CreativeDisc Exclusive Interview With The Paper Kites: Terpukau Oleh Ketidaksempurnaan

Oleh: luthfi - 05 Jan 2026

CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – The Paper Kites adalah cerita seorang penyintas dari trend musik folk yang dominan di era awal 2010’an. Ketika trend musik tersebut telah turun mereka masih bertahan tanpa mengganti warna musik mereka dan terus bermusik 15 tahun lamanya. Mereka pun sudah mendapatkan pondasi yang nyaman ketika lagu mereka ‘Bloom’ mengudara dimana-mana dan mendapatkan sertifikasi emas dan platinum di banyak negara. Band asal Melbourne, Australia yang dibentuk karena pertemanan ini masih terus mengeluarkan karya folk yang meneduhkan dan itu dibuktikan lewat album ketujuh mereka yang akan dirilis pada 23 Januari 2026 berjudul “If You Go There, I Hope You Find It”.

Judul tersebut bukanlah judul sembarangan, didalamnya The Paper Kites seolah mengajak pendengarnya untuk masuk ke dalam dunia mereka yang lebih intim dan dekat sambil mencari sisi ketidaksempurnaan di dalam lagunya. Di saat semua artis mencari kesempurnaan dalam mengerjakan musik, mereka mencari ketidaksempurnaan sebagai salah satu bentuk penyegaran kepada musik mereka sekaligus menjadi lem yang menguatkan mereka setelah berkarir selama 15 tahun lebih. Mereka seolah terhanyut dan terpukau atas hal itu dan mereka membagikan cerita tentang album ini sambil bercerita tentang Jakarta ketika mereka singgah dan bercerita bersama CreativeDisc.

Bagaimana Indonesia menurut kalian?

Beberapa dari kami ada yang sudah ke Indonesia untuk tujuan lain. Kalau sebagai band, kami sempat manggung di Jakarta pada tahun 2017 dan jalan-jalan sedikit di sana. Bertemu dengan orang di Jakarta sangat menyenangkan dan semuanya menyambut kami.

Apa yang kalian kerjakan akhir-akhir ini?

Beberapa bulan lalu kami baru saja menyelesaikan tur dan fokus untuk mempersiapkan album terbaru kami yang akan keluar pada 23 Januari. Kami akan memulai tur untuk album ini di bulan Februari dan kami sudah kembali latihan untuk tur tersebut. Awal tahun nanti kami akan berkeliling ke banyak tempat.

Bisa diceritakan tentang album kalian “If You Go There, I Hope You Find It?”

Kami merekam album ini di Melbourne, Australia saat musim dingin beberapa bulan lalu. Kami menghabiskan sekitar empat sampai hampir lima minggu di studio, selama itu kami mencoba merekam lagu sebagai sebuah band yang utuh. Kami bermain bersama di dalam satu studio di setiap lagunya ketimbang merekam satu-satu instrumen secara terpisah. Kami meluangkan waktu untuk berkolaborasi, mengaransemen ulang beberapa lagu dan mengerjakannya dengan pelan-pelan. 

Apa yang kalian dengar di album ini benar-benar diambil secara live karena kami ingin menghadirkan sesuatu yang kolaboratif dan natural. Kami sangat bangga dan bersemangat ketika mengerjakannya. Dengan berkumpul dan merekam albumnya secara live ada kejujuran ketika kami membuatnya. Kami juga tidak ingin album ini dipoles terlalu banyak dengan menggunakan trik-trik produksi. Kami hanya ingin memainkan apa yang kalian dengar, sesederhana itu.

Album ini direkam dekat dengan tempat tinggal kami, jadi setiap malam kami bisa pulang, bertemu keluarga, menjalani kehidupan sehari-hari dengan segala tanggung jawab sebagai orang tua dan anggota keluarga lalu kembali ke studio keesokan harinya untuk bekerja. Bagi kami, hal ini membuat kami lebih jujur tentang siapa kami sebagai seorang individu karena proses pengerjaan album ini berjalan beriringan dengan kehidupan sehari-hari kami. Di album sebelumnya, kami hanya fokus membuat album dan menciptakan gelembung sendiri tanpa ada gangguan orang luar. 

Harapannya, kami ingin yang mendengarkannya merasakan kejujuran, perasaan hangat dan natural. Dulu, kami selalu mencari kesempurnaan dengan mengedit, memperbaiki dan menggunakan banyak trik di studio untuk membuat lagu tersebut sempurna. Di album ini, kalian mungkin bisa mendengar ketidaksempurnaan yang ada di lagu kami karena tujuan kami di album ini adalah menunjukkan keindahan dari ketidaksempurnaan itu dan kami bangga dengan hasil akhirnya.

