CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –Popularitas dari band post-punk asal Irlandia, Fontaines D.C. mencapai puncak tertingginya sejauh ini lewat album keempat mereka “Romance”. Kunci kesuksesan dari “Romance” adalah mereka tidak lagi mengekang dirinya dengan nada-nada post-punk yang kaku dan menceritakan hal di Irlandia dan sekitarnya. Referensi dari berbagai jenis musik dan tempat seperti hip hop, jangle pop, new wave, anime “Akira”, dan berbagai film Eropa membuat album “Romance” mempunyai banyak warna meskipun dari segi tema mereka ingin membuat sesuatu yang muram di dunia distopia.
Melalui “Romance”, menyukai Fontaines D.C. serasa seperti menyukai sesuatu yang terang dan hitam dalam waktu bersamaan, gotik tapi juga menyenangkan. Terbukti dari banyaknya orang yang memakai jersey Fontaines D.C. di berbagai macam event musik, tanda eksplorasi mereka berhasil menggaet pendengar baru.
Sebuah langkah yang wajar jika mereka ingin membuat “Romance” bagian kedua dengan formula musik yang hampir sama. Namun, mereka pergi meninggalkan dunia analog yang mendominasi album “Romance” dan pergi ke dunia baru yang lebih gelap dan penuh dengan gaungan elektronik serta minimnya instrumen organik di album terbaru mereka “Dopamine Chamber”.
Mendengarkan lagu pembukanya yang bernuansa darkwave ‘Six Shot Morning’ memberikan gambaran tentang dunia baru Fontaines D.C.. Dentuman synth yang keras dan menderu-deru mengiringi cerita tentang keputusasaan seseorang dengan masyarakat modern yang diperparah oleh media sosial.
Pengalaman darkwave itu terus berlanjut di ‘Marianne’ yang bercerita tentang eskapisme dengan nuansa yang lebih sinematis. Meskipun bernuansa sangat dreamy dan gelap, namun mereka masih pintar menyelipkan nuansa antemik ala arena rock di bagain reff lagu seolah mereka sedikit menyelipkan akar bermusik mereka.
‘Mimesis’ bermain layaknya sebuah lagu dari band yang beralih dari musik post-punk ke new wave di era 80’an. ‘Tongue’ terasa seperti lanjutan dari ‘Starbuster’ dengan nuansa musik yang hampir sama minus Grian yang tidak nge-rap dan ‘Intimate’ terasa seperti mereka memainkan musik dubstep versi mereka sendiri.
Selain memajukan nuansa yang lebih elektrik, di album ini mereka jauh lebih ambisius yang dilambangkan oleh menebalnya sound yang ada di album ini seperti di ‘Demolition’, kolaborasi beauty and the beast bersama Rosalia dengan nuansa baroque pop di lagu ‘Where Is Gone?’ dan ‘You Miss Me’ yang merupakan lagu dengan britpop dengan steroid.
Meskipun mereka menukar jiwa tradisional mereka dengan jiwa elektronik yang lebih menderu-deru, mereka masih menyimpan lagu dengan nuansa rock yang kuat seolah seperti meninggalkan artefak lama di dunia mereka tempati sebelumnya dengan memainkan indie rock dengan nuansa grunge di ‘Happy For You’ serta ‘Japan’ yang bernuansa pop rock dengan dominasi gitar akustik.
Pada album keenam mereka, Fontaines D.C. meninggalkan format musik yang selama ini mereka usung, dan beralih ke nuansa elektronik eksperimental dan bunyi-bunyian sintesis demi menyampaikan kisah yang jauh lebih dalam dan kelam dengan cara yang ambisius serta begitu mengiris hati. Dominasi cerita yang menyakitkan dan mengeksplorasi sudut hitam dari perasaan yang putih menjadi sesuatu yang cocok menggambarkan “Dopamine Chamber”. Sound yang lebih tebal dibandingkan karya mereka sebelumnya bagaikan sebuah stimulus demi bisa mengawinkan musik dan lirik yang ada di dalam album ini menjadi sebuah hal yang paripurna dan berbeda dari karya mereka sebelumnya.
Lewat album ini, Fontaines D.C. berhasil menjadi seekor bunglon untuk kedua kalinya setelah mereka merombak sound mereka secara total di “Romance” dan membuktikan bahwa mereka tidak berhenti-hentinya untuk mencari sesuatu yang baru demi bisa menyampaikan perasaan yang tidak mungkin disampaikan secara maksimal jika mereka memakai sound mereka yang lama.