Trending News

Blog Post

Utada Hikaru Menawarkan Sisi Sensual Nan Intim Lewat Single “Pink Blood”
Music News

Utada Hikaru Menawarkan Sisi Sensual Nan Intim Lewat Single “Pink Blood” 

Ketika mendengar nama Utada Hikaru pasti semua pendengar musik Asia dan Jepang selalu mengaitkannya dengan vokal yang menenangkan, rapuh, dan sensual dalam waktu bersamaan. Dari jamannya lagu “First Love” sampai sekarang Utada selalu berhasil membawakan lagu pop dan R&B dengan sangat baik entah itu lagunya super pelan atau cepat sekalipun seolah-olah emosi dan curahan hati dari Utada tertuang di lagu tersebut (dan itu membuat jarak perilisan antar lagu darinya begitu lama untuk ukuran seorang superstar musik Jepang yang biasanya menuntut jarak perilisan lagu begitu cepat agar hype artis tersebut tidak hilang meskipun hasil akhirnya terasa aneh dan terlalu dibuat-buat).

Setelah ia merilis lagu “One Last Kiss” yang didaulat menjadi lagu penutup untuk film terakhir seri anime sensasional Rebuild of Evangelion: Evangelion 3.0+1.0 ia langsung merilis single terbarunya “Pink Blood” dalam waktu kurang dari tiga bulan. Jika “One Last Kiss” merupakan perpaduan sempurna antara cerita pahit manisnya sebuah cinta dengan unsur musik dancehall, electropop dan hyperpop racikan sang produser pentolan PC Music A.G. Cook yang sebelumnya menangani Charli XCX, Jonsi, dan Caroline Polachek kali ini Utada memainkan musik alternative R&B yang sensual lewat “Pink Blood”.

Diracik bersama produser alternative R&B kenamaan di Jepang dan merupakan partner bermusik Utada yang baru yaitu Nariaki Obukuro “Pink Blood” menawarkan musik sensual yang rapuh dan seksi dari Utada. Lagu ini diawali dari vokal lirih dari Utada dan diiringi langsung oleh musik alternative R&B yang ritmis dengan bantuan drum machine, ketukan gitar yang halus, dan vokal R&B yang kental darinya. Sepanjang lagu berjalan Utada terus konsisten dengan musiknya malah unsur sensual darinya semakin kuat ketika lagu terus berjalan dan membuat pendengarnya tidak merasakan bahwa lagu ini tiba-tiba selesai begitu saja.

Secara produksi lagu ini benar-benar mengikuti sisi sensual dan intim yang dibawakan Utada tanpa terdengar seducing dan terus menjaga sisi keintiman tersebut dengan rapat. Bunyi-bunyian yang mengalun dengan sangat baik dan berpadu dengan sangat intim ditambah dengan efek vokal Utada yang seolah membisikkan sesuatu ke telinga pendengarnya di bagian kiri dan kanan ketika mendengarkan di earphone/headphone. Efek ini memberikan pengalaman intim kepada pendengarnya seolah-olah Utada mengajak pendengarnya untuk turut merasakan apa yang ia rasakan di lagu ini.

Ngomong-ngomong soal perasaan yang ingin ditumpahkan Utada di lagu ini ia ingin berbicara kepada pendengarnya untuk mencintai dirinya sendiri dan itu diungkapkan lewat sepenggal bait ini, “Tidak ada gunanya dihargai oleh orang yang tidak tahu betapa berharganya diriku, aku harus berhenti bekerja keras jika itu tidak berguna untuk diriku sendiri.”

Bait tersebut mungkin ditujukan kepada dirinya sendiri yang sedang dalam proses menyembuhkan dirinya sendiri setelah ia mengalami perceraian dan mempunyai masalah kepercayaan dalam sebuah hubungan (sesuatu yang ia sempat sampaikan kepada para penggemarnya melalui sesi tanya jawab di Instagramnya). Setelah bait tersebut dinyanyikan beberapa bait kemudian Utada mengungkapkan perasaannya untuk bangkit kembali dari masalah personal yang ia hadapi lewat penggalan lirik ini.

“Aku tidak takut lagi oleh kehilangan sesuatu yang mengisi lubang di hatiku, karena aku sadar hanya aku yang bisa menyembuhkan diriku sendiri.”

Sebuah pernyataan yang tegas olehnya dibalik iringan musik yang sensual dan intim.

Fakta yang lebih mengejutkan adalah bahwa lagu se-intim dan se-sensual ini dipakai untuk mengiringi anime yang diadaptasi dari komik buatan Yoshitoki Ooima berjudul “Fumetsu no Anata e” atau dalam bahasa Indonesianya berjudul Untukmu Yang Abadi. Cerita yang dibawakan oleh anime-nya dengan lagu “Pink Blood” merupakan perpaduan yang sangat sempurna dimana Untukmu Yang Abadi bercerita tentang sebuah makhluk abadi yang menjadi manusia dan mencoba memahami makna menjadi manusia yang sesungguhnya dengan balutan drama tentang hidup yang akan membuat penontonnya menangis dan mempunyai perspektif yang lebih luas soal memaknai hidup dan mencintai diri sendiri sambil menemukan jati diri yang sebenarnya. Utada disini mencoba menggebrak kebiasaan lagu tema untuk anime yang biasanya bernada cepat dan mempunyai musik tidak beraturan yang membuat bingung pendengar musik awam dan hanya bisa didengarkan oleh pecinta anime saja. Ini merupakan lagu tersensual dan terintim untuk sebuah lagu tema untuk anime dan bisa jadi sehabis ini banyak lagu tema untuk anime yang lebih intim, jujur dengan musik yang rapi dan berbeda dari norma musik anime agar pesan dari lagu tersebut bisa mengikuti tema besar anime-nya dan bisa didengarkan telinga pendengar orang awam.

Lewat cuitannya di Twitter ia mengatakan bahwa album barunya “akan berbicara banyak soal memperbaiki hubungannya dengan diri sendiri dan mencoba lebih jujur terhadap diri sendiri sambil mengobati perihnya sebuah hubungan dan melalui single “Pink Blood” kita bisa merasakan hal itu. Dibalik tema dan lagunya yang begitu halus Utada mencoba menjadi lebih kuat dan lebih mencintai dirinya sendiri dan menggoda pendengarnya lewat suaranya yang sensual untuk merasakan hal yang sama. Sebuah godaan yang sangat positif karena bisa membawa pendengarnya menjadi pribadi yang lebih baik dan sejauh ini “Pink Blood” menjadi lagu tema untuk anime terbaik sepanjang dekade 2020’an dan tentu saja kedua yang terbaiknya adalah single Utada sebelumnya yaitu “One Last Kiss”.

Related posts

Leave a Reply

windows 10 pro kaufen office 2019 pro kaufen office 365 pro kaufen windows 10 home kaufen windows lizenz kaufen instagram follower kaufen tiktok follower kaufen windows 10 pro satın al office 2019 pro satın al office 365 pro satın al windows 10 home satın al windows lisans satın al windows 10 satın al

sexemodel escort escort