10 Video Musik The US Version

Video musik merupakan salah satu media pengenalan, promosi atas single yang dikeluarkan oleh para artis rekaman. Untuk membuat sebuah video musik, bukan hanya menuntut kreativitas yang akan merepresentasikan lirik lagu dengan tepat ke dalam bentuk visual, tapi juga masalah pendanaan. Tapi untuk hal ihwal khusus, seperti ekstensifikasi karir ke tanah Amerika contohnya, artis-artis berikut rela dua kali syuting dengan tema dan konsep video yang berbeda. 10 terpilih yang masuk dalam daftar The US Version ini tak hanya akan membawa memori, tapi juga membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Ellie Goulding – Starry Eyed (2011)

Untuk mendebut karirnya di Amerika, Ellie Goulding yang didukung oleh Interscope merilis ‘Starry Eyed’ setahun setelah rilisan pertama kali di UK. Videonya bertemakan outdoor, dimana Ellie tengah menikmati padang rumput hijau dengan sang kekasih. Dari matahari terik hingga malam menjelang dan serangan bintang pun mendera Ellie dan kekasihnya, video versi ini disebut-sebut oleh para pengguna YouTube sebagai versi “high budget”. Selain itu, versi ini juga menampilkan product placement untuk headphone-nya Dr.Dre dan mobil Mini Cooper. Di versi pertamanya, video ‘Starry Eyed‘ ini bertemakan indoor, dimana Ellie bernyanyi dengan berlatarkan para penari akrobatik. Lebih pilih mana, indoor atau outdoor?


Five – When The Lights Go Out (1998)

Bagi boyband yang dibentuk oleh tim yang memanajeri girlband Spice Girls ini, invasi ke Amerika dilaksanakan dalam tahun yang sama. Single yang mereka pilih adalah ‘When The Lights Go Out’, yang sebenarnya adalah single kedua dari debut album mereka, “5ive”. Dalam video versi Amerikanya, Five menguasai arena permainan bowling, setelah lampu dimatikan. Duh?! When the lights go out. Video ini lebih playful jika dibandingkan dengan video pertamanya yang lebih melibatkan teknologi. Di video canggih ini ada seorang wanita yang duduk di depan layar dan mengatur tampilan gambar yang ingin ia tonton, siapakah di antara lima pemuda UK tersebut yang ia hendak lihat, apakah semuanya ia inginkan beraksi. Selain perbedaan konsep video, untuk versi Amerika pun dilakukan remix terhadap single-nya. Pengorbanan mereka yang sedemikian menghasilkan posisi Top 10 bagi single ini di chart Billboard Hot 100.


Craig David – Walking Away (2002)

Jarak waktu yang diambil oleh Craig David untuk merilis “Walking Away” di Amerika cukup lama, sekitar 2 tahun dari rilis pertama kali. Kita yang di Indonesia, sudah akrab dengan Craig dan lagunya ini sejak tahun 2000, dengan video musik yang memperlihatkan Craig menghindar dari sang kekasih yang terus-meneurs mencercanya dengan perkataan. Pengalaman ini dimulai dengan keluarnya Craig dari mobilnya yang terhenti di tengah kemacetan, menuju sebuah swalayan, danau, hingga kembali ke jalanan perkotaan lagi. Video ‘Walking Away’ versi US-nya menampilkan interaksi yang lebih banyak dari Craig, melibatkan elemen air yang membanjiri apartemen yang ia tinggali, elemen api yang membara di mobil yang ia kendarai, hingga korsleting listrik yang melanda gedung yang ia kunjungi. Video ini menggantung, saat kereta api yang Craig tumpangi berjalan di jalurnya menuju angin puting beliung. Lihat deh perbedaan style antara kedua video tersebut, dimana Craig tampak jauh lebih “matang” di versi US.


Atomic Kitten – Whole Again (2001)

‘Whole Again’ ini merupakan momentum penting salah sejarah pergantian member Atomic Kitten. Awalnya, lagu ini direkam dengan vokal Kerry Katona, namun saat diperkenalkan sebagai sebuah single, lagu ini diubah dengan menggunakan vokal Jenny Frost. Karena antusiasme masyarakat di UK terhadap single ini, terbukti dengan tercatatnya ‘Whole Again’ sebagai salah satu single girlband terlaris disana -di bawah ‘Wannabe’ dan ‘2 Become 1’ oleh Spice Girls, dan ‘Never Ever’ oleh All Saints-, maka single ini dimanfaatkan sebagai single untuk meluncurkan karir Atomic Kitten di US. Dalam video musik versi US-nya, Tash, Liz, dan Jen berjalan-jalan di kota Los Angeles untuk mengumpulkan massa. Keramaian ini berbantik terbalik dengan video pertamanya yang hanya menampilkan ketiga gadis manis tersebut dalam dengan background putih. Usut punya usut, Kerry sudah sempat syuting untuk video musik tersebut, sehingga terkait dengan pengunduran dirinya, syuting ulang pun harus dilakukan.


Westlife – Swear It Again (2000)

Kalau dulu teknologi sudah secanggih sekarang, perkara perbedaan teritori bukan masalah, sehingga memungkinkan bagi siapa saja, dimana saja untuk dapat menyaksikan apa saja yang diinginkan. Seperti video musik untuk single perdana Westlife ini contohnya. Kita yang di Indonesia pasti masih asing dengan versi dimana kelima anggota Westlife bekerja di sebuah jasa pencucian mobil, dengan pelanggan cewek-cewek yang berdansa-dansi seolah berada dalam video musik Britney Spears. Kita lebih akrab dengan versi yang menempatkan Westlife di dalam sebuah teater, di tengah-tengah latihan untuk penampilan mereka.

