Quantcast

Album of the Day: Blur – The Magic Whip

By - 4 years ago in Album of The Day

Released by: Warner Music Indonesia

Sebuah fenomena terjadi di kalangan anak muda pada pertengahan 90’an. Fenomena tersebut membuat semua anak muda berambut poni ala Liam Gallagher dan wajib menyanyikan lagu seperti “Wonderwall” dan “Country House” ketika ingin mengikuti audisi band untuk bisa tampil di pentas seni, fenomena itu bernama britpop. Jenis musik yang merupakan jawaban Britania Raya atas grunge yang membuat cemas para petinggi kebudayaan di sana karena dapat membuat kultur musik mereka terhapus oleh kultur musik Amerika Serikat. Jenis musik ini mengorbitkan dua band yang akan menjadi ikon britpop dan terus diingat sampai sekarang yaitu Oasis dan Blur. Beberapa tahun setelahnya, britpop pun hanya tinggal nama dan Oasis sudah membubarkan diri akibat minim eksplorasi dan inovasi sehingga dari album ke album sound mereka terdengar sama. Lalu bagaimana dengan Blur? Band ini mengambil langkah besar dengan inovasi yang mereka lakukan dalam album “Blur” pada tahun 1997 dan sukses melepas baju britpop yang sudah mulai usang dan memakai baju baru bernama experimental alternative rock. Mereka terus berinovasi dengan melakukan sesuatu yang baru dalam album berikutnya seperti “13” yang mencoba menaikkan amplifier sehingga banyak noise yang dihasilkan dengan campuran musik electro-experimental dan “Think Tank” yang direkam di Afrika sehingga lagu pada album ini terasa seperti nyanyian padang pasir modern, album ini membuat hidup dan jalan musik Damon Albarn berubah selamanya. “Think Tank” menemui masalah ketika Graham Coxon masuk ke dalam sesi rekaman album ini setelah menjalani rehabilitasi dari kecanduan alkohol, akibatnya hubungan antar band semakin renggang dan Coxon memutuskan untuk keluar dari band pada tahun 2002. Untungnya hal tersebut hanya berlangsung selama tujuh tahun karena pada tahun 2009 mereka mengadakan konser reuni di Hyde Park dengan memanggil Coxon kembali ke Blur.

Meski mereka telah melakukan konser reuni, merilis beberapa single baru dan juga merilis album live mereka tak ada niatan untuk merekam album baru, tidak sampai mereka terdampar di Hong Kong karena konser mereka di Jepang dibatalkan. Lima hari tambahan di Hong Kong digunakan oleh mereka untuk berbaur dengan warga lokal seperti berkeliling dari kota ke kota dan mencoba transportasi umum juga jamming di studio untuk melawan rasa bosan. Berbekal pengalaman dari Asia Timur dan sesi jamming ala kadarnya akhirnya mereka merilis album setelah dua belas tahun dunia musik menunggu materi baru mereka dan diberi titel “The Magic Whip”.

Setelah Blur berkelana ke benua Afrika pada “Think Tank” dan menceritakan apa yang terjadi di Afrika, dalam “The Magic Whip” mereka mengunjungi negara di Asia Timur seperti Cina dan Hong Kong dan menceritakan pengalamannya layaknya seorang turis yang kaget akan banyaknya jumlah penduduk di sana dalam lagu “There Are Too Many of Us” dengan gaya musik marching dan sarat akan beat military. Pada “I Broadcast”, mereka seolah melakukan reportase dari kota di benua Asia Timur yang mempunyai jumlah penduduk yang banyak juga mempunyai industri dan pabrik di sana-sini. “Pyongyang” merupakan tembang mellow yang bercerita tentang Korea Utara dan isolasi negara tersebut terhadap dunia luar, lagu ini mempunyai benang merah yang sama pada lagu “Thought I Was A Spaceman” yang sama-sama menceritakan bagaimana rasanya sendiri dan terasingkan dari dunia sosial. Elegi terhadap kehidupan kota yang sama statisnya seperti kedipan neon box di malam hari diceritakan pada “New World Towers”. “Ong Ong” seperti sebuah surat cinta kepada sang kekasih yang berisi tentang rencana mereka untuk kabur dari kehidupan industrialis yang membosankan dan mencoba menghirup udara segar laut.

