CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Band alt-rock asal Texas, Culture Wars akhirnya merilis album debut mereka berjudul “Don’t Speak” pada 10 April 2026 melalui label AWAL. Perilisan ini menandai tonggak penting dalam perjalanan karier mereka, setelah serangkaian pencapaian impresif sepanjang tahun terakhir.
Nama Culture Wars mulai mencuri perhatian lewat single ‘It Hurts’ yang berhasil menembus Top 20 tangga lagu radio alternatif, sekaligus mengantarkan mereka meraih lebih dari 66 juta streaming secara global. Mereka juga telah berbagi panggung sebagai opening act untuk sejumlah musisi besar seperti Maroon 5, Keane, Wallows, hingga LANY.
Lewat album “Don’t Speak”, Culture Wars menghadirkan eksplorasi yang terasa personal dan jujur—baik dari sisi lirik maupun musikalitas. Lagu-lagu seperti ‘Typical Ways’, ‘Lies’, ‘Bittersweet’, dan ‘In The Morning’, merangkum perjalanan emosional mereka: menghadapi masa lalu, bergulat dengan ketidakpastian, hingga menemukan bentuk kedewasaan sebagai sebuah band.
Dalam wawancara eksklusif bersama CreativeDisc, sang vokalis Alex Dugan dan bassis Dillon Randolph berbagi cerita tentang filosofi bermusik mereka, proses panjang di balik album debut, hingga harapan untuk suatu hari menyapa penggemar di Indonesia.
Ketika diminta menggambarkan kondisi mereka saat ini dalam satu kata, band ini sempat mempertimbangkan beberapa pilihan. Namun pada akhirnya, satu kata terasa paling tepat: organik.
“Kami sempat mempersempit pilihan dari tiga kata. Awalnya terdengar seperti istilah swalayan, tapi pada akhirnya organik terasa paling menggambarkan kami. Kami adalah lima orang pria dari Texas yang menulis dan merekam musik sendiri dan melakukan hampir semuanya sendiri.
Kami sangat terlibat dalam setiap proses. Kami menumbuhkan semuanya dari tanah kami sendiri. Jadi ya, organik.”
Bagi pendengar baru, definisi mereka sebenarnya sederhana. “Culture Wars hanyalah sebuah band rock. Kami sudah saling mengenal cukup lama, dan ini memang apa yang kami lakukan. Sederhana saja, kami membuat musik bersama.”
Nama mereka bukan sekadar estetika. Ada filosofi yang cukup dalam di baliknya.
“Kami memikirkan banyak nama sebelumnya, tapi yang ini terasa paling tepat. Kami semua berasal dari latar belakang yang berbeda dan tumbuh dengan cara yang sangat berbeda.
Kami punya pandangan yang berbeda tentang banyak hal; musik, dunia, bahkan politik. Tapi kami tetap bisa berkumpul, menciptakan musik, dan bersatu di band ini.
Bagi kami, itulah keindahannya: menemukan kompromi. Musik adalah latihan yang disengaja untuk bekerja sama dan menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada yang bisa kami lakukan sendiri.”
Menurut sang vokalis, judul album dipilih karena memiliki kekuatan emosional sekaligus makna simbolis bagi perjalanan band.
Alex: “Lagu ‘Don’t Speak’ kami tempatkan di urutan pertama album. Ada banyak alasan kenapa kami memilihnya sebagai judul. Lagu itu salah satu favorit kami, dan terasa sangat provokatif sekaligus kuat.
Judul itu juga menjadi pembuka yang menentukan nada untuk semua hal yang akan kami hadapi tahun ini.”
Dillon: “Lagu itu lahir dari momen ketika kami memutuskan membuang setengah materi album dan menulis ulang banyak lagu. Jadi dalam banyak hal, ‘Don’t Speak’ mencerminkan perjalanan panjang kami selama bertahun-tahun mengerjakan album ini.”
“Dalam beberapa hal, lagu itu memang berbeda dari track lain di album. Saya tidak yakin apakah single itu mewakili semuanya, tapi di satu sisi, iya juga.
Lagu itu benar-benar tentang band. Ini bukan tentang saya sebagai penyanyi, ini tentang kami sebagai sebuah band. Dan memang itulah album yang ingin kami buat.”
