Malam Abadi Penuh Emosi: Babyface, Raisa, dan Keajaiban R&B Klasik di Beach City International Stadium

Oleh: rendy-salendu - 27 Oct 2025

PHOTO: SULINDA SUMARDI
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA
– Sabtu malam kemarin (25/10) sungguh menjadi salah satu malam bersejarah yang wajib dicatat di kalender para pencinta musik R&B Jakarta. Di bawah langit Ancol, di dalam arena megah Beach City International Stadium, Babyface — sang legenda dengan koleksi 13 Penghargaan Grammy — hadir membawa suasana romansa klasik, sentuhan intim, dan kolaborasi lintas generasi yang tak terlupakan.

Acara ‘With Love from BRI Presents Babyface — Live in Jakarta 2025’ yang diselenggarakan oleh BRI bersama Otello Asia dan Enjoy Live Experience ini berhasil menarik perhatian penonton dari berbagai usia. Mulai dari generasi 90-an yang datang untuk bernostalgia hingga para penikmat R&B muda, semuanya hadir dengan antusiasme yang tinggi. Kehadiran Babyface kali ini benar-benar menjadi pengobat rindu, mengingat kunjungan terakhirnya di Jakarta sudah lebih dari satu dekade yang lalu.

Konser ini sukses menyuguhkan paket lengkap: nostalgia yang memanjakan hati dan relevansi yang menginspirasi. Bagi kami, para penggemar lama, malam itu adalah perjalanan kembali ke masa emas R&B melalui suara dan produksi ikonik Babyface. Bagi penonton muda, ini adalah kesempatan langka menyaksikan langsung master class vokal dan panggung dari figur legendaris. 

Semaraknya malam semakin terasa dengan kehadiran empat penyanyi papan atas tanah air. Ada Sammy Simorangkir, Rio Febrian, dan Marcell Siahaan yang tampil memukau sebagai pembuka, membawakan hits mereka masing-masing. Puncaknya, Raisa muncul sebagai tandem duet Babyface yang berhasil menyihir penonton di tengah setlist-nya.

Banyak hal yang menjadi highlight dalam konser satu malam tersebut. Yang paling mengagumkan adalah stamina dan semangat dari penyanyi bernama asli Kenneth Edmonds itu sendiri. Di usianya yang menginjak 66 tahun, Babyface tetap tampil penuh energi, membawakan deretan lagu hits-nya dengan vokal yang stabil dan ekspresi yang tulus. Setiap lagu ia sampaikan dengan kehangatan khasnya, membuat kami tak hanya bernyanyi bersama, tapi juga larut dalam emosi dan kenangan yang ia bangkitkan.

Selain penampilannya, tentu saja deretan lagu yang dibawakan sangat mengundang nostalgia. Mulai dari ‘Every Time I Close My Eyes,’ ‘Whip Appeal,’ ‘Never Keeping Secrets,’ hingga ‘When Can I See You Again’ semuanya mengalun dengan aransemen baru, namun tetap setia pada nuansa R&B klasik. Setiap intro lagu disambut dengan sorakan riuh, menjadi bukti betapa besar pengaruh Babyface di hati penggemar musik lintas generasi.

Tak hanya hits miliknya, Babyface juga membawakan koleksi lagu-lagu populer yang ditulisnya untuk artis lain. ‘Water Runs Dry’, ‘I’ll Make Love To You’, dan ‘End of The Road’ milik Boyz II Men, ‘Can We Talk’ dari Tevin Campbell, serta ‘Superwoman’ yang dipopulerkan oleh Karyn White mampu membawa kami semua larut dalam nostalgia era keemasan R&B tahun 1990-an. Suasana di area konser terasa semakin hangat dan intim, ketika ribuan penonton ikut bernyanyi bersama, membuktikan betapa abadi dan berpengaruhnya karya-karya Babyface hingga kini.

Kemunculan Raisa menjadi salah satu yang paling ditunggu-tunggu. Duetnya bersama sang bintang utama dalam membawakan hits milik Toni Braxton (‘How Could An Angel Break My Heart’, ‘Breathe Again’ & ‘You Mean The World To Me’) dan Madonna (‘Take A Bow’) sukses menghadirkan momen kolaborasi yang elegan, emosional, dan sangat berkesan bagi seluruh penonton.

Puncaknya adalah saat Babyface memberikan penghormatan kepada mendiang Whitney Houston dengan membawakan medley hits yang turut ditulisnya, yaitu ‘Exhale (Shoop Shoop)’, ‘Count On Me’, dan ‘When You Believe’ dengan penuh kehangatan. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling menyentuh sepanjang konser, di mana kami turut bernyanyi bersama sambil mengenang sosok diva legendaris yang pernah bekerja sama begitu dekat dengan Babyface.

Di sepanjang penampilannya, Babyface tak hanya menyanyi; ia juga bercerita tentang proses kreatifnya, bagaimana ia menulis lagu-lagunya di era 80–90-an, dan betapa pentingnya cinta dan kerjasama dalam musik. Hal ini menambah kedalaman pada ‘show’ yang kami saksikan, menjadikannya lebih dari sekadar konser biasa.

Konser Babyface kali ini benar-benar menjadi lebih dari sekadar acara musik, ia adalah perayaan lintas generasi, perpaduan antara legenda global dan talenta lokal, serta malam yang mengundang kami semua untuk merasakan ‘keabadian’ lagu cinta dalam waktu nyata. 

Author

rendy-salendu

More from Creative Disc