Manuver yang dilakukan mereka pada album ini adalah mencomot nuansa, sound dan suasana dari album mereka sebelumnya juga proyek solo Damon Albarn dan Graham Coxon contohnya “Lonesome Street” yang menjadi pembuka album seolah menjadi ucapan selamat datang kembali dari mereka kepada para pendengar yang masih menganggap Blur adalah band britpop dengan mengembalikan sound britpop pada album “Modern Life is Rubbish”. “Ong Ong” adalah lagu peralihan dari album “Parklife” menuju “The Great Escape”. Melankolia britpop diusung dalam “Mirrorball”, “I Broadcast” adalah “Popscene” namun dalam versi yang lebih dewasa. “Go Out” adalah perpaduan musik lo-fi yang disajikan dalam album “Blur” dan kebisingan electro dari album “13”. “My Terracota Heart” adalah sebuah track yang mempunyai nafas yang sama dengan album “Think Tank”. “Ice Cream Man” mempunyai beat seperti track Gorillaz dengan sound yang lebih akustik dan stripped-down.

Tidak semua track di album ini adalah track yang terkesan celebrating their past, banyak nuansa baru yang bermunculan dalam album ini seperti “New World Towers” yang bermain-main dengan trip hop. As spacy as it’s track, “Thought I Was A Spaceman” adalah lagu yang dipengaruhi oleh ambient , afrobeat dan space rock untuk menciptakan atmosfir space, dan mungkin jika Pink Floyd masih ada mereka akan membuat track seperti ini untuk tetap relevan di dunia musik modern tanpa kehilangan rasa Pink Floyd. “Ghost Ship” adalah senyawa antara musik soul dengan liukan nada-nada jazz serta estetika era akhir britpop seperti yang sudah Suede tunjukkan dalam “She’s In Fashion”.

Damon Albarn, Dave Rowntree, Graham Coxon dan Alex James mengolah album kedelapan mereka dengan kesendirian, pengisolasian, alienasi, pelarian hidup dan masalah kota dengan mengambil contoh tepat yaitu Hong Kong yang menjadi kota terpadat dengan segala problematika masyarakat urban di sana dan mereka berhasil mengolahnya dengan sangat baik. Tema yang kuat dibarengi dengan musik dan sound terbaik dari karya mereka sebelumnya menjadikan The Magic Whip merupakan sajian spesial di tahun ini. The Magic Whip tidak seperti album comeback lainnya yang terkesan apa adanya dan memainkan sound lama mereka dengan harapan album mereka dibeli oleh para pecinta lama mereka, album ini bukan sekedar album comeback biasa tapi album ini seolah menegaskan bahwa Blur adalah band yang bisa bersenang-senang dengan nada unik mereka tanpa perlu kehilangan pendengarnya, buktinya album ini menjadi album yang ditunggu-tunggu sepanjang 2015. Kesan dadakan dan apa adanya saat mengerjakan album ini membuat The Magic Whip menjadi begitu raw, album ini sama seperti sushi meskipun album ini terbilang raw dari segi suara dan atmosfir tetapi album ini siap dihidangkan dan mempunyai rasa yang enak dan unik. The Magic Whip merupakan suatu pembuktian Blur dalam servisnya melayani pendengar 27 tahun terakhir sebagai band yang tidak lekang oleh waktu karena materi di album ini adalah materi yang mempunyai durability against time. Lewat album ini Blur memperkuat kedudukannya sebagai band yang albumnya teruji oleh waktu meskipun skema musik silih berganti, sebuah hal yang tidak bisa dilakukan oleh band seangkatannya yang sama-sama mengusung britpop


Official Website

TRACKLIST
1. “Lonesome Street” 4:23
2. “New World Towers” 4:02
3. “Go Out” 4:40
4. “Ice Cream Man” 3:23
5. “Thought I Was a Spaceman” 6:16
6. “I Broadcast” 2:52
7. “My Terracotta Heart” 4:05
8. “There Are Too Many of Us” 4:26
9. “Ghost Ship” 4:59
10. “Pyongyang” 5:38
11. “Ong Ong” 3:06
12. “Mirrorball” 3:37

Lahir bersama Britpop, besar bersama Evangelion dan pop kultur

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | July 22, 2019 By

Bersatu Dalam Alunan Santuy dari Alvvays di We The Fest 2019

Reviews | July 21, 2019 By

Travis Mengingatkan Memori Penontonnya di We The Fest 2019

Concerts Review | July 3, 2019 By

Alexandros Gila-Gilaan Bersama di Jakarta