Trending News

Blog Post

Java Soundsfair Day 1: Magic, Sophie Ellis-Bextor, Asian Dub Foundation, TSPO and more!
Concerts Review

Java Soundsfair Day 1: Magic, Sophie Ellis-Bextor, Asian Dub Foundation, TSPO and more! 

Penikmat festival musik Indonesia sebelumnya harus gigit jari. Java Festival Production, promotor yang setiap tahun telah punya festival beragenda tetap seperti Java Jazz, Java Rockin’Land, dan Java Soulnation, dengan berat hati tahun ini harus membatalkan dua diantaranya, yakni Java Rockin’Land dan Java Soulnation, perihal jadwal yang berbenturan dengan bulan ramadhan dan hingar bingar pilpres beberapa bulan yang lalu menjadi penyebabnya.

Saya adalah penikmat festival musik. Stage yang banyak, penampil yang variatif, jadwal yang begitu padat memberikan adrenalin tersendiri dalam menikmatinya. Mendengar kabar 2 gelaran festival milik Java Festival Production dibatalkan tentu saya tidak terima. Tapi tak perlu lama gundah gulana, Java Festival Production mengumumkan sebuah festival baru dengan konsep yang menggabungkan dua festival yang batal digelar tahun ini. Dengan punch-line “The First All Indoor Art and Music Festival in Indonesia”, festival ini diberi judul Java Sounds Fair. Digelar selama tiga hari, 24-26 Oktober 2014, bertempat di Jakarta Convention Center, Senayan.

The day has come! Line-Up Java Sounds Fair cukup mumpuni, The Jackson 5, Magic!, Tokyo Ska Paradise Orchestra, Yuna, Cody Simpson, Sophie Ellis-Bextor, hingga puluhan nama penampil lokal lainnya. Dengan 2 special show (The Jackson 5 dan Magic!), festival ini siap untuk dijelajahi.

Day 1 (Jumat, 24 Oktober 2014)
Satu hal yang pasti dari menikmati sebuah festival adalah anda harus jeli melihat rundown. Jika ingin mendapatkan atmosfir festival seutuhnya, harus bersiap untuk tidak akan menonton satu penampil secara utuh, karna anda tidak ingin ketinggalan penampilan lainnya di stage sebelah misalnya. Maka hal pertama yang harus dilakukan setelah memasuki venue, mencari Information Booth, biasanya ada sebuah booklet yang berisi mulai dari profil penampil, peta, hingga rundown.

Saya rasa cukup untuk kalimat pembuka. Hari pertama venue dibuka pukul 6 sore, beberapa stage telah memulai penampilan, termasuk di panggung utama, Plenary Hall, dimana Ran tampil dan cukup menyedot perhatian pengunjung yang baru datang. Setelah berpetualang dan mengisi kembali kalori dan karbohidrat di booth makanan (jangan tanya harga makanannya). Saya mengunjungi stage De Majors yang terletak di Lower Lobby (1 lantai dibawah venue utama) ruang Merak JCC, berencana menonton Superglad, saya bermaksud untuk sedikit membangkitkan semangat dengan sedikit huru-hara menonton mereka. Tapi setidaknya hal ini berubah, De Major Stage adalah panggung dengan suhu paling dingin, ditambah dengan ornamen seperti bantal warna-warni, saya mulai merasa panggung ini terlalu “romantis” untuk ukuran band sekeras Superglad. Sesuai dengan selorohan sang vokalis, Buluk, diawal penampilan mereka “aduh, band biasa tampil diacara panggung RT, kok bisa tampil di JCC”. Mereka malam itu tampil cuek dengan tetap menghentak melalui lagu-lagu mereka seperti; “Ketika Setan Berteman”, “Peri Kecil” hingga “Berandalan Ibukota”.

Bertepatan dengan jadwal Superglad, di stage A Create Zone, Assembly 3 JCC Senayan, tampil pula Sore, kuartet asal Jakarta ditemani penonton yang cukup ramai bernyanyi bersama. Hampir semua hits dari album-album mereka dibawakan malam itu. “Etalase”, single “Pergi Tanpa Pesan” sebuah cover version lagu klasik Indonesia, yang menjadi soundtrack film Berbagi Suami mengalun dan mendayu-dayu malam itu. Penampilan Sore sendiri ditutup dengan lagu “Ssssst…” hits single dari album kompilasi the-best mereka yang berjudul “Sorealist”.