Setiap anggota memiliki hubungan emosional berbeda dengan lagu tertentu.
Alex: “Bagi saya, lagu ‘Tokyo’ sangat personal. Saya menulisnya saat tur di Tokyo bersama LANY sebelum tur dengan Maroon 5. Saat itu saya merindukan istri saya.
Sekarang kami akan tur lagi memainkan lagu itu, dan rasanya berbeda karena sekarang saya merindukan istri dan anak saya.”
Dillon: “Saat ini saya banyak memikirkan ‘Typical Ways’. Alex dan saya memulai lagu itu sudah lama sekali, dan hampir saja tidak masuk ke album.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya lagu itu dirilis. Rasanya seperti momen refleksi.”
Dalam era musik digital yang serba cepat, Culture Wars tetap memegang prinsip klasik: lagu adalah fondasi utama.
Alex: “Jika Anda menulis lagu yang kuat sejak awal, maka Anda bisa melakukan apa pun setelahnya. Band bisa fokus mengembangkan musik tanpa harus memaksakan sesuatu.
Ini bukan soal terlihat keren, tapi soal menjadi diri sendiri. Dan jujur, pendekatan ini membuat kami merasa lebih bebas dan mengurangi tekanan.”
Dillon: “Pendekatan itu juga membantu kami dalam penulisan aransemen. Setelah tahu di mana vokal berada, kami bisa menempatkan gitar dan elemen lain dengan lebih tepat.
Banyak band menulis riff gitar yang luar biasa, lalu kesulitan menambahkan vokal di atasnya. Cara kami justru memberi ruang bagi keduanya untuk bersinar.”
Berbagi panggung dengan band global memberi perspektif baru tentang profesionalisme dan konsistensi.
Alex: “Tur bersama Maroon 5 benar-benar mengubah cara kami memandang proses rekaman. Mereka bercerita bahwa mereka melakukan tur album pertama mereka selama tiga tahun.
Saat itu kami sedang mempertimbangkan untuk menulis ulang sebagian album, dan setelah mendengar cerita itu, kami langsung yakin: kami harus membuat materi terbaik yang bisa kami banggakan selama bertahun-tahun.”
Dillon: “Kami belajar dari setiap band yang kami temui terutama LANY dan Maroon 5. Pertunjukan mereka sangat terorganisir, tidak ada jeda yang terasa canggung.
Kami juga belajar tentang manajemen tur, kru, dan cara menjaga konsistensi performa.”
Sebagai band yang tumbuh dengan mendengarkan “Songs About Jane”, pengalaman tur bersama idola masa kecil terasa surreal.
Alex: “Kami tumbuh dengan mendengarkan album pertama mereka. Sulit untuk mengatakan bahwa itu tidak memengaruhi kami. Saat akhirnya bisa tur bersama mereka, rasanya seperti mimpi.”
Dillon: “Suatu hari kami berada di ruang hijau sebelum konser, dan kami mendengar Adam melakukan pemanasan vokal di kamar mandi sambil menyanyikan lagu ‘Animals’.
Itu pengalaman yang benar-benar luar biasa.”
Jawabannya: ya! Dan mereka ingin melakukannya dengan serius.
“Itu 100 persen bagian dari rencana kami. Kami ingin melakukan semuanya dengan sangat sengaja.
Jika kami datang ke Indonesia atau Asia Tenggara, kami ingin memastikan setiap detailnya spesial. Mulai dari venue, produksi, hingga pengalaman penonton.”
Ini kabar yang cukup menjanjikan bagi penggemar mereka di kawasan ini termasuk Indonesia.
Pada akhirnya, tujuan mereka sederhana: menciptakan pengalaman emosional yang meninggalkan rasa lega.
Alex: “Saya ingin musik ini memberi energi positif. Seperti membersihkan sistem Anda dari hal-hal negatif.
Musik yang saya sukai selalu memberi saya energi, kejernihan, dan kebahagiaan. Itulah yang saya harapkan juga dirasakan pendengar.”
Dillon: “Saya ingin orang mendengarkan album ini dengan penuh perhatian, seperti meditasi.
Ketika lagu terakhir selesai, saya ingin mereka merasa lega dan merasa itu adalah pengalaman yang menyenangkan.”
Simak interview selengkapnya bersama Culture Wards berikut ini: