Trending News

Blog Post

Sheryl Sheinafia Melantunkan R&B dan Feminisme Melalui ‘Jennovine’
Album of The Day

Sheryl Sheinafia Melantunkan R&B dan Feminisme Melalui ‘Jennovine’ 

Album ketiga Sheryl Sheinafia menjadi wadah transformasi dari idola pop remaja menjadi musisi R&B

Secara teknis, “Jennovine” adalah album panjang (LP) ketiga Sheryl Sheinafia (mengikuti “Sheryl Sheinafia”, 2013, dan “ii”, 2017). Akan tetapi, re-invention yang terjadi sepanjang delapan track “Jennovine” seolah-olah mensinyalkan bahwa album terbaru Sheryl Sheinafia ini menjadi debutnya yang sesungguhnya. Tidak ada lagi balutan teen pop dengan vokal manis yang easy-listening. Melalui “Jennovine“, Sheryl Sheinafia hendak unjuk gigi sebagai seorang penyanyi, songwriter, dan produser yang patut dipandang serius.

Esensinya, “Jennovine” adalah album bergenre R&B. Meskipun Sheryl Sheinafia pernah mencicipi genre ini sebelumnya (‘Sweet Talk’, ketika dia berkolaborasi bersama Rizky Febian dan Chandra Liow), “Jennovine” menjadi wadah Sheryl Sheinafia untuk mengeksplorasi genre R&B secara lebih mendalam. Track-track seperti ‘bye’, ‘déjà vu’, dan ‘lose my mind’ merupakan classic R&B bop yang berhasil menyibakkan sisi Sheryl Sheinafia yang berbeda. Sementara itu, berkat asistensi produksi dari Petra Sihombing dan Rendy Pandugo, Sheryl Sheinafia mencoba eksperimentasi genre dengan hasil yang beraneka ragam. Track nomor empat ‘i wish i knew better’ menikahkan R&B dengan indie rock, sedangkan ‘pick up your phone’ menjadi perpaduan manis antara R&B bop dan bedroom pop. Bila harus menebak, tampaknya Sheryl Sheinafia memetik inspirasi dari H.E.R, Noah Cyrus, dan sedikit throwback pop sound a la Colbie Caillat.

Daya tarik utama dari “Jennovine”, selain banting setir Sheryl Sheinafia dari teen pop ke mature R&B, adalah konsep dari album itu sendiri. Dari segi konsep, “Jennovine” adalah narasi berdurasi kurang lebih 30 menit yang menceritakan sosok wanita muda yang siap merengkuh kemerdekaan dirinya dan menyambut cinta dengan semangat feminisme modern. Ketika Sheryl Sheinafia mendambakan sosok seorang lelaki (‘déjà vu’) atau merindukan sang kekasih (‘pick up your phone’), tidak sekali pun dia memposisikan dirinya sebagai damsel-in-distress yang pasif akan situasi. Bahkan, ketika dia memerdekakan diri dari tekanan eksternal (‘okay’) atau toxic relationship (‘bye’), Sheryl Sheinafia menceritakan kesaksiannya tanpa terkesan menyalahkan atau menghakimi. She’s embracing every romance and every heartbreak–and that is very inspiring.

Sayang sekali, yang menjadi kelemahan terbesar dari ‘Jennovine’ adalah karisma Sheryl Sheinafia yang masih perlu ditempa. Tantangan terbesar membawakan musik R&B adalah dibutuhkan karisma dan personality yang khas dari sang vokalis untuk ‘menjual’ setiap “sass”, “chill” dan “vibe” ke telinga pendengar. Kurangnya karisma tersebut membuat Sheryl Sheinafia belum berhasil menyulap ‘déjà vu’ menjadi sexual healing a la Teza Sumendra. Selain itu, terkadang warna manis teen pop dari masa lalu Sheryl Sheinafia masih menyeruak ke dalam vokalnya.

Singkat kata, “Jennovine” mungkin adalah risiko terbesar yang pernah diambil Sheryl Sheinafia sepanjang karirnya. Sebagian besar berhasil dengan mengesankan, sedangkan sisanya masih bisa lebih baik lagi. Akan tetapi, bila pendengar bersedia membuka hati untuk re-invention Sheryl Sheinafia ini, pastinya mereka akan segera menemukan sosok panutan muda yang fearless, sophisticated, dan inspiring.


IN A NUTSHELL:

+ “Jennovine” menampilkan evolusi Sheryl Sheinafia sebagai musisi R&B yang matang, dewasa, berkomitmen, dan inspiring

Karisma Sheryl Sheinafia sebagai musisi R&B (khususnya untuk slow jam) masih perlu ditempa

 

RECOMMENDED TRACKS:

‘okay’, ‘bye’, ‘pick up your phone’

 TENTANG PENULIS

Felix Martua adalah penulis, editor, traveler, kurator, dan cataloger bilingual (Bahasa Inggris dan Indonesia) untuk musik, hiburan dan all things pop culture. Felix bisa dihubungi via felix.martua@yahoo.com

Related posts

Leave a Reply