Kasus Dugaan Bullying Hanni NewJeans Ditutup oleh Kementerian Ketenagakerjaan Korea: Status Pekerja Jadi Isu Utama

Oleh: Achmad Bagas - 21 Nov 2024

Kasus dugaan bullying terhadap Hanni, anggota girl group NewJeans, resmi ditutup oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan Perburuhan Korea pada Rabu (20/11). Penyidikan yang semula diharapkan bisa memberikan kejelasan terkait insiden tersebut akhirnya dihentikan karena Hanni tidak dianggap sebagai seorang karyawan menurut hukum ketenagakerjaan Korea.

Kantor Ketenagakerjaan Seoul mengungkapkan bahwa setelah memeriksa kasus ini, mereka menyimpulkan bahwa sangat sulit untuk menganggap Hanni sebagai pekerja berdasarkan Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan.

Pihak kementerian menjelaskan, “Sulit untuk menganggap Hanni sebagai pekerja karena hubungan yang ada antara dia dan agensinya, ADOR, lebih bersifat kontraktual daripada hubungan kerja yang diatur oleh undang-undang ketenagakerjaan.”

Hanni, yang baru berusia 20 tahun dan lahir dengan nama Phạm Ngọc Hân, pertama kali muncul di industri hiburan sebagai anggota NewJeans, grup yang berada di bawah naungan sub-label HYBE, ADOR, pada tahun 2022.

Kasus ini mencuat setelah Hanni, dalam sebuah siaran langsung YouTube pada bulan September, mengungkapkan pengalamannya merasa diabaikan oleh manajer artis dari grup lain di bawah manajemen HYBE (ILLIT).

Dalam pengakuannya, Hanni menceritakan sebuah kejadian di kantor pusat HYBE di Seoul, di mana manajer grup lain mengatakan kepada artis mereka untuk “mengabaikan” Hanni saat dia menyapa mereka di ruang tunggu.

Hanni menyampaikan kesaksian ini sambil menangis di hadapan Komite Lingkungan dan Ketenagakerjaan Majelis Nasional Korea, menyatakan, “Saat itu, saya sedang menunggu di lorong karena rambut dan tata rias saya sudah selesai. Saya menyapa mereka, tapi mereka malah kembali dengan tatapan kosong. Manajer itu kemudian berkata dengan tegas, ‘Abaikan dia seolah-olah kalian tidak melihatnya.’ Saya tidak mengerti kenapa saya diperlakukan seperti itu dalam lingkungan kerja.”

Tak hanya satu kali, Hanni juga berbagi perasaan sering merasa diremehkan oleh tim manajemen, yang membuatnya merasa tidak dihargai dan diabaikan. Ia mengungkapkan, “Kami semua manusia, dan saya merasa banyak orang yang lupa tentang itu. Saya tahu kontrak untuk artis dan trainee mungkin berbeda, tetapi pada akhirnya kita semua adalah manusia.”

Namun, kantor Ketenagakerjaan Seoul dalam penyelidikan mereka menekankan bahwa hubungan antara Hanni dan ADOR adalah hubungan kontraktual yang saling menguntungkan. Pihak kementerian menambahkan, “Dalam hal ini, baik perusahaan maupun Hanni memenuhi kewajiban mereka dalam kontrak, namun tidak ada hubungan subordinasi yang bisa dianggap sebagai hubungan kerja formal.”

Selain itu, keduanya memiliki kewajiban masing-masing terkait biaya dan pajak, di mana Hanni membayar pajak penghasilan sebagai pebisnis, bukan sebagai pekerja.

Putusan ini menuai berbagai reaksi, mengingat status pekerja dalam industri hiburan sering kali menjadi topik perdebatan di Korea.

Meski Hanni bukanlah karyawan tetap, klaimnya terkait pelecehan dan pengabaian mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak artis yang terikat kontrak dengan agensi besar, yang sering kali menghadapi perbedaan antara status pekerja dan peran mereka sebagai selebriti.

Meskipun kasus ini ditutup, banyak yang berharap agar perusahaan hiburan di Korea dapat lebih memperhatikan kesejahteraan mental dan fisik artis-artis mereka, mengingat dampak yang bisa ditimbulkan oleh hubungan kerja yang tidak seimbang.

Author

Achmad Bagas

More from Creative Disc