CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Setelah sempat vakum akibat masalah vokal yang membuatnya tidak bisa bernyanyi selama beberapa waktu, penyanyi berdarah Taiwan-Amerika, Luke Chiang, akhirnya resmi merilis album debutnya bertajuk “TYPHOON”. Dalam wawancara bersama Creativedisc, Luke Chiang mengungkapkan bahwa perilisan album ini terasa sangat emosional sekaligus surreal baginya. Ia telah lama memimpikan memiliki sebuah album penuh, dan ketika akhirnya terwujud, perasaan yang muncul justru lebih banyak berupa rasa syukur atas perjalanan yang dilalui. Baginya, proses kreatif selama membuat album, bertemu dengan banyak musisi baru, berbagi ide, dan menciptakan kenangan, menjadi bagian paling berharga dari pengalaman tersebut.
Pemilihan Judul Album
Judul “TYPHOON” sendiri memiliki makna yang sangat personal. Luke Chiang menceritakan bahwa pada tahun 2019 ia sempat kembali ke Taiwan saat musim topan. Sepulang dari perjalanan itu, ia mulai mengalami masalah pada suaranya. Meski badai tersebut bukan penyebab langsung dari kondisi vokalnya, periode tersebut kemudian ia asosiasikan dengan berbagai gejolak emosional yang ia alami. Bagi Luke, “typhoon” menjadi simbol dari masa penuh ketidakpastian, ketakutan, serta perjuangan yang ia hadapi saat mencoba menemukan kembali jalannya sebagai musisi.
Kehilangan Suara dan Ketakutan Tidak Bisa Lagi Bernyanyi
Selama masa sulit tersebut, Luke mengaku sempat merasa takut tidak bisa kembali melakukan hal yang ia cintai. Ia bahkan sempat berpikir bahwa karier musiknya mungkin telah berakhir. Namun dukungan dari keluarga, teman, serta para pendengar, terutama dari Asia Tenggara, memberinya kekuatan untuk terus bertahan. Ia secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendengar di wilayah ini yang tetap mendukung dan memutar musiknya selama ia menjalani proses pemulihan.
Single ‘me & u’ bersama HILLARI
Salah satu lagu yang menjadi sorotan dalam album ini adalah ‘me & u’, sebuah duet lembut bersama penyanyi Filipina-Norwegia, HILLARI. Lagu ini membahas tentang keberanian untuk memilih berkomitmen dalam hubungan meskipun diwarnai rasa tidak aman. Luke menjelaskan bahwa pesan tersebut juga tercermin dalam voice memo di awal lagu yang menampilkan suara ibunya berbicara dalam bahasa Mandarin, yang pada dasarnya menyampaikan bahwa cinta pada akhirnya bukan sekadar perasaan, melainkan pilihan yang terus dipelihara dari waktu ke waktu.
Kolaborasi dengan Berbagai Musisi
Album “TYPHOON” juga menampilkan sejumlah kolaborasi dengan musisi seperti HILLARI, Albert Posis, Jesse Barrera, serta Bren Joy. Luke mengatakan bahwa setiap kolaborator membawa warna emosional yang berbeda dalam album ini. Ia bahkan mengaku bahwa bekerja dengan Jesse Barrera memengaruhi cara ia membawakan vokal dan melodi dalam beberapa lagu. Bagi Luke, kolaborasi tersebut bukan hanya memperkaya musiknya, tetapi juga menjadi pengalaman kreatif yang menyenangkan selama proses pembuatan album.
Indonesia Jadi Basis Pendengar Terbesar Luke Chiang
Menariknya, Luke Chiang juga menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu basis pendengar terbesarnya. Ia mengaku sangat bersyukur mengetahui bahwa musiknya mendapat sambutan hangat dari pendengar di sini, dan bahkan berharap suatu hari bisa datang untuk tampil langsung. Kini, setelah melewati “badai” yang ia gambarkan dalam “TYPHOON”, Luke memilih untuk melangkah ke fase berikutnya dengan lebih santai. Ia tidak ingin memaksakan inspirasi, melainkan membiarkan perjalanan hidupnya mengalir dan melihat ke mana arah musiknya akan berkembang selanjutnya.
Berikut video interview bersama Luke Chiang selengkapnya: