CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Kim Petras baru saja meluncurkan lagu terbaru bertajuk ‘Jeep’ pada 6 Mei 2026. Lagu tersebut akan masuk ke album studio ketiganya, “Detour”, yang dijadwalkan meluncur tahun ini. Dalam pengerjaannya, Kim Petras menulis lagu bersama Eric Cross, Nick Weiss, dan Aaron Maine, sementara proses produksi ditangani oleh sang penyanyi sendiri bersama Eric Cross, Porches, dan Nightfeelings. Video musiknya disutradarai oleh Leonie Miller-Aichholz dan mengambil latar pedesaan di France, dengan Porches tampil sebagai kekasih Kim Petras dalam klip tersebut.
Penyanyi asal Jerman yang berbasis di Los Angeles ini pun mengungkap bahwa ‘Jeep’ memiliki cerita yang sangat personal di balik proses pembuatannya. Lagu itu lahir di tengah situasi tak terduga saat ia dan tim harus dievakuasi akibat kebakaran hutan di Los Angeles. Setelah meninggalkan sesi rekaman dengan cepat, mereka melanjutkan proses kreatif di gurun pada malam harinya hingga lagu tersebut tercipta. Inspirasi lainnya datang dari pengalaman masa kecil Kim Petras di Jerman, tempat kata ‘Jeep’ digunakan secara umum untuk menyebut berbagai jenis truk. Ia sempat mengalami kesalahpahaman lucu saat memuji kendaraan seseorang dan menyebutnya ‘Jeep’, yang justru membuat pemiliknya tersinggung karena kendaraan itu bukan merek Jeep asli. Pengalaman sederhana itu kemudian berkembang menjadi lagu cinta yang juga merefleksikan perasaannya sebagai seseorang yang tumbuh besar di Jerman dan kerap merasa memiliki sudut pandang berbeda ketika tinggal di Amerika Serikat.
Tahun ini, Kim Petras juga memulai babak baru dalam kariernya setelah berpisah dengan Republic Records dan memilih merilis album ketiganya secara independen. Sebelum “Jeep”, ia telah lebih dulu memperkenalkan beberapa lagu lain dari album “Detour” seperti “Polo”, “Freak It”, “I Like Ur Look”, dan “Need For Speed”. Kim menyebut proyek kali ini terasa jauh lebih membebaskan karena untuk pertama kalinya ia memiliki kendali kreatif penuh atas musiknya. Ia juga merasa proses kreatifnya berkembang setelah bekerja bersama para trans woman, yang menurutnya memberinya pemahaman lebih kuat mengenai arah suara dan identitas musik yang ingin ia bangun.