CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Sebuah drama hukum tengah memanas di industri musik setelah penulis lagu berbakat Melvin Moore (OneInThe4Rest) mengajukan gugatan terhadap penyanyi Chlöe Bailey, Columbia Records, dan Parkwood Entertainment.
Gugatan yang diajukan pada 20 Februari 2025 ini menyoroti dugaan pelanggaran hak cipta, eksploitasi karya kreatif, penghargaan penulis lagu, royalti musik, dan kompensasi yang tidak dibayarkan terkait tiga lagu di album “Trouble In Paradise” (2024).
Menurut dokumen pengadilan yang diperiksa Variety, Moore mengklaim memiliki kontribusi signifikan dalam penciptaan lagu ‘Favorite,’ ‘Same Lingerie,’ dan ‘Might as Well.’ Penulis lagu nominasi Grammy ini menegaskan bahwa karyanya, yang mencakup lirik dan narasi personal yang mendalam, telah digunakan tanpa izin yang semestinya dan tanpa kompensasi yang sesuai.
“Lirik dan narasi dalam lagu-lagu tersebut berasal dari pengalaman pribadi dan momen-momen intim dalam kehidupan saya,” ungkap Moore melalui pernyataan hukumnya. Ia menekankan bahwa Bailey dan labelnya telah mengabaikan prosedur standar industri dengan tidak melakukan negosiasi yang transparan sebelum merilis lagu-lagu tersebut secara komersial.
Kredensial Moore di industri musik tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia telah menulis dan memproduksi hits untuk sederet artis papan atas, termasuk BTS, Drake, Kanye West, John Legend, Chris Brown, dan Usher. Pengalamannya yang luas membuat tuntutannya menjadi sorotan serius di kalangan industri musik.
Dalam surat perintah penghentian yang terpisah, tim hukum Moore menuntut pembayaran awal sebesar $10.000 dan penghentian segera penggunaan karya-karyanya. Mereka juga mengajukan proposal negosiasi yang mencakup royalti 2% per master recording serta pembagian hak penerbitan tambahan.
Lebih jauh lagi, mereka menuntut penghapusan lagu-lagu tersebut dari seluruh platform streaming musik dan media sosial hingga tercapai kesepakatan.
Gugatan ini membawa implikasi finansial yang signifikan, dengan tuntutan ganti rugi mencapai $150.000 per pelanggaran yang disengaja dan tambahan denda hukuman sebesar $5 juta per lagu. Hingga berita ini diturunkan, baik pihak Bailey maupun Columbia Records belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut.
Kasus ini menambah daftar panjang sengketa hak cipta di industri musik, sekaligus menyoroti pentingnya transparansi dan penghargaan yang layak terhadap kontribusi kreatif para penulis lagu di era digital ini.