Saatnya menonton salah satu headliners Java Sounds Fair, Tokyo Ska Paradise Orcherstra (TSPO) di panggung Garuda Indonesia. Cukup kaget karena venue tampak sesak meski pertunjukan belum dimulai. Saya sendiri secara pribadi tidak begitu mengenal band ini, namun inilah salah satu tujuan menikmati sebuah festival. You dont know what you gonna see and hear! Dan benar saja seketika muncul 9 orang laki-laki jepang dengan setelan jas (sungguh saya sempat terpikir jika mereka adalah sekelompok gang dalam film mafia Jepang), 4 diantaranya membawa alat musik tiup, gitaris yang tampak seperti salah satu band lokal, saya dibuat terperanjat begitu intro lagu pertama dimainkan. Mereka benar-benar gila! Meloncat, berlari, dan berteriak. Alunan musik ska yang benar-benar membuat anda bergidik dan tidak mungkin menolak untuk ikut menari, seperti halnya penonton yang memadati ruang Cendrawasih 1&2 JCC saat itu. Everybody dance!
Mengintip dari judul lagu yang ditampilkan di layar, “Godfather”, “Hinotama Jave”, “5 Days of Tequila”, saya pun tidak memiliki alasan untuk diam selain ikut ska dance bersama penggemar TSPO yang dapat dicirikan dengan topi flatcap yang mereka gunakan. “Natty Parade” menjadi salah satu lagu yang dinantikan, dan penonton kembali bergemuruh. What a show!

Harus berpisah dengan energi yang begitu besar di ruangan Cendrawasih 1&2, saya merapat menuju Assembly 1, Guinness Stage dimana Neonomora, solois perempuan asal Indonesia yang mengejutkan banyak orang ketika merilis debut self EP nya tahun lalu, baru saja memulai penampilannya. Neonomora membawakan lagu dari debut EP terdahulu seperti “You Want My Love”. Strong & Powerful Voice menjadi cirikhas Neonomora memberikan sensasi sejuk nan tegas pada penampilan malam itu. Neonomora juga membacakan sebuah puisi ucapan terimakasih atas dukungan yang tak henti-hentinya dari berbagai pihak termasuk penggemar hingga karirnya sampai sekarang. Malam itu Neonomora juga membawakan lagu “Seeds” single terbaru dari album penuh pertamanya berjudul sama yang baru saja dirilis.

Special Show di hari pertama adalah Magic! Band reggae pop yang tengah naik daun berkat kesuksesan single mereka “Rude”. Saya termasuk salah satu yang memberi ekspektasi lebih, karena tentu dengan penonton membayar lebih, mereka harus berhasil menaklukkan panggung utama Java Sounds Fair, Plenary Hall, JCC. Nasri (Vokal), Ben (Bass), Mark (Gitar), dan Alex (Drum) membuka penampilan mereka dengan lagu yang cukup penuh beat, “Stupid Me” dari album penuh mereka berjudul “Dont Kill The Magic”. Namun entah mengapa terasa tidak menggigit sebagai nomor pembuka. Terdengar olah vokal Nasri tidak begitu prima, bisa jadi disebabkan jadwal mereka yang begitu padat. Setelah dua hari sebelumnya Manila, setelah itu Kuala Lumpur dan langsung menyambangi Jakarta, tanpa istirahat. Belum termasuk jadwal promo yang mereka lakukan disetiap negara.

“Mama Didn’t Raise No Fool” seharusnya pun mampu membangkitkan suasana. Kembali kendala yang sama dirasakan, sementara penonton pun terdengar sayup-sayup tak sampai. Apakah lagu tersebut juga belum terlalu familiar, entahlah. Nasri sendiri beberapa kali berusaha membangkitkan semangat penonton dengan menggoda, menari yang menghasilkan teriakan sesekali. “No Evil” yang menjadi lagu ketiga terbantu oleh Ben dan Mark yang ikut ambil bagian pada reff.

