Trending News

Blog Post

Concert Review: Vampire Weekend Live in Jakarta
Concerts Review

Concert Review: Vampire Weekend Live in Jakarta 

Awalnya saya kaget mendengar kabar bahwa kuartet asal New York ini akan datang ke Jakarta, namun setelah saya mengubek banyak informasi ternyata hal itu benar adanya. Ketika tiket box dibuka saya langsung membeli tiketnya yang presale 1 yang hanya dijual via online pada tanggal 13 Agustus kemarin dan syukurlah saya menjadi salah satu pembeli tiket gelombang pertama karena tiket jenis itu habis kurang dari 2 hari saja, untuk menunggu presale 2 butuh kira-kira 3 minggu untuk membelinya. Ini adalah kali pertama saya ke Bengkel Night Park dan juga melihat konser band luar negeri. Tentu saja saya tak sabar untuk menunggu konser dari band pengusung indie pop yang albumnya sendiri pernah mencapai tangga teratas di negaranya sendiri.

Dan yap sewaktu hari H pada tanggal 24 kemarin, penantian saya selama lebih dari 2 bulan sirna sudah. Saya datang ke venue pada pukul 18:58. Dari segi venue sendiri terbilang cukup luas dan orang-orang sudah memenuhi tempat di sana. Langsung saja saya mengambil tempat paling depan dan terus berdiri menunggu penampilan pertama datang. Monkey To Millionaire band indie rock asal Jakarta pun tampil pertama kali pada pukul 19:51. Mereka menggetarkan panggung Bengkel dengan sound-sound band indie rock yang rocking dan enak didengar. Namun sayang kendala teknis di vokal menjadi hal yang cukup mengganggu di sini. Mereka membawakan 6 lagu dan sempat menggiring Marsha (Salah satu penyiar sebuah radio di Jakarta) untuk mengajak berduet di “Strange Is The Song In Our Conversation”. Mereka sendiri bermain cukup apik dan cukup untuk menjadi pemanas bagi para penonton yang sudah tidak sabar untuk melihat Vampire Weekend.

Photobucket
Pada 20:32, Monkey To Millionaire pergi meninggalkan panggung dan crew Vampire Weekend langsung mempersiapkan panggung. Kebetulan manager dari Vampire Weekend juga ikut mejeng di panggung hanya untuk sekedar melambaikan tangan. Penonton perempuan pun langsung mulai meneriakkan nama Ezra terus menerus. Check sound sendiri juga berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 menit dan membuat penonton sendiri cukup bosan. Namun pada 21:15 kebosanan mereka dibuyarkan oleh datangnya Chris Baio, Christopher Tomson, Ezra Koenig dan Rostam Batmanglij, sontak saja penonton berteriak dan Vampire Weekend membuka dengan “Holiday” yang membuat saya jejingkrakan terus sampai akhir dan bernyanyi sekencang-kencangnya di situ. Tak lama kemudian mereka melanjutkan lagi di “White Sky” dan “Cape Cod Kwassa Kwassa”, energi saya di tiga lagu awal benar-benar saya tumpahkan mulai dari awal. Ezra sendiri memakai kaos batik, Thomson memakai baju basket dan sisa personilnya hanya memakai kemeja dengan celana hitam. Performance mereka di tiga lagu awal benar-benar sangat memukau mata saya. Lalu mereka memainkan “I Stand Corrected” dilanjutkan dengan “M79” dan “Bryn”, memang tiga lagu tersebut berirama cukup medium tidak terlalu rame dan cepat jadi ada kesempatan saya untuk menyimpan tenaga di lagu-lagu pamungkas mereka. Ezra pun mengambil jeda sebentar lalu memulai lagu lagi dengan opening vokal yang auto tune dan penonton tahu bahwa “California English” akan dimainkan selanjutnya (karena hanya lagu itu saja yang memakai tehnik vokal seperti itu). Dan tibalah lagu yang sangat saya nantikan muncul juga. Pas intro gitar “Cousins” dimainkan saya pun sudah bersiap-siap untuk kembali berjingkrak mengikuti irama lagu yang tergolong cepat tersebut. Permainan mereka benar-benar makin menarik, namun sayang crowd penonton saya rasa kurang “chaos” dengan lagu ini. Namun para penonton juga antusias untuk bergoyang mengikuti irama lagu. Saya pun juga capek menyanyikan lagu sekencang-kencangnya saking saya termat suka dengan lagu ini. Di “Run”, semuanya kembali bergoyang dan vibe “Cousins” terasa belum terlalu pudar. Di sini merupakan permainan terapik mereka selama konser. Saya salut dengan performance Chris Tomson yang berenergi dan juga lightning di lagu yang begitu meriah. Salah satu gacoan mereka di konser yaitu “A-Punk” dimainkan, sontak saja penonton dibuat menari bersama mengikuti irama lagu. Terdengar juga koor massal yang menyanyikan lagu ini, maklum karena lagu ini memang heavy airplay di radio ibukota. Lagi-lagi saya meloncat-loncat mengikuti irama lagu dan berteriak “oi oi oi” sekeras-kerasnya. “One (Blake’s Got A New Face)” pun dimainkan dan koor penonton di part “Blakes got a new face” menggema di Bengkel Night Park. Nuansa lagu yang dancy membuat penonton langsung bergoyang santai begitu mendengar lagu ini. “The Kids Don’t Stand A Chance” juga disambut meriah oleh penonton. Di “Diplomat’s Son” cukup chilling lagunya sehingga penonton crowdnya sedikit tenang dimana juga Rostam Batmangalij mengambil alih vokal di bagian tengah lalu dilanjutkan oleh Ezra sebagai lead vocalnya. “Giving Up The Gun” membuat konser ini makin mendekati puncak kenikmatannya, handclapping massal pun tercipta di track ini dan pada saat Ezra melantunkan “Go on go on go on”, kertas yang bertuliskan Go On pun dipamerkan membuat nuansa lagu makin dalam dan asyik. Mereka pun memainkan medley “Campus” dan “Oxford Comma” yang didaulat menjadi penutup konser. Dan pada 22:13 mereka meninggalkan panggung setelah kurang lebih satu jam membuat penonton untuk bergoyang dan bernyanyi bersama. Tapi seperti biasa itu adalah trik para artis, sontak saja teriakan We Want More membahana di areal penonton sambil meneriakkan satu-satu nama personil Vampire Weekend (namun kebanyakan penonton menyebut Ezra dan Baio). Akhirnya 3 menit kemudian mereka kembali ke panggung dan Rostam Batmangalij langsung memainkan keyboard mainan dan mengucapkan “Selamat malam” pertanda encore pertama sudah dimulai. Encore dimulai dengan “Horchata” tapi mereka memainkan lagu ini cukup tenang tidak serame dan seseru aslinya. Lalu Ezra langsung berkata kepada penonton apakah mereka cukup kuat untuk masih bisa berdansa dan langsung mengintroduce lagu “Mansard Roof” dengan menyebut lagu dengan durasi terpendek. Meskipun durasinya cukup pendek namun penonton pun langsung menggoyangkan kaki mengikuti beat lagu yang cepat. Ezra pun menyuruh penonton untuk menggoyangkan tangan, saya dan penonton tidak bisa menolak ajakan Ezra untuk menggoyangkan tangan. Lagu penutup konser itu jatuh di “Walcott”, mereka tampil habis-habisan di lagu ini. Dan setelah Walcott selesai lampu pun mulai dihidupkan tanda konser telah berakhir. Sayangnya saya tidak bisa minum Horchata dikarenakan telah habis dibeli. Di akhir konser saya pun bertemu Harry Lesmana dan saling berbagi pengalaman akan konser tadi.

Konser band luar negeri pertama yang saya kunjungi memang jauh dari kata mengecewakan. Mulai dari venue yang tidak terlalu tercemari asap rokok ketika acara sudah mulai berlangsung lalu kemeriahan penontonnya, lightning yang ditata rapi dan rame, sound yang bagus dan enak didengar namun yang paling saya salut adalah penampilan Vampire Weekend yang sebagus apa yang kita dengar di CD. Mereka tidak mengecawakan para penonton yang menginginkan performance yang bagus dan hal itu diwujudkan oleh mereka lewat performancenya yang nyaris tanpa cela secara skill. What a unforgettable moment and concert.

(Luthfi / CreativeDisc Contributors)
photo By: Harry Lesmana (SoundUp)

Setlist:
Holiday
White Sky
Cape Cod Kwassa Kwassa
I Stand Corrected
M79
Bryn
California English
Cousins
Run
A-Punk
One (Blake’s Got A New Face)
The Kids Don’t Stand A Chance
Diplomat’s Son
Giving Up The Gun
Campus
Oxford Comma

Encore:
Horchata
Mansard Roof
Walcott

Related posts

Leave a Reply