Leona Lewis – Bleeding Love (2007)

Pendanaan sepertinya bukan isu untuk video musik ‘Bleeding love’ milik Leona Lewis ini. Soalnya, di versi awalnya aja, ia sudah menggunakan gaun kristal Dolce & Gabbana, membanjiri dan membakar-bakar di gedung apartemen yang ditinggalinya. Yang masalah dengan video ini adalah kisah cinta berdarahnya hanya mewakili para model yang tampil disana, bukan ke Leona secara langsung. Oleh karena itu, dalam video musik versi US, Leona adalah bintangnya. Dimana ia mengalami dilema percintaan di kota New York yang gemerlap, nelangsa di antara hirup pikuk kota, hingga akhirnya menyerah pada kegalauan saat tak lagi bersama orang yang ia cintai.


Daniel Bedingfield – Gotta Get Thru This (2002)

Meskipun tak serumit kisah gonta-ganti vokal dan syuting video seperti Atomic Kitten di atas, Daniel Bedingfield setidaknya menjalani perombakan untuk single debutnya ini, ‘Gotta Get Thru This’. Di versi awalnya, saat direkam dengan Relentless Records, versinya masih kurang produksi dibandingkan dengan versi yang direkam di bawah label Polydor. Jikalau kita merasa bahwa ‘If You’re Not The One’ adalah single kebesaran bagi sang artis, tapi tidak bagi publik di Amerika. Mereka lebih mengapresiasi single yang satu ini, terbukti dengan posisi 10 di chart Billboard yang berhasil diraih, berikut nominasi di ajang Grammy untuk karya yang sama. Daniel yang kejar-kejaran dengan sang pacar di sejumlah lokasi di kota London adalah konsep dari video pertama untuk single ini, dimana berakhir dengan bahagia karena mereka akhirnya bertemu di salah satu pemberhentian kereta cepat. Sementara di versi US-nya, video dimulai dengan Daniel membawakan lagu ini secara akustik, dilanjutkan dengan kehebohan musik dance yang mengubah tampilan gambar di video dengan kehebohan yang sederajat.


All Saints – Never Ever (1998)

Kita sudah sedikit menyinggung mengenai ‘Never Ever’ ini sebagai salah satu single dengan penjualan terbaik oleh girlband di UK. Selanjutnya, All Saints pun menggunakan prestasi tersebut untuk memicu karir mereka di US. Konsep yang dipakai pun berbeda total. Video musik versi US lebih memanjakan penonton dengan aksi efek visual kelas atas. Mulai dari permainan api, cahaya, efek angin, dan lain sebagainya, hingga menggandakan para anggota All Saints. Secara pribadi, saya lebih menikmati versi yang ini. Tapi, video pertamanya juga ga kalah keren kog. ‘Never Ever‘ yang asli ini menampilkan drama kelas atas, dimana kegalauan keempat anggota All Saints karena hubungan cinta mereka yang luluh lantak terwakilkan oleh ledakan demi ledakan yang memporak-porandakan ruangan mereka masing-masing. Coba lihat ekspresi wajah Mel yang paling sangar saat keluar dari ruangan yang sedang dilanda “perang” tersebut.


Natasha Bedingfield – Unwritten (2005)

Feel the rain on your skin, no one else can feel it for you, only you can let it in! Wow! Natasha Bedingfield memang jagonya. Lagu ini melewati batas inspirasi. Kata-kata yang terjalin dalam lirik lagu ‘Unwritten’ ini benarlah sangat menggugah. Tapi, di kesempatan kali ini harus difokuskan pada video musiknya. ‘Unwritten‘ sendiri sudah lebih dahulu digambarkan secara harfiah: sebuah buku. Natasha bernyanyi di sampul buku itu, berkhotbah mengenai segala kesempatan yang bisa didapat, jikalau kita mau membuka diri dan berfikiran positif terhadap apapun yang ada di depan kita. Panas dingin dirasa sendiri. Nah, untuk versi US-nya, Natasha dalam format manusia seperti membuktikan kata-katanya dengan menjalani hari dalam sebuah lift, dengan segala kemungkinannya saat pintu terbuka. Lagu sejuta umat ini mengedukasi kita untuk worry less, experience more.


Backstreet Boys – I’ll Never Break Your Heart (1998)

Siapa bilang kalau yang namanya The US Version ini hanya untuk mereka-mereka yang berasal dari luar US saja. Ini buktinya, ada Backstreet Boys yang “pulang kampung” dengan membuat versi US untuk single mereka ‘I’ll Never Break Your Heart’ yang awalnya dirilis di tahun 1995. Dulunya, BSB yang masih culun-culun bermain di dinginnya salju dengan cewek-cewek yang salah satunya sedang gundah gulana. Maka dengan lagu ini, Brian mencoba untuk membuktikan dirinya tak akan pernah membuat cewek itu sedih lagi, sesuai dengan lagunya. Versi US-nya, kedewasaan mereka bertambah. Tiga tahun berselang, tambut belah tengah Nick bertambah panjang dengan gaya sisir ke belakang. Video bertemakan indoor ini menampilkan BSB yang bernyanyi secara bersama-sama di sebuah ruangan yang tampak seperti sebuah lorong, dan juga kelimanya secara terpidah di ruang apartemen masing-masing dalam satu gedung yang sama, lantai berbeda.


Semoga memori yang tersampaikan melalui daftar Top 10 CreativeDisc kali ini dapat bermanfaat dan menambah kecintaan kita kepada musik. Viva la musica!

About The Author

Reply