CREATIVEDISC.COM – JAKARTA – Musisi legendaris asal Amerika, David Byrne, resmi mengumumkan rangkaian tur Asia 2026 untuk mempromosikan album terbarunya, “Who Is The Sky?”. Tur tersebut akan mencakup Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand, dengan Singapura menjadi pemberhentian pertama pada 7 Agustus 2026 di The Star Theatre. Sebelum memasuki Asia, Byrne lebih dulu menjalani tur besar di Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, Eropa, dan Inggris. Live Nation juga mengonfirmasi bahwa pertunjukan kali ini akan menghadirkan 13 musisi, penyanyi, dan penari, termasuk sejumlah anggota dari era “American Utopia”, dengan konsep panggung dinamis di mana seluruh performer bergerak bebas sepanjang konser.
View this post on Instagram
Album “Who Is The Sky?” sendiri menjadi album studio terbaru Byrne sejak “American Utopia” (2018) yang sukses besar hingga diadaptasi menjadi pertunjukan Broadway dan film HBO arahan Spike Lee. Dirilis melalui Remote Control/Matador, album ini diproduseri pemenang Grammy Kid Harpoon dan menghadirkan aransemen dari kelompok musik kamar asal New York, Ghost Train Orchestra. Byrne juga menggandeng sejumlah musisi tamu seperti St. Vincent, Hayley Williams dari Paramore, hingga Tom Skinner dari The Smile.
Single perdana dari album tersebut, ‘Everybody Laughs’, telah dirilis lengkap dengan video musik resmi garapan seniman multimedia Gabriel Barcia-Colombo. Byrne menjelaskan bahwa lagu tersebut terinspirasi dari kehidupan manusia sehari-hari, tentang bagaimana semua orang pada akhirnya mengalami hal yang sama — tertawa, menangis, tidur, hingga memandang langit-langit sambil memikirkan hidup. Meski liriknya terkadang terdengar reflektif dan melankolis, Byrne sengaja menyeimbangkannya dengan groove dan melodi yang uplifting agar tetap terasa hangat dan penuh harapan.
Proses kreatif “Who Is The Sky?” dimulai setelah era “American Utopia” berakhir pada 2023. Di tengah masa penuh ketidakpastian, Byrne menghabiskan waktunya dengan memasak, menggambar, dan menulis ide-ide lirik sederhana sambil mempertanyakan arti dari pekerjaannya sebagai musisi. Pergulatan tersebut kemudian melahirkan album yang mengeksplorasi hubungan antarmanusia, cinta, humor, dan harapan akan persatuan sosial di tengah dunia yang semakin kacau.