Bisa diceritakan tentang musik video untuk album ini?

Sebenarnya kami tidak terlalu memikirkan dalam-dalam soal musik video yang ada di album ini. Kami hanya ingin sesuatu yang secara visual cocok dengan lagu kami. Kami merekam musik videonya di lahan pertanian punya teman kami di Victoria yang kami jadikan tempat latihan kami.

Kalian mendapatkan momen breakthrough lewat lagu ‘Bloom’. Bagaimana reaksi kalian ketika lagu itu melejit dimana-mana? 

Rasanya agak paradoks. Di satu sisi, sangat berarti buat kami. Di sisi lain, tidak terlalu berarti apa-apa juga.

Ada momen dimana kami mendapatkan validasi karena lagu yang kami buat mendapatkan sertifikasi gold atau semacamnya. Itu menjadi bagian dari kenangan dan legacy kami sebagai sebuah band dan tentunya hal tersebut sangat berarti untuk keluarga kami juga. Tapi di saat yang sama, itu hanya sebuah angka dan kami rasa kami tidak mendapatkan kepuasan yang begitu dalam hanya dari melihat angka-angka yang bombastis. 

Kepuasan kami yang paling dalam justru datang dari cerita-cerita orang yang dibagikan kepada kami. Bayangkan, lagu yang sama bisa mempunyai makna yang berbeda dan personal bagi orang yang berbeda. Buat satu orang, lagu itu terhubung dengan masa yang paling indah. Tapi buat orang lainnya, bisa saja lagu itu terhubung dengan masa paling sedihnya dia. Ada yang merasa lagu itu membantu proses penyembuhan akan sesuatu, ada juga lagu itu malah membuat luka orang tersebut bertambah besar.

Mendapatkan angka yang banyak memang bagus, tapi kami lebih suka ketika lagu kami terhubung dengan orang banyak dan yang paling penting adalah bagaimana orang terhubung dengan kami secara pribadi lewat musik yang kami buat.

Bisa kalian berikan rekomendasi musik yang kalian dengar saat ini?

Kami senang mendengarkan album dari musisi asal Baltimore Flock of Dimes berjudul “The Life You Save”. Kami juga senang dengan musisi asal Nashville Bre Kennedy yang baru saja merilis album “The Alchemist” dan juga The Barr Brothers dari Montreal, Kanada yang baru saja mengeluarkan album.

Jika kalian punya mesin waktu dan kembali ke masa lalu, kalian mau kemana dan mengapa?

Kami mungkin akan pergi ke tahun 1969 untuk merasakan langsung pergerakan musik pada masa itu. Ingin juga menonton Woodstock karena ingin melihat Jimi Hendrix secara live dan merasakan musik Inggris dan Amerika bahkan musik Australia di era tersebut.

Di sisi lain, kalau berbicara tentang perjalanan waktu, ada hal lain yang juga sering kami pikirkan. Belakangan ini, kami banyak menghabiskan waktu di Australia, di daerah yang masih penuh dengan alam liar dan kawasan alami. Itu membuat saya sering membayangkan seperti apa Australia ratusan tahun yang lalu sebelum kolonisasi ketika alamnya masih benar-benar alami.

Saat itu, tanahnya masih terjaga dengan sangat baik oleh masyarakat adat, tanpa pembangunan besar-besaran seperti sekarang. Kami sering membayangkan bagaimana rasanya berada di tempat-tempat yang sekarang menjadi kota besar yang biasanya berada di sekitar teluk atau dekat laut dan melihatnya dalam kondisi aslinya, ratusan tahun lalu.

Mungkin ini terdengar seperti jawaban yang sederhana, tapi itu memang sesuatu yang sedang sering kami pikirkan. Jadi ya, mungkin kami akan memilih kembali ke masa sekitar tahun 1600-an untuk benar-benar merasakan seperti apa dunia itu dulu.

Apa yang kalian lakukan berikutnya setelah wawancara ini?

Kami tidak sabar untuk kembali melaksanakan tur. Kami sudah mulai membangun konsep pertunjukannya dan tidak sabar untuk membawanya ke berbagai macam tempat. Tur akan dimulai di Eropa dan Amerika, tetapi kami juga sangat ingin kembali ke Asia. Jadi, jika ada kesempatan untuk kembali ke Jakarta kami dengan senang hati menunggunya.

Author

luthfi

More from Creative Disc