Trending News

Blog Post

Album of The Day: Take That – Progress
Album of The Day

Album of The Day: Take That – Progress 

Image and video hosting by TinyPicReleased By: Universal Music Indonesia
Julukan boyband seringkali mengandung konotasi sebagai grup music vocal dengan bobot yang ringan. Mungkin karena lebih sering bernyanyi dengan satu suara dan didominasi oleh kaum kulit putih seringkali sekelompok kecil bocah lelaki yang bernyanyi disebut sebagai boyband. Lain halnya jika para anggotanya adalah mereka yang berkulit hitam. Dengan teknik menyanyi yang lebih kreatif serta pecah suara yang komplit membuat sekelompok kecil bocah kulit hitam cenderung disebut sebagai grup vocal. Tidak dapat dikatakan sebagai sebuah diskriminasi kalau memang pada kenyataannya boyband kulit putih terkesan sebagai sebuah produk hasil bentukan industry a.k.a label ketimbang grup vocal kulit hitam yang tumbuh organik. Tetapi boyband seperti Take That, Backstreet Boys dan Westlife ternyata berhasil membuktikan eksistensi hingga saat ini.

Terlepas dari kesan sebagai produk industry. Setidaknya itulah yang berhasil dibuktikan oleh Take That dengan proses panjang serta jatuh bangun selama dua decade. Setelah ditinggal bersolo karier oleh Robbie Williams di tahun 1995 dilanjutkan dengan bubarnya grup ini setahun kemudian, grup ini mengalami mati suri selama hampir satu decade sebelum akhirnya mulai bangkit kembali di tahun 2006 dengan single nomor satu mereka ‘Patience’. Dua album kemudian berhasil mereka telurkan dengan mengusung warna pop ballad yang menjadi ciri khas dan kekuatan mereka selama ini. Kelahiran Take That kembali ditandai dengan lebih berperan aktifnya personil lain selain Barlow dalam proses penciptaan lagu di album mereka, meski hal ini masih menimbulkan keraguan. Namun setidaknya identitas Take That tak lagi didominasi oleh bayang-bayang Barlow.

Akhir tahun lalu Take That kembali dengan album ketiganya pasca reuni dan merupakan album perdana setelah Robbie meninggalkan grup itu 15 tahun yang lampau. Tak pelak lagi album ini seakan menjadi penanda tanda tangan Robbie atasnya.

Dipuji-puji sebagai langkah yang berani dari sebuah grup pop ballad untuk mengambil resiko dengan memasukkan unsur seperti electro, synth-pop, euro dance juga rock dilengkapi dengan lirik yang gelap dan berat. Sebuah evolusi music dari Take That yang sedikit banyak lebih memiliki rasa Robbie Williams. Dengan dominasi Robbie pada sejumlah besar lagu di album ini, berkurangnya sentuhan Gary tak heran jika membuat album ini terasa bagai album Robbie dengan Take That sebagai backing vokalnya. Namun mengingat Robbie sendiri tak begitu sukses dengan album solonya yang mengusung nuansa music sejenis, tak dapat disangkal kalau sentuhan Gary, Mark, Howard dan Jason cukup memberi warna dan rem hingga rasa Robbie yang eksperimental pun menjadi lebih familiar. Nampaknya sentuhan tangan dingin produser Stuart Price dalam menentukan komposisi yang pas di album ini patut diacungi jempol.

Mengandung 10 lagu dengan satu lagu tersembunyi, album ini dibuka dengan ‘The Flood’ yang menjadi single perdana. Sebuah lagu dengan rasa pop Take That dengan vocal Robbie yang mendominasi. Meski tak dapat dikatakan single ini mewakili rasa electro yang sebenarnya dari album ini namun liriknya yang penuh metafora seakan menjadi pembuka yang tepat untuk para penggemar TT. Dilanjutkan dengan ‘SOS’ dilantunkan oleh Mark Owen dengan energik dalam detak yang cepat serta lirik yang gelap seakan menjadi penanda kehancuran yang tengah terjadi di dunia saat ini. Grup ini kemudian memberikan intro berupa denting piano dan alunan biola yang tradisional dan berubah dalam sekejap menjadi cita rasa electro pop yang kontemporer lewat tembang ‘Wait’. Sementara dalam ‘Kidz’ kita akan mendengar Mark dan Robbie melakukan marching ala militer tentang masa depan dunia. Tembang ini sedikit mengingatkan pada gaya Hurts. Akhirnya vocal Gary yang terdengar kemudian membawa kita sedikit santai dengan ‘Pretty Things’ yang melodius membius tentang hal-hal indah yang seringkali justru menjadi obsesi tak terkontrol. Masih lewat lantunan vocal Gary, nuansa santai yang aneh karena kontradiktif dengan liriknya yang seakan berkisah tentang kondisi koma (atau trance?) ditulis Barlow dan Williams dalam ‘Happy Now’. Sementara nuansa militer kembali dilantunkan oleh Robbie kali ini dengan nuansa rock lewat ‘Underground Machine’, sebuah tembang ritmis dengan synthesizer rasa industrial tentang kecemburuan. Berlanjut dengan tembang bernuansa electropop yang dilantunkan dan ditulis oleh Mark Owen sendiri berjudul ‘What do You Want from me?’. Howard tak ketinggalan turut menulis tembangnya sendiri dan dilantunkan oleh Gary yang mengisahkan tentang usaha untuk kepastian sebuah hubungan dalam balutan rasa euro-dance. Sementara lewat ‘Eight Letters’ kita akan menemukan rasa Gary Barlow yang menjadi penanda Take That. Album ini ditutup dengan sebuah tembang tersembunyi yang terasa megah ditulis oleh Jason Orange berjudul ‘Flowerbed’ yang mengisahkan tentang sebuah usaha untuk mendapatkan kembali cinta dari sang kekasih. Album penanda rasa baru yang ditawarkan Take That sudah selayaknya masuk dalam koleksi mereka yang menggemari grup ini.

Official Website Take That

(Timmy / CreativeDisc Contributors)
Rate This Album: [ratings]

Track List:
No. Title Lead vocals Length
1. “The Flood” Robbie Williams and Gary Barlow 4:49
2. “SOS” Mark Owen and Robbie Williams 3:44
3. “Wait” Gary Barlow and Robbie Williams 4:15
4. “Kidz” Mark Owen and Gary Barlow 4:42
5. “Pretty Things” Robbie Williams and Gary Barlow 4:03
6. “Happy Now” Gary Barlow and Robbie Williams 4:03
7. “Underground Machine” Robbie Williams 4:15
8. “What Do You Want from Me?” Mark Owen 4:37
9. “Affirmation” Howard Donald 3:54
10. “Eight Letters” Gary Barlow 4:41
11. “Flowerbed” (hidden track) Jason Orange 3:48

Related posts

Leave a Reply