pernah ke Singapura bersama sekolah-ku dan langsung jatuh cinta sama negara ini. Aku masih ingat aromanya, humidity-nya, makanannya, dan kehangatan orang-orangnya. Saat itu aku ikut konferensi international school dan ketemu teman-teman sebaya, bikin pengalaman itu jadi makin spesial. Kenangan manis itu selalu aku simpan, jadi di tour With a Hammer terakhir ini, aku benar-benar ingin berbagi momen itu dengan Singapura secara lebih personal.” – Ujar Yaeji, musisi, DJ sekaligus pencipta lagu asal Korea, Amerika.
Saat Yaeji kembali ke Singapura untuk konser satu malam saja bersama Symmetry Entertainment di Capitol Theater, Senin 1 September lalu, rasa antusias dari Yaeji langsung terasa. Apalagi ini merupakan show-nya yang terakhir di Asia. Penampilannya di atas panggung bukan sekadar membawakan sebuah show; tapi lebih jadi momen pembuktian diri. Bukti bahwa sebuah lagu, sebuah ritme bisa jadi sebuah wadah, dan musik bisa sebagai alat untuk menyembuhkan.
Melalui lirik lirik lagu dwibahasa-nya mengenai ruang dan waktu,Yaeji menyuguhkan konsep-konsep perasaannya tentang kemarahan, keputus asa-an, dan kekecewaan terpendamnya yang ditujukan kepada dunia dan hidupnya. Namun dalam waktu bersamaan, bagaimana semua bisa membentuk rasa kebersamaan dalam komunitas bersama para fans-nya.
“Di kamarku, seringkali aku merasakan amarah yang begitu dalam, dan nggak tahu harus menyalurkannya ke mana dan bagaimana. Lalu aku bilang ke diri sendiri, ‘Aku harus bikin sesuatu. Aku harus menulis.’ Dari situlah muncul album ‘Hammer’, Hammer sebagai palu godam untuk dibawa keluar menghantam dunia.” Tukas Yaeji dalam pembukaan konsernya.
Yaeji membuka set dengan ‘Submerge FM’, sementara di layar belakang muncul visual matahari terbit berwarna pink merona, seakan-akan ia sedang memancar dari ufuk horizon.
Didominasi dengan nuansa hitam gelap dan cahaya panggung yang minimalis, sebagian besar musiknya kental dengan nuansa synth-pop dan electronic modern, namun terkadang sentuhan post-disco dan pengaruh musik dance seringkali terasa. Semua elemen itu berpadu dengan mulus, menghasilkan sajian musik banger—benar-benar cocok dengan gaya Yaeji. Beberapa lagu memang lebih downtempo, tapi tetap pas banget menjaga vibe lantai dansa, suasana konser malam itu terasa lebih mirip suasana klub daripada sebuah konser biasa. Meskipun panggung terasa jadi lebih kosong.
Tawatowel, gadis muda lokal Singapura membuka show dengan set dengan lagu-lagu bernuansa chill, menghangatkan suasana sebelum bintang utama naik panggung. Bersama dua musisi tambahan, ia tampil selama 30 menit, memanjakan penonton dengan vokal lembut, synth yang halus, dan kadang drum yang kuat. Visual video yang memikat juga jadi latar belakang penampilan mereka di panggung. Saat set dimulai, ruangan masih setengah kosong; namun ketika mereka selesai, venue mulai dipenuhi para Gen-Z dengan atribut hip-hop nya.
Lebih dari sekadar membawakan musik, Yaeji juga menghadirkan visual yang mendampingi tiap lagu, berpadu pas dengan dance yang kadang ia bawakan bersama dua dancer-nya. Dengan mulus ia memadukan bahasa Korea dan Inggris untuk membangun sebuah cerita. Tak heran konser ini terasa begitu hidup dan kreatif.
Image Yaeji memang jauh dari kesan seorang superstar bergaya glamorous seperti Dua Lipa, atau Olivia Rodrigo misallkan. Aksi panggungnya sendiri juga jauh dari kesan pretensius dan cenderung spontan. Yaeji seperti layaknya teman sekelas biasa yang doyan rave khas Gen-Z. Rambutnya hanya digelung simpel, kacamata bulat dengan frame tipis memberi kesan nerdie, Acapkali tertawa spontan lepas di wajahnya saat meliukkan badan kala menari, kadang hanya duduk lemas di kursi kantoran seolah penat dengan tugas sekolah yang bejibun, atau hanya sekedar menggerakkan pinggul dan sikunya mengikuti beat dengan gaya canggung namun lucu. Dari gayanya, terasa jelas kalau Yaeji memang nggak bisa jadi selain dirinya sendiri.
Tepat sebelum meninggalkan panggung, Yaeji berterima kasih kepada para fans di Singapura. Lalu menghilang ke kegelapan panggung seiring gema musiknya yang perlahan memudar. Konsernya berakhir tanpa kehilangan energi maupun emosi. Yaeji tampil sebagai dirinya seutuhnya, seolah melebur ke dalam lautan penonton, seperti yang ia ucapkan di awal konser; “I can see myself in you and yourself in me, and we’re all a part of one. Aku berharap bisa jadi cermin untuk kalian juga.”