CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Musisi asal Melbourne, Australia, Williamo Hyde, perlahan tapi pasti membangun reputasi sebagai salah satu talenta global yang menarik perhatian pasar Asia. Kini bermukim di Los Angeles, Will dikenal lewat storytelling yang emosional dan personal dalam karya-karyanya. Namanya semakin diperhitungkan setelah single ‘Dreams’ yang ia rilis bersama YENTED dan MRCH berhasil menembus posisi #6 di Spotify Thailand Viral Chart serta masuk dalam Apple Music Korea Top 100.
Tak heran jika banyak media kemudian menyebutnya sebagai salah satu musisi Australia yang cukup diperhitungkan di Korea Selatan. Terbaru, Will merilis single ‘better without me.’ bersama penyanyi Indonesia, Stephanie Poetri, yang dikenal luas lewat hit global ‘I Love You 3000’.
Dalam wawancara ini, Will Hyde berbagi cerita tentang perjalanannya sebagai musisi lintas benua, proses kreatif di balik kolaborasinya, hingga rencana masa depan yang semakin mengarah ke Asia.
“Ini Interview Pertamaku dengan Media Indonesia”
Ketika sesi wawancara dimulai, Will tampak sangat antusias. Bahkan ia membuka percakapan dengan satu kalimat dalam bahasa Indonesia.
“Senang bertemu dengan anda,” katanya sambil tersenyum.
Saat ini, Will sedang berada di kota kelahirannya.
“Aku lagi berada di Melbourne sekarang. Senang sekali bisa melakukan interview ini, apalagi ini pertama kalinya aku berbincang dengan media dari Indonesia.”
Perjalanan dari Australia ke Los Angeles
Meski lahir di Australia, perjalanan musik Will membawanya melintasi banyak tempat. Ia pernah tinggal dan bekerja di Amerika Serikat hingga Korea Selatan, pengalaman yang menurutnya cukup memengaruhi cara ia bermusik.
“Aku tinggal di Amerika dan sempat juga berada di Korea Selatan. Kedua tempat itu punya energi yang sangat berbeda, dan pengalaman itu tentu memengaruhi perspektifku dalam membuat musik.”
Membuat Musik yang Menjadi “Zona Nyaman”
Ketika ditanya siapa sebenarnya Will Hyde di balik angka streaming, jawabannya cukup sederhana: ia ingin musiknya menjadi ruang aman bagi para pendengar.
“Aku ingin membuat musik yang bisa menjadi zona nyaman bagi orang-orang, apa pun perasaan yang sedang mereka alami. Musik yang bisa mereka bagikan kepada orang-orang yang mereka cintai.”
Will juga mengaku cukup peduli terhadap isu kesehatan mental.
“Aku ingin musikku punya pengaruh yang baik bagi pendengar. Mental health adalah sesuatu yang sangat penting bagiku.”
Perjalanannya sejauh ini juga memberinya kesempatan bekerja dengan berbagai musisi dari Asia, sesuatu yang ia syukuri.
“Aku cukup beruntung bisa bekerja dengan musisi dari Thailand, Korea, dan berbagai tempat lainnya. Sejauh ini perjalanan itu sangat menyenangkan.”
Musisi Global Tanpa Batas
Sebagai musisi yang aktif bekerja lintas negara, Will merasa dirinya tidak terikat pada satu wilayah tertentu.
“Kalau boleh jujur, aku merasa lebih seperti musisi global tanpa batas. Musik punya kekuatan untuk menyatukan orang, apa pun bahasa yang mereka gunakan.”
Ia bahkan pernah merilis lagu dalam beberapa bahasa berbeda.
“Aku sudah membuat lagu dalam tiga bahasa berbeda. Bagiku menarik sekali mencoba membuat musik yang bisa dipahami orang dari berbagai belahan dunia dengan bahasa mereka sendiri.”
Belajar Bahasa Indonesia
Menariknya, Will juga mulai mempelajari beberapa bahasa Asia.
“Aku tahu sedikit bahasa Korea dan Thailand, bahkan pernah memasukkannya ke dalam lagu. Bahasa Korea menurutku sangat indah.”
Ia pun berharap bisa belajar bahasa Indonesia dalam sesi wawancara ini. Kami lalu mengajarinya beberapa kata sederhana:
• Terima kasih (Thank you)
• Apa kabar? (How’s it going?)
• Ayo (Let’s go)
“Aku suka belajar bahasa baru, Terima Kasih” katanya sambil tertawa.
Dukungan dari Bang Chan dan Nick Littlemore
Nama Will Hyde juga sempat mendapat perhatian setelah mendapat dukungan dari Bang Chan dari Stray Kids serta Nick Littlemore dari Empire of the Sun.
