PHOTO: SULINDA SUMARDI
CREATIVEDISC.COM – BALI – Belajar dari “pengalaman” di hari pertama, penyelenggaraan Djakarta Warehouse Project 2025 di Day 2 terasa lebih rapi. Panitia terlihat lebih sigap, alur pergerakan pengunjung mulai dipahami dengan lebih baik, dan kru yang lebih standby. Meski begitu, dari sisi produksi, nuansanya masih terasa minimal. Entah efisiensi, entah memang ada penyesuaian anggaran. Uhuk!
Day 2 DWP juga seperti punya satu identitas jelas: Techno. Tidak semuanya sih, tapi dominan. Ini tercermin dari pengunjungnya. Jika hari pertama dipenuhi crowd muda dan FOMO, hari kedua diisi penonton yang datang karena genre. Tetap liar, tapi lebih tertata. Dari sisi audiens, hari kedua DWP lebih “menang”.
Sejak pukul 18.00 WITA, beat techno sudah menghajar tanpa kompromi. Di Cosmic Station, Evan Virgan membuka dengan track-track kencang. Sementara di Garuda Land, DJ XYRA—salah satu local gem dari Bali—benar-benar tahu cara memanaskan suasana. Bayangkan: jam 6 sore sudah disuguhi techno yang hard. Puncaknya ketika ia me-remix dua lagu daerah, salah satunya ‘Yamko Rambe Yamko’, ke dalam versi techno. Jujur, ini salah satu momen paling “gong” di pembukaan day 2. Di Orbit360 Stage, duo kakak-beradik Giorgino Abraham dan Lorenzo Abraham tampil di bawah nama Broertjes, menegaskan arah party malam ini: techno adalah genre wajib!
Dipha Barus mengambil alih Garuda Land dengan caranya sendiri. Di sela-sela party, ia mengajak penonton untuk tidak lupa berdoa bagi teman-teman di Sumatera. Layar DWP menampilkan tulisan #PRAYFORSUMATRA besar-besar, sementara Dipha tetap menggeber set techno-nya. Lagu-lagunya pun mendapat sentuhan ulang—‘Rima Raga’, yang versi aslinya lebih kalem dengan vokal Kunto Aji, diubah jadi lebih cepat dan penuh energi, selaras dengan tema malam itu.
Di stage lain, nama-nama seperti DJ Ten, DJ Roots, Gish, dan Jabi juga bermain. Namun terlihat jelas, banyak penonton memilih bertahan di Garuda Land, menanti Wishnu Santika. Confetti kertas, semburan api, efek laser yang sering muncul di lagu-lagunya ‘Mi Casa’, ‘Que Pasa’, hingga ‘Kartel’ langsung mengaktifkan mode party semua orang. Wishnu juga membawakan lagu barunya, ‘I’ll Be Yours’, bersama Rey Putra dan Cosmo Kent.

PHOTO: SULINDA SUMARDI
Setelah itu, Paul van Dyk mengambil alih Garuda Land, sementara LTN dan RBA mengisi panggung lain. Persaingan antar stage malam itu benar-benar seimbang. Beat techno datang dari tiap panggung, sampai muncul dilema: bertahan atau pindah stage? Di sinilah Day 2 terasa unik—semua stage sama-sama ramai. Setiap DJ seolah sudah punya “jamaah”-nya sendiri.

PHOTO: SULINDA SUMARDI
DJ Nifra di Cosmic Station, misalnya, tampil sangat solid dengan permainan laser yang terasa lebih ‘wow’ daripada hari sebelumnya. Ditambah drone show yang tetap terlihat dari area ini meski pusatnya ada di Garuda Land.
Makin malam, DubVision, Matisse & Sadko, dan Third Party tampil back-to-back. Set mereka penuh energi, termasuk remix ‘Rolling in the Deep’ milik Adele. Momen puncaknya datang saat ‘Butterflies’ diputar—ada yang naik ke meja DJ, dan mengibarkan bendera Indonesia, diiringi hujan confetti. Simple, tapi efektif. TOP!

PHOTO: SULINDA SUMARDI
Aksi hari kedua ditutup oleh Charlotte de Witte. Tampil pukul 01.30 WITA, satu-satunya DJ perempuan di Top 10 DJ Mag Top 100 DJs 2025 ini tahu persis cara menutup malam bertema techno. Bass yang menghantam, beat yang rapat, tanpa basa-basi. Set yang terasa tepat untuk mengakhiri hari kedua.
Namun, maaf, bintang utama malam itu… bukan DJ…
Adalah Pawang Hujan.
Saat sebagian wilayah Bali, termasuk Kuta, malam itu diguyur hujan hingga banjir, area GWK hanya kebagian gerimis ringan. Langit memang tampak oranye (BANGET!), tapi hujan besar tak pernah benar-benar turun sampai penonton meninggalkan venue.
Dan seperti sudah diatur, hujan baru “dilepas” saat semua orang sampai rumah.
Salute, Bli Pawang Hujan!