Teks: Nanack
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – “Retrospektif” secara harfiah berarti meninjau kembali peristiwa, pengalaman, atau karya di masa lalu demi memahami, belajar, dan memperbaiki diri di masa depan. Kata itu pula yang dipilih Afgan sebagai tajuk untuk album ketujuhnya, yang dirilis pada 19 November 2025.
Dalam proses kreatifnya, Afgan bekerja sama dengan musisi-musisi berbakat seperti Petra Sihombing, Kamga Mohammed, Rendy Pandugo, Bilal Indrajaya, dan Iqbal Siregar. Petra memegang peran terbesar dalam produksi album, sementara dua lagu lainnya diproduseri oleh Gerald Situmorang dan Rendy Pandugo.
Berikut ini kupasan track by track dari album “Retrospektif”:
Sebelum album “Retrospektif” dirilis, Afgan terlebih dulu membuka era barunya lewat single ‘Kacamata’ pada 9 Oktober 2025. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang rela mengubah diri dan sudut pandangnya demi cinta, hanya untuk menyadari bahwa semua pengorbanan itu sia-sia karena ditujukan pada orang yang salah.
Mengusung metafora tentang pengkhianatan diri, perubahan identitas, dan kehilangan jati diri, ‘Kacamata’ tampil dengan melodi catchy dan hook yang kuat. Tak heran, hanya dalam sebulan lagu ini berhasil meraup 5 juta streams. Video musiknya digarap oleh Shadtoto Prasetio dengan visual bernuansa nostalgia minimalis ala 90-an yang diberi sentuhan modern. Afgan beradu akting dengan Yuki Kato dalam adegan permainan catur, yang menjadi simbol perjalanan cinta yang penuh langkah maju, mundur, bertahan, dan berkorban.
Tak menunggu lama setelah album rilis, Afgan kembali menghadirkan single kedua, ‘Sampai Jumpa,’ pada 26 November 2025. Lagu ini menggambarkan perpisahan dari sudut pandang hangat dan penuh harapan: keyakinan bahwa semesta kadang perlu memberi jarak agar dua orang dapat kembali bertemu dengan pemahaman yang lebih dalam.
Dengan lirik menyayat seperti “mungkin di lain bumi kita bisa abadi, semoga waktunya akan tiba, kita di sana, sampai jumpa,” lagu ini menjelma menjadi heartbreak anthem bernuansa pop retro yang mudah dicintai. Video musik ‘Sampai Jumpa’ dikemas sebagai short film berdurasi 6 menit, menampilkan dua fase kehidupan: masa sekolah yang manis dan jarak emosional ketika keduanya bertemu kembali saat dewasa. Afgan dipertemukan dengan Maudy Ayunda dalam visual yang menggugah nostalgia sekaligus rasa asing yang muncul seiring berjalannya waktu.
Album ini dibuka dengan intro enerjik dan lirik tajam: “secangkir kopi pagi ini, pahitnya tak menyakiti. sudah terbiasa disakiti bertubi-tubi.” Pembuka yang kuat ini terasa pas untuk memulai hari, entah sambil olahraga pagi, menikmati kopi, atau sekadar memulai aktivitas harian.
‘Sebentar’ merekam kegamangan akan firasat buruk yang terasa semakin nyata, namun tetap berpangku pada kepasrahan karena takdirlah yang menentukan. Berbeda dengan pembuka yang rancak, lagu ini hadir dengan tempo lebih pelan dan menenangkan.
Sebuah kisah amarah laki-laki yang disakiti, namun dikemas dalam melodi ceria. Pesannya tegas: ketika langkah sudah salah, tak ada ruang untuk menoleh ke belakang maka selesaikan dan pergilah dengan baik. Lagu ini memancarkan energi positif tanpa harus meratapi luka.
Bagi pencari love song anthem, lagu ini adalah pilihan yang tepat. Afgan menawarkan kisah jatuh cinta sederhana dalam balutan stripped version yang terdengar mewah. Refrain seperti “sulit kupercaya ini ada apa… tak ada rencana hari ini ku jatuh cinta” membuatnya mudah melekat.
Sebuah anthem kasmaran yang berangkat dari perjumpaan tak disengaja, namun justru memantik kembali memori manis dari masa lalu. Hangat, ringan, dan menyenangkan.
Afgan kembali mematahkan stigma bahwa lagu bernuansa diva tak cocok dibawakan penyanyi pria. Setelah sukses membawakan ulang “Mengertilah Kasih” milik Ruth Sahanaya di 2023 secara megah bersama Andi Rianto, kini ia menyentuh karya klasik Reza Artamevia, ‘Kepastian.’ Hasilnya? Elegan tanpa kesan memaksakan. Afgan membuktikan sekali lagi bahwa lagu melankolis perempuan dapat dinyanyikan pria tanpa harus dianggap feminin.
Satu-satunya lagu berbahasa Inggris dalam album ini, ditulis oleh Afgan, Kamga, dan Petra. Meski judulnya sama, ini bukan daur ulang lagu Katy Perry. Mengusung retro 70-an, lagu ini berkisah tentang kesadaran yang datang terlambat ketika kehilangan baru benar-benar terasa. Lirik “what you have done cannot be undone, I am the one that got away” menegaskan penyesalan yang tak bisa diputar ulang.
‘Peluk’ adalah potret kesepian di tengah hiruk-pikuk kesuksesan dan bias fatamorgana kehidupan publik figur. Kutipan seperti “dengan keberuntunganku, bila memang mereka benar, mengapa tak kurasakan bahagia?” terasa menohok. Bagi generasi MTV, konsep lagu ini mungkin mengingatkan pada “Lucky” milik Britney Spears. Namun ‘Peluk’ hadir sebagai penutup yang menenangkan bagi album ini, sebuah ruang untuk bernapas.
“Retrospektif” adalah cara Afgan menandai bab baru hidupnya, bukan dengan gebrakan, tetapi dengan kejujuran. Afgan tidak mencoba tampil sebagai sosok yang sudah selesai, ia justru hadir sebagai seseorang yang masih belajar, masih mencari, dan berani mengakui hal itu lewat musiknya.
Sepuluh lagunya merangkum proses tumbuh apa adanya. Proses yang tidak heroik, tidak dramatis, tetapi sangat manusiawi. Dalam keriuhan pop lokal yang sering sibuk mengejar trend, “Retrospektif” justru hadir sebagai pengingat bahwa kejujuran emosional masih punya tempat besar di musik Indonesia hari ini.
Dan mungkin di situlah kekuatan “Retrospektif”. Album ini tidak menawarkan pelarian, melainkan pemahaman. Ia tidak mengajak pendengarnya mundur ke masa lalu, melainkan menunjukkan bagaimana masa lalu bisa dirangkul tanpa harus diulang.
“Retrospektif” kini tersedia di semua platform digital, lengkap dengan rangkaian visualizer di YouTube. Ruang tambahan bagi pendengar yang ingin merasakan kejujuran itu lebih dalam.