Pertemuannya dengan Nick Littlemore terjadi secara tidak sengaja.
“Saat itu aku sedang berada di Australia selama tiga minggu dan makan malam untuk urusan profesional. Aku melihat Nick Littlemore ada di tempat yang sama, lalu aku memberanikan diri menyapanya.”
Kebetulan mereka berada dalam naungan akuntan musik yang sama, yang kemudian membuka jalan untuk saling mengenal.
“Seminggu kemudian dia bahkan menyebut namaku di radio. Rasanya luar biasa ketika musisi besar seperti dia mendukung artis baru seperti aku.”
Sementara cerita dengan Bang Chan datang dari arah yang lebih tak terduga.
“Ada seseorang yang mengirim pesan kepadaku dan bilang dia merekomendasikan laguku ‘Misfit’ kepada Bang Chan. Ternyata dia memutarnya di sesi livestream.”
Will mengaku baru menyadari betapa besar dampaknya setelah mengetahui jutaan orang menonton siaran tersebut.
“Itu benar-benar mengubah banyak hal.”
Hubungan Organik dengan Musik Asia
Meski banyak berkolaborasi dengan musisi Asia, Will mengatakan semuanya berawal secara alami.
“Aku memang sangat menyukai musik dari Korea Selatan, terutama indie dan hip-hop. Dari situ semuanya berkembang secara natural.”
Namun sebagai musisi modern, ia juga menyadari pentingnya strategi.
“Di industri musik sekarang, kamu juga harus berpikir strategis agar bisa berkembang lebih luas.”
Dalam waktu dekat, ia juga berencana berkolaborasi dengan penyanyi Korea Selatan Moon Sujin dalam EP terbarunya.
Mengapa Pilih Stephanie Poetri Sebagai Rekan Duet?
Kolaborasi terbarunya bersama Stephanie Poetri ternyata berawal dari sebuah podcast miliknya bernama Really Mental, yang membahas isu kesehatan mental.
“Stephanie pernah menjadi tamu di podcastku. Saat itu kami membicarakan banyak hal tentang perubahan hidup dan bagaimana menghadapi ketidakpastian.”
Dari percakapan itulah ia merasa Stephanie bisa membawa perspektif baru untuk lagu ‘better without me.”
“Aku suka musiknya, dan menurutku suaranya luar biasa. Jadi aku menawarinya untuk terlibat di lagu ini.”
Lagu tentang Cinta dan Melepaskan
’better without me.’ bercerita tentang dinamika hubungan yang tidak lagi sehat.
“Kadang kita mencintai seseorang, tapi bertahan dalam hubungan itu justru tidak sehat. Lagu ini tentang menyadari hal itu.”
Bagi Will, lagu ini juga berbicara tentang menghargai diri sendiri.
“Terkadang mencintai seseorang juga berarti berani melepaskannya.”
Direkam di Waktu yang Berbeda
Menariknya, proses rekaman lagu ini berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
“Aku merekam vokalku sekitar tahun 2023. Lalu produser Flawed Mangoes mengerjakannya di tahun berikutnya. Stephanie baru merekam bagiannya di tahun 2025.”
Will bahkan memutuskan untuk tidak merekam ulang vokalnya.
“Aku ingin mempertahankan emosi yang ada saat pertama kali lagu itu direkam.”
Rencana Video Musik
Untuk saat ini, Will memastikan bahwa versi lyric video akan segera dirilis.
“Aku suka sekali proses kreatif di balik lyric video. Untuk video musik penuh, kita lihat nanti.”
Ia berharap lagu tersebut mendapat sambutan yang baik sehingga video musik resmi bisa menyusul.
Rencana Besar Tahun Ini
Ke depan, Will Hyde sudah menyiapkan banyak rencana.
Ia akan merilis EP terbaru berjudul “When You Look In My Eyes” pada bulan Mei. Setelah itu ia berencana kembali ke Korea Selatan untuk menjajaki peluang tampil secara langsung.
“Aku berharap bisa melakukan beberapa live show di sana tahun ini.”
Selain itu, ia juga dijadwalkan tampil di Thailand pada bulan Juni.
Dan tentu saja, Will memiliki satu harapan khusus.
“Aku juga bisa tampil di Indonesia setelahnya untuk pertunjukan pertamaku disana”
Dengan semakin banyaknya kolaborasi lintas negara dan pendekatan musik yang emosional, Will Hyde tampaknya sedang membangun sesuatu yang lebih besar: sebuah jembatan musikal yang menghubungkan berbagai budaya melalui cerita dan perasaan yang universal.
Simak interview selengkapnya berikut ini: