Mitski “Nothing’s About to Happen to Me” Live in Jakarta: Teatrikal, Anggun, dan Otoriter

Oleh: luthfi - 25 Jul 2026

PHOTO: Luthfi Suryanda

CREATIVEDISC.COM -JAKARTA – Beberapa orang yang ada di Rossi Musik pada tanggal 20 Februari 2019 pasti sudah menyangka bahwa Mitski akan menjadi nama besar di dunia musik. Aksi teatrikal yang dibawa ketika ia pertama kali ke Jakarta dan bagaimana ia memaksimalkan panggung Rossi Musik yang kecil menegaskan bahwa ia bisa menjadi artis yang populer di masa depan dan menjadi representasi untuk kaum yang tersakiti hatinya namun masih tetap berusaha tegar dan mampu mengendalikan hidupnya setelah terombang-ambing.

Meski namanya sudah besar dan mempunyai basis penggemarnya sendiri sewaktu tampil di Rossi, nama Mitski jauh lebih besar lagi setelah hari itu. Berkat album “The Land Is Inhospitable and So Are We” beserta lagunya yang viral di TikTok dan terjual setara lima juta keping ‘My Love Mine All Mine’ kepopuleran Mitski melesat bagaikan roket. Kepopuleran tersebut tentunya menambah jumlah penggemar Mitski melebihi warga penyuka musik indie rock yang sudah ia bangun dari dulu.

Jika Mitski nanti datang kedua kalinya ke Jakarta, ia wajib tampil di panggung dan tempat yang lebih besar dari sebelumnya dan hal itu terwujud oleh Ismaya Live yang mempersembahkan konser kedua Mitski di Tenis Indoor Senayan pada Sabtu, 18 Juli 2026 sebagai bagian “WTF Select”. Mitski datang lagi ke Jakarta dalam rangkaian tur album barunya “Nothing’s About to Happen to Me”. Jakarta menjadi salah satu lima kota di Asia yang dikunjungi penyanyi berdarah Jepang Amerika ini. Penonton yang hadir datang dari lintas generasi, entah yang tahu Mitski dari jaman “Puberty 2” sampai ke generasi muda yang serempak berkata “mommy has come”, “mommy has arrived”, “i want my mommy” beberapa detik setelah Mitski muncul di atas panggung, ini menjadi bukti bahwa ia mampu meregenerasi penggemarnya tanpa harus mengubah identitas musik dan lagunya.

Set panggung malam itu dibuat seperti sebuah ruang tamu, alunan hard bop mengiringi sebelum Mitski tampil sebagai pertanda Mitski sudah bersiap untuk menjamu tamu di rumahnya. Sebuah lullaby berbahasa Jepang “Inu no Omawarisan” menjadi panggilan Mitski untuk hadir menghipnotis penontonnya. Seolah melanjutkan lullaby yang diputar, ia menjadikan ‘In a Lake’ sebagai lagu pertamanya sambil duduk di mesin tik di sebelahnya. Lagu ini sebagai penanda bahwa Mitski siap bercerita tentang seluruh perasaannya serta memberikan pengalaman teatrikal yang tidak akan dilupakan oleh semua yang menyaksikan.

Mitski tampil bagaikan seorang penutur dan pemain pentas yang sama sekali tidak keluar dari karakternya, ia baru keluar dari karakternya hanya ketika menyapa dan berinteraksi penonton itu pun hanya terjadi tiga kali. Ia seperti kesurupan dengan lagu yang ia ciptakan sendiri. ‘Working for the Knife’ yang bernuansa sangat depresif dibawakan dengan balutan cahaya merah darah sambil menembak kepalanya dengan tangan menggambarkan keputusasaan karena terjebak dalam sistem kapitalisme dari segala sudut. Di ‘Dead Women’, ia seperti menyelam dengan background laut di belakangnya. ‘I Bet on Losing Dogs’ memulai koor massal pertama, semua energi itu seperti diserap oleh Mitski yang semakin menjiwai lagu ini dengan menukik layaknya anjing. Mitski bersandiwara mencari telponnya di lagu ‘Where’s My Phone?’ dimana ia membongkar laci, mencari di kursi sofanya dan tersungkur ketika ia tidak menemukannya di akhir lagu. Usai membawakan ‘When Memories Snow’ yang sangat commanding, ia akhirnya keluar dari karakternya sejenak dan menyapa penontonnya sebelum ia kembali menjadi karakter utama di dalam narasi lagu-lagunya lewat ‘Instead of Here’. Ketika ia selesai bersimpuh penuh dengan melankolia dalam ‘Circle’, ia langsung membuat heboh penonton dengan membawakan ‘Washing Machine Heart’, ‘Dan the Dancer’ secara bersamaan. Seperti sudah dikomando, penonton menyalakan flashlight di lagu “I Want You”.

Mitski kembali membuka topengnya untuk menyapa penonton, ia mengaku bahwa ia sangat menyukai Anggun sedari kecil. Lucunya, ia menganggap “Life on Mars” adalah lagu milik Anggun bukan David Bowie sampai ia remaja. Jika tidak mengenakan topeng pertunjukannya, Mitski adalah pribadi yang ramah, anggun, dan imut. Ketika ia memakai kembali topengnya, ia langsung kembali dirasuki roh-roh lagunya. Setelah ‘If I Leave’ dibawakan ia melanjutkan dengan ‘Stay Soft’ dengan video backdrop film Dracula versi Bela Lugosi. ‘Two Slow Dancers’ kembali membuat flashlight penonton menyala dan puncak keriuhan penonton tentunya terletak di ‘My Love Mine All Mine’ yang membuat penonton khusyuk. Hit terbesar keduanya ‘Nobody’ membuat penonton kembali heboh setelah khusyuk. Sebelum membawakan ‘The White Cat’, ia berterima kasih kepada orang tua yang membawa anaknya ke konser Mitski. “Jangan khawatir tentang musiknya, it will be fine“, candanya. Agak janggal membawa anak ke konser yang membawakan lagu seperti ‘Working for the Knife’, ‘I’ll Change For You’ dan ‘Washing Machine Heart’. Mitski sejenak ke belakang panggung sebelum ia membawakan lagu terakhir ‘Pearl Driver’. Backdrop ‘Goodnight!’ yang ditampilkan usai lagu itu dibawakan menjadi penanda bahwa tirai pertunjukan teater Mitski yang kedua di Jakarta telah ditutup.

Mitski benar-benar mengambil alih kendali secara penuh panggung Tenis Indoor dengan aksi panggungnya yang memukau dan penuh dengan nuansa teatrikal yang kental. Sepanjang konser, ia terus mengarahkan matanya ke penonton dengan sangat tajam seolah memberi komando untuk terus berfokus kepadanya dan tidak ke yang lain. Komando tersebut membuat penampilan Mitski terlihat otoriter dalam artian positif karena ia berhasil membuat semua penonton tertuju kepadanya sehingga ia mampu menyerap energi dari penonton dan memberikan penampilan terbaiknya. Menonton Mitski di malam itu memang bukan menonton sebuah pertunjukan biasa, lebih dari itu Mitski meleburkan semua jiwanya ke penonton di malam itu dengan suguhan teater yang ia berikan dan hasilnya? “Mother is still mothering“.

Author

luthfi

More from Creative Disc