Selanjutnya Magic! Meng-cover lagu milik Stevie Wonder, “Master Blaster”. Membuat atmosfir menjadi terlalu dingin. Selanjutnya mereka membawakan single yang akan dirilis sebentar lagi “Let Your Hair Down” yang bertempo lambat. Ekspektasi saya semakin runtuh ketika “No Way No” pun tidak dapat saya rasakan energinya, sebuah lagu yang bagi saya melambangkan bentuk protes ketidakpercayaan pasangan terhadap cinta anda.

Setelah “Paradise”, Magic! pun kembali membawakan cover version, kali ini dari lagu Cindy Lauper, berjudul “Girls Just Wanna Have Fun” yang seolah-olah ingin saya jawab, well i wanna have fun too! Single promosi berjudul “Dont Kill The Magic” yang seharusnya emosional pun terdengar biasa saja. Lalu lagu terakhir pun dimainkan, tentu lagu yang dinantikan semua orang malam itu, “Rude” yang sempat dibawakan ulang setelah Nasri merasa penonton tidak melakukan apa-apa malam itu.
Magic! menutup penampilan tidak terlalu baik. Faktor kelelahan, dan kegagalan mengambil hati penonton yang sudah kelewat dingin bergabung dengan faktor-faktor lain yang tidak kita ketahui. Tentu kita tetap berharap mereka datang kembali ke Indonesia dan menebus penampilan di hari pertama Java Sounds Fair. Hal ini juga sebuah tantangan bagi Magic! sebagai band pendatang baru dengan satu single mendunia dan album penuh yang menurut saya pribadi sangat bagus, untuk membuktikan diri eksistensi mereka kedepannya di dunia musik.
Tak perlu berlama-lama larut dalam Magic! yang kurang magis malam itu, saatnya move on menuju hari kedua dan ketiga Java Sounds Fair yang masih menanti.

(Verdy / CreativeDisc Contributors)

Hari pertama saya menginjakkan kaki di JCC untuk Soundsfair 2014, saya langsung menuju Plennary Hall karena di sana ada penampilan RAN, salah satu grup musik Indonesia favorit saya. Penonton cukup penuh di sana. Dekorasi dan lighting panggung yang unik dan berwarna-warni membuat panggung utama di Soundsfair 2014 ini terlihat megah dan meriah. Penampilan RAN pun tak kalah menarik, karena selain diiringi band yang profesional, mereka juga ditemani oleh para dancers yang membuat penampilan mereka menjadi lebih catchy.

Beredar kabar bahwa Universounds Rise & Star akan menampilkan sebuah tribute untuk John Lennon. Ini sangat menarik perhatian saya, apalagi saat Calvin Jeremy, tampil di balik keyboard bak John Lennon, lengkap dengan granny glasses-nya. Yang paling membuat heboh penonton ABG saat itu adalah penampilan dari duo The Finest Tree yang dibentuk oleh Cakka, penyanyi jebolan Idola Cilik, bersama kakak kandungnya. Calvin pun berduet bersama mereka dalam lagu “Hey Jude”.

Karena penonton sudah cukup memadati Soundsfair 2014, saya bergegas ke Plennary Hall lagi untuk menyaksikan penampilan penyanyi asal Inggris yang sudah berkali-kali ke Indonesia: Sophie-Ellis Bextor. Saya cukup terkesima ternyata Sophie-Ellis sudah memiliki banyak penggemar di Indonesia, terlihat dari crowd yang cukup padat di Plennary Hall. Sophie-Ellis tampil dengan dress cantik berwarna merah dan di beberapa lagu terakhir, ia berganti kostum dengan dress serupa berwarna hijau.

(Jeni / CreativeDisc Contributors)

Begitu sampai ke venue, what’s on my mind is just RAN. Group trio Rayi-Asta-Nino ini jadi magnet buat cewek-cewek (dan cowok juga) untuk datang lebih pagi ke #SF14. Hahaha. Tapi memang sih, penampilan RAN dengan lagu-lagu hitsnya seperti Begitu Saja, Kita Bisa, dan pastinya lagu yang sekarang lagi sering banget diputar di radio, Dekat Di Hati. Sudah bisa ketebak, semua pengunjung yang dateng di Plenary Area langsung karaoke-an gratis, sambil peluk-peluk pasangan (kalau bawa pasangan). Meski to be honest, sound-nya agak ‘kurang’ waktu itu. Dimaklumi sih, penampilan pertama.

