Trending News

Blog Post

Sengatan Berbisa Scorpions & Whitesnake di Singapore Rockfest II
Concerts Review

Sengatan Berbisa Scorpions & Whitesnake di Singapore Rockfest II 

Apa yang terlintas di benak kamu jika mendengar kata-kata “klasik”? Tentunya sesuatu yang bertahan melalui terpaan dan tempaan dalam kurun waktu yang lama. Itu pula yang terjadi dalam aliran musik. Dalam hal ini kita tidak berbicara mengenai genre musik klasik. Tapi classic rock. Sebuah sebutan bagi aliran musik atau super grup hard rock yang masih bertahan dan dikenal orang hingga kini.

Dibentuk di tahun 70-an, mungkin sebagian besar dari kalian belum lahir ketika dua super band classic rock Scorpions dan Whitesnake berdiri. Namun mungkin banyak yang mengenal nama besar mereka. Atau setidaknya satu-dua hits mereka. Dua band lawas beraliran hard rock & heavy metal tersebut besar di era 90-an ketika aliran musik cadas merajai tahun-tahun tersebut dan dikenal dengan sebutan ‘big hair day era’ dimana hampir seluruh anggota band memiliki tren rambut gondrong di-blow mengembang.

Whitesnake dan Scorpions kini tengah melakukan tur comeback bareng dan sempat mampir ke Yogyakarta dalam ajang bernama ‘Jogjarockarta’ lalu meneruskan tur-nya ke Singapura sebelum akhirnya terhenti karena wabah Coronavirus. Dengan demikian, masyarakat Yogyakarta dan Singapura dapat dikatakan termasuk yang beruntung di Asia.

Di Singapura, atas undangan promoter LAMC Productions, mereka membalut konsernya dalam sebuah event yang bertajuk ‘Singapore Rock Fest II’. Yang sedianya menghadirkan super grup lainnya seperti Slipknot, Lacuna Coil, Trivium dan lain-lain namun lagi-lagi karena wabah Coronavirus, semua menyatakan menunda kedatangannya hingga waktu yang belum ditentukan.

Juga karena wabah tersebut, event ini mundur sehari dari jadwal yang ditentukan dan venue juga dipindah ke tempat yang lebih kecil. Namun hal tersebut bukan berarti menyurutkan niat para fans dan metalheads berbondong-bondong ke Star Theater pada tanggal 5 Maret 2020. Sejak pukul 6 sore, gerombolan yang rata-rata pria, berbaju hitam, baju kulit, sepatu boots, dan berbagai aksesoris rocker lainnya terlihat terus berdatangan dengan muka sumringah bertegur sapa satu sama lain.

Ditengah gempuran musik pop dan modern metal yang terus mengikis era kejayaan hard rock tanpa ampun, seakan mereka ingin membuktikan sebagai sebuah komunitas dan persaudaraan yang mampu kuat bertahan. Hal ini menimbulkan rasa salut bagi kami. Pemandangan dan atmosfir yang tidak akan terjadi jika datang ke konser pop atau boyband misalkan.

Pukul 19.45 waktu setempat, gemuruh “My Generation” dari The Who menggema gagah, seiring lampu yang dipadamkan. Sorak riuh rendah penonton menyambut satu persatu personil Whitesnake yang muncul ke atas panggung. Dan seperti sudah diterka, sambutan paling meriah ketika David Coverdale, sang vokalis bergaya flamboyan muncul, tersenyum ke arah penonton. Masih dengan gaya rambutnya yang sama di 90an, langsung meraih mic di tengah panggung.

Dibuka dengan “Bad Boys”, Lima lagu langsung diberondong ke penonton berturut-turut tanpa ampun. Penonton yang terbawa euphoria seakan melupakan wabah yang tengah menghantam negaranya. Tak satupun yang terlihat mengenakan mask wajah. Bersorak lantang, ikut menyanyi sembari mengepalkan tangan atau simbol ‘the devil horns’ tanpa henti mengiringi lantunan nada tinggi Coverdale.

Barulah pada lagu kelima, “Ain’t No Love in the Heart of the City”, Dave menyapa penonton. “Singapore, let’s make some noise. Karena kami disini memang untuk itu. Dan juga demi kesehatan kalian semua”. Ucapnya sambil mengangkat tinggi gelas wine nya yang langsung kompak disambut ‘makian’ dari arah penonton “Yeeeeaaaa!!!! F**k Corona!!!”

Total lima belas lagu dibawakan secara nyaris sempurna. Nyaris, kalau bukan karena sound nya yang kurang rapi. Terdengar tumpang tindih dan malah suara keyboard Brian Ruedy hampir-hampir tidak terdengar di seluruh show, kecuali pada awal-awal lagu sebelum instrumen lain masuk, atau suara Coverdale yang secara natural mengalami degradasi atau istilahnya ‘faktor u’. Meskipun lengkingan khas-nya kadang masih terdengar, namun di beberapa lagu, ia seperti menghindari resiko false dengan mengacungkan mic ke arah penonton.

