We’ll carry on! atau yang berarti “Kami akan terus maju,” vokalis ikonik My Chemical Romance yang bernama Gerrard Way menegaskan akan kembali membawakan ‘The Black Parade’ yang dirilis pada 2006 untuk terpilihnya Donald Trump dalam kedua kalinya di pemilu AS.
Hal ini membuat pendukung Trump geram lantaran ‘The Black Parade’ merupakan lagu seruan untuk besatu, sebuah pengingat jika perjuangan, keadilan harus tetap dipertahankan selama-lamanya. Lirik dan instrument dari ‘The Black Parade’ sangat mencerminkan dari seruan perjuangan melawan ketidakadilan,
When I was a young boy/My father took me into the city/To see a marching band/He said, “Son, when you grow up/Would you/be the savior of the broken/The beaten and the damned?”
Lihat! seperti lirik perjuangan bukan? Gerrard kembali membawakan hal ini dikarenakan banyaknya kontroversi tentang buruknya Demokrasi dalam pemilihan Presiden AS terutama saat Donald Trump bersaing dengan calon Presiden yang bergender Perempuan. Pertama adalah Hillary Clinton (2016) dan Kamala Harris (2024).

Dua calon Presiden perempuan AS diatas memiliki banyak sekali dukungan bahkan banyak sekali musisi-musisi ternama. Pemilu AS kemarin, saat Kamala Harris menjadi calon Presiden AS memiliki dukungan dari Taylor Swift, Lady Gaga, Billie Eilish, Beyoncé dan masih banyak lagi. Hasilnya? Nihil, Donald Trump menang tipis pada Pemilu AS 2024 kemarin. Bahkan kekuatan Swifties tidak bisa menyaingi seorang Donald Trump.
Kontroversi ini juga terjadi pada 2016 saat lawannya Hillary Clinton, Donald Trump juga menang tipis.
Akhirnya, banyak sekali dari musisi-musisi pendukung Kamala Harris yang mengujar jika “AS membenci perempuan” “AS tidak memiliki empati terhadap perempuan.”
Tidak hanya musisi-musisi bergender perempuan saja yang ikut geram karena terpilihnya Donald Trump di jabatan kedua sebagai Presiden AS, musisi Laki-laki lainnya seperti Eminem, Post Malone, Finneas, hingga vokalis My Chemical Romance, Gerrard Way yang secara tidak langsung turut serta dalam menyuarakan hal ini.
Tur “Long Live the Black Parade” tiba-tiba saja diumumkan oleh My Chemical Romance padahal tidak bertepatan dengan ulang tahun album tersebut. Lantas bagaimana secara mendadak mereka mengumumkan pada Sabtu, 16 November, kemarin dalam kanal Instagram resminya grup band metal tersebut mengumumkannya?
Tur “Long Live the Black Parade” akan tiba saat AS memasuki bulan keenam (11 Juli 2025) dimana Donald Trump resmi dilantik 20 Januari 2025 yang disebut “kebijakan anti-demokrasi yang mengerikan” atau Kediktatoran masa Donald Trump kembali. ‘The Black Parade’ dikontekstualisasikan menjadi penderitaan dan kesedihan nasional atas demokrasi Amerika.
My Chemical Romance dibentuk pasca tragedi “9/11” (serangan terorisme Al-Qaeda yang membajak pesawat Amerika Serikat yang menabrak Gedung) ini memang tak asing dengan isu politik, mengingat vokalis Gerard Way terinspirasi membentuk band setelah menyaksikan langsung runtuhnya World Trade Center dari dermaga Hudson River.
Dalam unggahan Instagram terbaru yang menandai 20 tahun perjalanan band, MCR menulis pesan yang mengundang interpretasi beragam: “Hari ini, kita bersama-sama menjadi lebih tua dan lebih bijak, tetapi masih ada untuk terus maju saat kita mendengar panggilan.”
Pesan ini dianggap sebagai respons terhadap situasi politik terkini, khususnya terkait ancaman fasisme yang mereka persepsikan dari Donald Trump.
David Fricke seorang Jurnalis dari Rolling Stone pernah menulis dalam ulasannya tentang album “The Black Parade,” bahwa musik MCR berbicara tentang ketakutan generasi muda menghadapi “neraka di bumi” yang semakin mengerikan.
Kini, dua dekade berselang, pesan tersebut seolah menemukan relevansi barunya.
Langkah kontroversial ini menuai reaksi beragam dari penggemar. Sebagian mendukung keterlibatan band dalam isu sosial-politik, sementara lainnya mengkritik MCR yang dianggap ‘memolitisasi’ musik mereka. Terlepas dari kontroversi, hal ini menunjukkan konsistensi MCR dalam mengangkat isu-isu sensitif sejak awal karir mereka.