Selesai RAN, saya iseng masuk ke stage dimana CTS lagi perform. I don’t know who they are, but all I can describe just.. They’re cool! Jadi, mereka itu adalah 3 orang DJ dari Jepang yang sama-sama pake topeng LED. Segitiga, Kotak, dan Lingkaran. Ya, anggeplah seperti Daft Punk, but their music is just super cool. Sayang saya hanya kebagian perform di lagu Can’t Help Falling In Love, dan Kokoro No Tomo. Tapiiiii…. Musiknya…. Awmaygad.. Intinya bikin goyang.

Salah satu penampilan yang ditunggu (banget) adalah Sophie Ellis-Bextor. Sebenarnya, udah sering, sih, dia dateng ke Indonesia. Kedatangannya sekarang ini untuk promo album terbarunya yang cukup ‘banting-setir’ dari genre music sebelumnya. Itu juga yang disampaikannya, kalau album terbarunya adalah proyek eksplor dengan genre baru, contohnya seperti Young Blood. Tapi sepertinya Sophie juga paham kalau yang datang juga kangen dengan lagu-lagu lamanya seperti Take Me Home, Murder On The Dance Floor. Nggak Cuma itu, dia juga memash-up beberapa dancefloor anthem 90-an seperti Lady (Modjo) atau Groovejet saat Sophie masih dikenal sebagai ‘Spiller’. Oh ya, meski udah ‘berumur’, Sophie tetep seksi banget dengan 2 baju tidur kostum yang super seksi berwarna merah, dan hijau.

Sebelum nonton Mr. Wahyu (baca: Magic), saya masuk ke performance Stars & Rabbit. Nggak ada ekspektasi apa-apa ketika masuk, sampai akhirnya ketika duduk dan mencoba mendengar musikalitas mereka. OMG, they’re brought me to tears. Yes, air mata. Mereka bernyanyi dengan jujur, dari hati, dan bikin saya tenang, damai, dan nangis. 3 orang eks penyiar radio Jogjakarta ini memang sangat luar biasa dalam berekspresi dengan sound-sound yang sederhana, tapi menghasilkan performance yang ‘magical’. Nggak heran, ada beberapa artis pengisi acara dari Soundsfair yang terlihat duduk manis juga di saat Stars & Rabbit tampil.

Dan yang ditunggu-tunggu tiba. MAGIC!. Grup Kanada yang ngehits banget dengan lagu “Wahyu”, eh.. Rude ini nggak berjanji memberikan sesuatu yang special, ya maklum karena ini adalah penampilan pertamanya di Indonesia. Sebenarnya agak riskan ketika satu band yang baru ngehits dengan 1 lagu saja dibuatkan special show. Tapi, Magic! Still have Magic. Pengunjung yang datang masih bisa enjoy dengan lagu-lagunya No Way No, Don’t Kill The Magic, atau Let Your Hair Down. Nasri terlihat kurang ‘fit’ waktu itu, tapi tetap memberikan penampilan yang mengagumkan. Apalagi mereka juga sempet nge-jokes “knock-knock” diatas panggung. Iya, karena meme “Wahyu” itulah dia jadi ngehits di Indonesia. Anyway, oknum pertama yang ngasih tau jokes ‘wahyu’ ke Magic itu bisa jadi Creativedisc loh. We’re met them at lobby, and tell them about the jokes, and they realized and called us “wahyu guy”.

Biar lebih ngangkat lagi malamnya, saya coba masuk ke Asian Dub Foundation. Beruntunglah saya ‘anak dugem’, jadi ketika ketemu dengan sekawanan orang penggila dubstep, dan tumpek-blek di sebuah ruangan, hasilnya: PECAH! Asian Dub Foundation ini nggak cuma ngajak semuanya untuk “goyang kejang”, tapi mereka juga kasih pesan-pesan positif, dan kedamaian di muka bumi ini. Peace!

(Cung2 / CreativeDisc Contributors)

Photo by Budi Susanto

Related posts

Leave a Reply