Trending News

Blog Post

Album of the Day: Spitz – Chiisana Ikimono
Album of The Day

Album of the Day: Spitz – Chiisana Ikimono 

Released by: Universal Music Indonesia

Mungkin di kalangan pecinta musik terutama pecinta musik Jepang di Indonesia jarang ada yang mengenal Spitz tapi coba tanyakan band ini ke orang Jepang, semuanya pasti langsung merujuk ke lagu “Sora mo Toberu Hazu”, “Cherry” dan “Robinson”. Memang ketiga lagu itu merupakan lagu hits dari band alternative rock asal Shizuoka yang beranggotakan Masamune Kusano, Tetsuya Miwa, Akihiro Tamura dan Tatsuo Sakiyama. Band ini terbentuk pada tahun 1987 sebagai proyek antara Kusano dan Tamura, band ini tidak langsung mendapat kepopuleran karena iklim musik di Jepang saat itu belum bersahabat bagi mereka. Tidak sampai tahun 1994 dimana album “Sora no Tobikata” menjadi hits di Jepang disusul dengan album yang penuh dengan nuansa britpop (yang juga lagi meledak di Jepang pada saat itu) yang bernama “Hachimitsu” yang berhasil terjual jutaan keping di sana.

Total mereka sudah menciptakan 38 single, 14 studio album, 1 mini album, 1 EP, 3 special album dan 3 kompilasi greatest hits yang terjual 20 juta kopi di Jepang saja membuat status sebagai band legendaris mereka dapatkan di negaranya sendiri. Jika mereka kurang banyak dikenal oleh kalangan pecinta musik Jepang disini hal ini wajar karena mereka jarang pernah bermain di luar negeri bahkan di Jepang sendiri di setiap konsernya mereka hanya mau tampil di tempat konser biasa tidak mau di arena yang lebih luas lagi demi menjaga keintiman dengan fansnya. Selain itu, band ini juga jarang dikenal disini karena musik yang diimpor dari Jepang merupakan musik j-pop dan idol group sehingga Spitz kurang begitu terkenal disini. But well, mungkin karena hal itu maka album ke-14 mereka yang berjudul “Chiisana Ikimono” dirilis lokal dalam format CD. Karena memang band ini mempunyai potensial untuk dicintai apalagi untuk penyuka musik alternative rock dan sebagai ajang perkenalan band ini untuk maju di dunia Asia dan Internasional.

Album ke-14 mereka yang bertitel “Chiisana Ikimono” sudah dirilis Pada 11 September 2013 dan langsung duduk di posisi jawara Japan Album Chart pada minggu pertama album ini dirilis dan duduk di angka 48 di chart akhir tahunnya, album ini juga mendapatkan sertifikasi Gold karena berhasil terjual 100 ribu kopi. Album ini juga menjadi album pertama mereka setelah 3 tahun setelah sebelumnya mereka merilis “Togemaru” pada tahun 2010 lalu.

Bermain dengan nada-nada jangly ala R.E.M. di track “Mirai Koorogi”. “Chiisana Ikimono” yang mempunyai pesan untuk jangan menyerah dibawakan dengan gaya ballad ala britpop dengan sedikit sentuhan baroque pop. Bermain cepat dengan rasa punk dan power pop pada track “Reality”. Unsur folk yang teduh dan relaxing muncul di “Lamp”. Pada “Opabinia”, mereka memainkan power pop ala 90’an. Highlight album ini menurut saya ada di “Sara Sara”. Track yang dijadikan single pertama untuk album ini tidak seperti track lainnya, lagu yang berisi kisah cinta ini memunculkan semangat indie rock kekinian dengan gaya jangly dari Spitz sehingga menghadirkan sebuah track yang relevan dengan era sekarang. Sama seperti judulnya “Yasei no Polka” atau “Polka Liar” mereka mencampurkan unsur punk, j-rock dan polka membuat track ini cocok untuk jadi anthem sepakbola. Mereka bersenang-senang di track instrumental “scat” dengan nada-nada alternative rock yang enerjik. “Endroll ni wa Hayasugiru” merupakan track paling fresh dan sesuai dengan skema musik indie sekarang. Memadukan new wave dengan permainan gitar ala funk dengan pendekatan band indie era sekarang yang mengandalkan gitar membuat track ini asyik untuk bergoyang. Sentuhan rockabilly ada di “Tooboe Shuffle”. “Swan” bermain mellow dengan rasa pop rock dan juga folk rock. Dengan nada bercerita mereka membawakan “Shiosai-chan” dengan musik yang indie rock yang rough dengan sensibilitas indie pop. “Boku wa Kitto Tabi ni Deru” dibawakan dengan nada santai dengan tambahan pop rock. “Esperansa” membawa suasana gloomy di dalamnya dengan musik medium-tempo dan juga gitar yang sedikit bluesy.

Mengulang nostalgia, itulah satu kata yang bisa menggambarkan album ke-14 dari band veteran alternative rock dari Jepang ini. Sound di album ini memang hampir kebanyakan mengambil sound dari band alternative rock, pop rock dan power pop dari era 90an, era dimana Spitz mendulang sukses yang luar biasa dengan berhasil menjual jutaan kopi single dan album. Memang tidak dapat dipungkiri semakin banyak album kemungkinan untuk mengulang album sebelumnya makin besar dan hal ini terjadi di album baru Spitz. Nada-nada jangly ala Spitz kembali dimunculkan disini. Mereka tidak sepenuhnya terjebak nostalgia karena ada beberapa lagu yang mampu beradaptasi dengan pola musik alternative sekarang sehingga album ini masih punya kemampuan untuk menarik pendengar di era sekarang. Namun sayangnya di album ini tidak ada track yang kuat sehingga mereka tidak bisa mengulang kejayaan seperti tahun 90’an, hal ini juga dikarenakan skema musik Jepang yang mengutamakan boy/girl band dan idol group untuk merebut tahta puncak di Japan Singles Chart.

Album ini overall bercerita tentang cinta, alam dan kebebasan. Mungkin penamaan album “Chiisana Ikimono” yang bermakna “Makhluk kecil” sesuai dengan apa yang ada di album ini. Spitz kembali ke basic mereka dan menjadikan album ini sebagai fresh restart buat mereka sendiri sebagai band diantara industri musik Jepang yang sekarang memuja girl/boy band dan idol group sama seperti makhluk kecil diantara makhluk besar.

Official website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Luthfi / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. Mirai Koorogi 4:12
2. Chiisana Ikimono 3:23
3. Reality 3:33
4. Lamp 4:03
5. Opabinia 3:04
6. Sarasara 4:14
7. Yasei No Polca 3:34
8. Scat 2:52
9. Endroll Niha Hayasugiru 4:09
10. Tooboe Shuffle 2:57
11. Swan 3:24
12. Shiosai Chang 3:29
13. Boku Wa Kitto Tabi Ni Deru 4:46

Related posts

Leave a Reply