Penulis: Rouli Hutahaean
Foto: Docs Synchronize Fest 2026
CREATIVEDISC.COM – Jakarta, .Synchronize Festival 2026 resmi dimulai hari ini, Jumat 16 Oktober 2026. Festival musik tahunan tersebut masih digelar di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Dibuka Efek Rumah Kaca, ditutup Barasuara.
Pukul 15.30 Efek Rumah Kaca membuka Synchronize Festival hari pertama di FOrest Stage. Dalam format semi akustik, ERK menyanyikan dua lagu yakni ‘Di Udara’ dan ‘Mosi Tidak Percaya’ tepat di tengah-tengah para warga-wargi dan para Penerka (Penggemar Efek Rumah Kaca) yang kompak menggunakan baju berwarna hitam-hitam dan mengenakan topeng aktivis HAM Munir, Marsinah, dan Wiji Thukul.
![]()
Selama aksi berlangsung, Efek Rumah Kaca diiringi “intervensi” penampilan olah tubuh dari kolektif Jakarta 32°C, juga dengan kolaborasi bersama KontraS yang tanpa henti menyuarakan pesan-pesan sosial. Setelahnya, barulah Efek Rumah Kaca naik ke Forest Stage dan tampil dengan memukau, membawakan beberapa hitsnya seperti ‘Putih’, ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’, hingga ‘Cinta Melulu’ yang sukses memanaskan warga-wargi untuk memulai hari penuh keseruan di hari pertama festival.
Dilanjutkan oleh Afgan yang membawakan lagu-lagu hitsnya ‘Terima Kasih Cinta’ sebagai lagu pembuka, ‘Sadis’, ‘Wajahmu Mengalihkan Duniaku’, ‘Pesan Cinta’, ‘Cinta 2 Hati’, ‘Bawalah Pergi Cintaku’, ‘Jodoh Pasti Bertemu’, ‘Bukan Cinta Biasa’, dan penampilan khusus dengan trio pemeran dari film terakhir Afgan yang berjudul Agensi Rumah Tangga, ada Ummi Quary, Musdalifah Basri, dan Boah Sartika, kemudian dua lagu terakhir yang menutup penampilannya dengan ‘Kacamata’ dan ‘Panah Asmara’. Selain Afgan ada juga Monkey To Millionaire dan The Changcuters, Potret, Sal Priadi, For Revenge, The Jansen, hingga The Upstairs.
![]()
Perunggu: Pertunjukan Dalam Dinamika salah satu set list yang paling ditunggu oleh Merunggu dan warga wargi di Dynamic Stage. Selama satu jam, Perunggu membawakan materi utama dari album kedua: “Dalam Dinamika”, serta beberapa lagu andalan lainnya. ‘Menyala’ menjadi lagu pembuka malam Sabtu kemarin, dilanjutkan dengan ‘Biang lara’, ‘Berhasil’, ‘Pastikan akhiri riuh malam ini’, ‘Ini Abadi’, ‘Berita Buruk’ dan ‘Menjadi Abu’. Cholil Mahmud vokalis dan gitaris ERK menjadi penampil spesial dalam panggung Perunggu dan membawakan lagu ‘Tapi’. Selain itu ada juga Paduan Suara Ikatan Alumni Universitas Indonesia (PS-ILUNI UI) yang menjadi latar vokal pada beberapa repertoar lagu sepanjang pertunjukan. Merunggu (penggemar Perunggu) juga memberikan cerita sebuah perjalanan cinta saat lagu Aku Ada Untukmu. Revaldi yang seorang Merunggu melamar sang kekasih saat konser panggung tunggal Perunggu bertajuk “Pertunjukan Dalam Dinamika” di Yogyakarta pada 9 Mei 2026 yang lalu dan pada hari ini dia mengumumkan bahwa dia dan pasangan akan melangsungkan pernikahan pada 7 November 2026 mendatang, hal ini membuat warga wargi bersorak memberikan semangat.
Di panggung lainnya ada penampilan 4 Sehat 5 Nampol. Panggung ini merupakan proyek retrospektif khusus yang merayakan perjalanan musik dangdut dari era 70-an, lagu-lagu Betawi, hingga koplo modern. Aksi ini meleburkan empat nama besar orkes humor dan kolektif musik, yaitu Orkes Nunung CS, Orkes Pensil Alis, Benang Kenur (Behand Kencur), dan Feel Koplo. Mereka juga membawa bintang tamu kejutan, Mingse yang membawakan lagu Astaga Bercanda sambil melakukan joget Brazil yang tren di media sosial. Diwarnai unsur komedi yang cair, mereka sukses mengajak warga-wargi bergoyang masiv lewat lagu-lagu legendaris seperti ‘Senyum Membawa Luka’ (Meggy Z), ‘Sekuntum Mawar Merah’, ‘Begadang’, hingga ‘Teganya’. Di balik kemeriahan musik jogetnya, layar LED panggung mereka justru menampilkan pesan kontras berupa sindiran isu sosial dan kemanusiaan, mulai dari kasus keracunan massal, industri sawit, genosida, hingga kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain itu, ada juga kolaborasi spesial Geisha dalam pertunjukan A Retrospective Journey bersama Momo dan personel lainnya, Punk Sejak Dini bersama Sukatani, Project Pop dan Barasuara.
Barasuara mengangkat isu kebakaran hutan yang melanda Kalimantan dan Sumatera juga menyuarakan keresahan terhadap bencana lingkungan yang masih mengancam Indonesia. Iga Massardi yang menjadi frontman Barasuara, mengenakan kaos putih polos bertuliskan “DIBAKAR” dan selama tampil, layar panggung didominasi visual merah menyala layaknya kobaran api, lengkap dengan sebaran poster digital bertuliskan “All Eyes on Kalimantan Sumatera Papua” sebagai bentuk protes kelalaian penanganan karhutla. Barasuara mengabulkan permintaan emosional para penggemar (Penunggang Badai) untuk tidak membawakan lagu “Terbuang dalam Waktu” sebagai lagu penutup. Sebagai gantinya, panggung klimaks diakhiri secara megah lewat lagu ‘Hagia’ dan ‘Etalase’ yang diiringi letupan kembang api gitar dan hujan confetti.
![]()
Di satu sudut yang lain, Synchronize Festival juga berkolaborasi dengan kolektif Jakarta 32°C yang membuat satu instalasi besar berupa pesan-pesan dan kritik terhadap isu sosial. Selain kolektif Jakarta 32°C, beberapa musisi serta band yang tampil di Synchronize Festival juga ikut menyuarakan keresahannya terhadap kondisi saat ini melalui ragam visual di panggung. Sebuah pengingat, bahwa di tengah kegembiraan festival, tidaklah lupa untuk bersuara dan berdoa terhadap kondisi di Indonesia saat ini.
Synchronize Festival 2026 masih berlangsung 2 hari, 17- 18 Oktober 2026. Sampai Jumpa Warga Wargi!