Trending News

Blog Post

CreativeDisc Exclusive Interview with End of The World: Memakai Intuisi Agar Bisa Menulis Lagu Dalam Bahasa Inggris
Artist Interviews

CreativeDisc Exclusive Interview with End of The World: Memakai Intuisi Agar Bisa Menulis Lagu Dalam Bahasa Inggris 

Di Jepang, Sekai no Owari merupakan salah satu band yang paling populer. Band yang diisi oleh Nakajin, Fukase, Saori, dan DJ Love ini sudah masuk kategori band papan atas di Jepang dengan angka penjualan album dan single yang tinggi serta torehan berbagai macam penghargaan. Penampilan mereka di Jepang juga sarat akan tema karnaval dan sirkus dimana mereka menampilkan pertunjukan yang megah dengan berbagai macam latar panggung yang membawa penontonnya ke alam fantasi mereka. Mereka selalu dikaitkan dengan dunia fantasi karena tema lirik mereka yang bercerita seolah mereka sedang di dunia fantasi dan dongeng serta penampilan mereka yang seolah membawa dunia fiksi ke dunia nyata.

Setidaknya hal itu terjadi ketika mereka berada di Sekai no Owari tetapi ketika mereka mengganti baju mereka dengan nama End of The World untuk bisa bersaing dengan iklim musik internasional penampilan dan musik mereka seolah berbeda 180 derajat. Lirik mereka berubah menjadi lebih simpel dan tidak mendongeng, penampilan mereka lebih sederhana dan tidak memasukkan unsur fantasi secara berlebihan, dan musik mereka jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan apa yang mereka sudah lakukan dengan Sekai no Owari. Lewat End of The World mereka mencoba musik pop rock dengan balutan R&B dan dance music yang tentunya lebih masuk ke telinga pendengar internasional daripada musik Jepang mereka yang sangat meriah.

Meskipun demikian menurut sang vokalis Fukase tidak ada alasan khusus untuk itu. “Kami sebenarnya tidak terlalu terpaku harus membuat musik R&B dan dance lewat End of The World, kalau musiknya asyik maka kita buat”.

Album perdana mereka sebagai End of The World berjudul “Chameleon” telah dirilis dan menurut Fukase mereka memilih judul tersebut karena melambangkan perpaduan warna musik yang disuka orang Jepang dan yang disuka oleh pendengar internasional. “Berkali-kali kami mencoba memadukan warna musik yang cocok untuk kami dan ‘Chameleon’ melambangkan hal itu”, ungkap Fukase. Album ini menampilkan banyak bintang tamu mulai dari penyanyi Indonesia asuhan 88Rising NIKI, penyanyi pop asal Inggris Gabrielle Aplin sampai nama besar seperti DNCE dan Clean Bandit.

“Chameleon” merupakan album End of The World yang menggunakan bahasa Inggris secara penuh dan untuk membuat liriknya merupakan sebuah tantangan tersendiri “Membuat lirik berbahasa Inggris memang sulit buat kami karena banyak kata-kata yang tidak ada artinya ketika kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris contohnya ‘yoroshiku onegaishimasu’”, ucap Fukase. “Ditambah lagi kami bukanlah orang yang dari sananya bisa berbahasa Inggris jadi untuk mengakalinya kami menggunakan intuisi agar bisa menulis lagu dalam bahasa Inggris”. Sang gitaris Nakajin menambahkan, “lagu Inggris berbeda dengan lagu Jepang. Lagu Jepang terasa seperti bercerita sedangkan lagu Inggris lebih mengandalkan ritme dan beat jadi kami mengandalkan ritme dan beat untuk membuat lagu Inggris walaupun sebenarnya lagu Jepang juga banyak yang memakai ritme dan beat untuk membuat lagu.”

Sepanjang wawancara berlangsung End of The World menampakkan kesan serius dan berbeda terbalik dari musik yang mereka tawarkan dan keseriusan tersebut menunjukkan bahwa proyek internasional ini bukanlah proyek main-main, “kami sudah merancang proyek ini dari lama sekali”, ungkap Fukase. Tinggal waktu dan konsistensi untuk membuat musik yang siap didengarkan oleh pasar internasional yang membuktikan apakah mereka bisa dikenal di penjuru dunia sebagai End of The World.

Simak wawancara selengkapnya bersama End of The World yang membahas tentang proses pembuatan album terbaru mereka, perbedaan End of The World dan Sekai no Owari serta pandangan mereka terhadap musik Jepang saat ini yang sudah diterima oleh pendengar internasional lewat video di bawah ini:

Interview by Luthfi

Terima kasih kepada Sony Music Indonesia!

Related posts

Leave a Reply