Anggota Why Don’t We Kehilangan Hak Atas Nama Band Setelah Pertempuran Hukum Berkepanjangan

Oleh: Achmad Bagas - 01 Mar 2025

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Setelah pertarungan hukum yang melelahkan selama bertahun-tahun, kelima anggota Why Don’t We: Daniel Seavey, Zach Herron, Corbyn Besson, Jonah Marais, dan Jack Avery—harus merelakan nama band yang telah membesarkan nama mereka.

Pada Kamis malam, juri di Orlando mengeluarkan putusan yang mengharuskan kelima member (kecuali Daniel Seavey) ini membayar ganti rugi sebesar $1 (16.500) per orang kepada mantan perusahaan manajemen mereka, Signature Entertainment, akibat pelanggaran kontrak yang dilakukan.

Konsekuensi terberat dari keputusan ini adalah larangan bagi mereka untuk menggunakan nama “Why Don’t We” di masa depan, yang berarti akhir dari identitas grup yang telah mereka bangun sejak 2016.

“Akhirnya, mimpi buruk gugatan hukum ini berakhir, dan kami senang bisa meninggalkan ini semua dan melanjutkan karier solo kami,” demikian pernyataan bersama para anggota yang kini menandatangani diri mereka sebagai “Sebelumnya dikenal sebagai Why Don’t We.”

Menariknya, Daniel Seavey yang telah lepas dari kontrak setelah mengajukan kebangkrutan beberapa tahun lalu—juga ikut menandatangani pernyataan tersebut meskipun hadir hanya sebagai saksi dalam persidangan.

Putusan pengadilan ini juga melibatkan denda yang saling meniadakan: anggota band harus membayar $400.000 atau sekitar Rp6.600.000.000 kepada Signature terkait tuduhan pencemaran nama baik terhadap mantan manajer David Loeffler, sementara Signature juga didenda $400.000 atau sekitar Rp6.600.000.000 karena melanggar kewajiban fidusia.

Randy Phillips, manajer Seavey yang juga pendiri Signature dengan kepemilikan 30 persen saham, menerima pukulan terberat dengan diperintahkan membayar $3 juta atau sekitar Rp49.500.000.000 karena dinyatakan bersalah telah mengganggu hubungan bisnis secara melawan hukum. Menurut pengacara band, Howard King, putusan ini “pasti akan diajukan banding.”

“Band ini akan baik-baik saja. Mereka tidak akan mendapatkan kembali hak atas nama mereka, tetapi mereka akan baik-baik saja secara finansial,” ujar Phillips. “Saya menerima pukulan demi mereka, dan saya tidak menyesalinya. Artis muda harus sangat berhati-hati saat menandatangani kontrak di masa mendatang.”

Pertikaian hukum ini telah memaksa Why Don’t We vakum hampir tiga tahun lamanya. Konflik tersebut bahkan mencegah mereka menggelar tur untuk album terakhir mereka, “The Good Times and the Bad Ones.”

Kontribusi Daniel Seavey dalam produksi album tersebut menjadi salah satu pemicu perselisihan, ketika dia mengklaim bahwa kontribusinya tidak mendapatkan pengakuan dan kompensasi yang sepantasnya.

Para penggemar yang berharap band ini bisa kembali bersatu dengan identitas asli mereka harus menelan kekecewaan. Jika para anggota ingin tampil bersama lagi, mereka harus melakukannya sebagai individu dan hanya bisa menyebut diri mereka sebagai “mantan personel Why Don’t We.”

Sementara itu, Seavey akan menjadi anggota pertama yang merilis album solo berjudul “Second Wind” pada 7 Maret mendatang, setelah sebelumnya merilis EP dan beberapa single yang viral. Album tersebut akan terinspirasi oleh musik “awal 2000-an, pop-rock” dan akan berisi lagu-lagu seperti ‘Sleeping With the Lights On,’ ‘Sunny Isles,’ dan ‘Waves.’

Author

Achmad Bagas

More from Creativedisc