Namun dibandingkan dengan rasa bertemu dengan idola pujaan, apalah artinya. Mereka pun seperti memaklumi faktor tersebut. Melihat Coverdale secara langsung dan bernyanyi bersama lagu anthem “Here I go Again” rasanya seperti sebuah mimpi menjadi kenyataan. Terutama disaat keadaan yang serba tak menentu seperti sekarang dan mereka masih bersedia datang, perasaan itu tentunya tidak sebanding.

Bagi selera saya pribadi, jika harus membandingkan lagu-lagu Whitesnake dengan Scorpions, saya cenderung lebih memilih Whitesnake. Namun tak dapat dipungkiri, Scorpions lah yang menjadi headline malam itu. Ah betapa inginnya saya menyaksikan dewa gitar Steve Vai masih bergabung bersama mereka.

Muncul di panggung pukul 21:40, setelah banner raksasa “Crazy World Tour” jatuh, “mesin perang Jerman” ini langsung menyengat dengan “Going Out WIth a Bang”. Klaus Meine, Vokalis yang baru saja menjalani operasi ginjal minggu lalu ketika tur di Australia, mengandalkan gaya khasnya yang kalem diatas panggung. Tak dapat dipungkiri, operasi tersebut tampaknya tidak mempengaruhi kualitas vokalnya sama sekali. Berbeda dengan David Coverdale yang memang berperawakan seksi, Klaus yang bertubuh tidak begitu tinggi untuk ukuran seorang bule, cenderung hanya berjalan kesana kemari sambil menebar senyum. Dapat dipahami jika ia masih lemah pasca operasi. Namun jangan salah, melihat ia bernyanyi, terasa persis seperti sedang ber lip-sync. Vokalnya sangat konstan, jernih dan mampu mendaki nada tinggi tanpa kesulitan.

Di lain sisi, Rudolph Schenker sang pendiri Scorpions dan Matthias Jabs justru tampil hot menebar pesona dengan gaya seorang gitaris rock sejati. Memancing emosi penonton dengan ciri khas tandem guitar hero bersahut-sahutan.

Entah karena tipe lagu-lagu mereka, atau setting yang lebih sempurna, sound pada Scorpions terasa lebih jernih ketimbang Whitesnake. Setiap instrumen terasa memiliki channel sendiri dan tidak saling tumpang tindih dan vokal juga terasa dominan tidak ‘rebutan’ dengan lengkingan gitar.

Namun hal yang menjadi highlight Scorpions malam itu tak lain, permainan solo drums dari Mikkey Dee. Drummer eks Motörhead ini menyuguhkan permainan drums fantastis selama tak kurang dari lima menit dengan begitu memukau. Digabung dengan permainan lighting, screen, dry-ice yang menakjubkan, drum-set Mikkey naik ke atas hampir menyentuh langit-langit venue selama permainan solo-nya diiringi gemuruh sorak-sorai dan tepukan tangan penonton mengikuti beat.

Crazy World Tour, yang tanpa disengaja digelar dikala dunia tengah diserang virus aneh, memang akhirnya harus terhenti tanpa kejelasan. Namun malam itu, penonton enggan untuk beranjak pulang, sebelum akhirnya band yang telah berkiprah kokoh di jalurnya selama lebih dari 50 tahun, kembali naik membawakan anthem-nya sebagai encore. Sebuah ballad klasik, “Still Loving You” dan tentu saja, “Rock You Like a Hurricane” menjadi penutup yang berkesan.

Sebuah pertunjukkan rock yang berhasil membawa fans bernostalgia ke masa lalu. Ketika rock dan metal merajai dunia. Ketika para guitar heroes menampilkan berbagai macam skill dan kemampuannya-nya. Ketika jeritan dan lengkingan mewakili hati para muda yang gelisah. Rock never dies! Sebuah ungkapan klise namun memang benar adanya. Klasik memang tetaplah klasik. Waktu itu sendiri yang akan membuktikannya. Whitesnake dan Scorpions sudah membuktikan hal tersebut.

Setlist Singapore Rockfest II Scorpions & Whitesnake

WHITESNAKE
Bad Boys
Slide It In
Love Ain’t No Stranger
Hey You (You Make Me Rock)
Slow an’ Easy
Ain’t No Love in the Heart of the City
Trouble Is Your Middle Name
Guitar Duel
Shut Up & Kiss Me
Drum Solo
Is This Love
Fool for Your Loving
Give Me All Your Love
Here I Go Again
Still of the Night

SCORPIONS
Going Out With a Bang
Make It Real
The Zoo
Coast to Coast
Top of the Bill / Steamrock Fever / Speedy’s Coming / Catch Your Train
We Built This House
Delicate Dance
Send Me an Angel
Wind of Change
Tease Me Please Me
Drum Solo
Blackout
Big City Nights

Encore:
Still Loving You
Rock You Like a Hurricane

=========================================

Teks dan foto: Wisnu H. Yudhanto | w1snu.com
Special thanks: LAMC Productions, Singapore

Related posts

Leave a Reply