Ryokuoushoku Shakai Menggetarkan Jakarta Dengan Kemampuan Tingkat Tingginya

Oleh: luthfi - 24 Nov 2025

Photo: Azusa Takada
CREATIVEDISC.COM – JAKARTA –
Saya pertama kali menemukan Ryokuoushoku Shakai pada 2017 melalui siaran chart radio Jepang yang rutin tiap minggu saya dengarkan. Debut mereka di chart tersebut langsung mencuri perhatian, “Hajimari no Uta” menembus 20 besar dari 100 lagu pada pekan pertama. ‘Hajimari no Uta’ adalah sebuah nomor power pop penuh energi, dipandu dentingan piano manis dan vokal Haruko Nagaya yang langsung terasa berbeda dari kebanyakan vokalis Jepang. Sejak itu, saya yakin band ini akan besar.

Ledakan besar datang pada 2020. Pandemi tidak menghentikan mereka, justru ‘Shout Baby’ dari anime Boku no Hero Academia dan ‘Mela!’ mendorong Ryokushaka ke puncak popularitas. Dua lagu piano rock upbeat dengan lirik penuh harapan ini menjadi soundtrack emosional era pandemi, terutama ‘Mela!’ yang viral berkat video musik garapan para animator ternama Jepang. Tahun 2023, lagu untuk anime Kusuriya no Hitorigoto ‘Hana ni Natte’ kembali menancapkan popularitas mereka sebagai penyedia salah satu soundtrack anime paling populer tahun itu.

Photo: Azusa Takada

Dengan musikalitas yang sangat apik, wajar saja jika band yang sering disingkat Ryokushaka ini mempunyai banyak penggemar bukan hanya di Jepang tapi juga di benua Asia dan itu mendorong Haruko (vokal), Issei (gitar), Peppe (keyboard), dan Shingo (bass) menggelar tur Asia, termasuk Jakarta. Pada Jumat, 7 November 2025, Balai Sarbini menyaksikan kekuatan Ryokushaka ketika mereka membuka konser dengan ‘Hi wa Mata Noboru Kara’, disusul ‘Character’ dan ‘Nice Idea!’. ‘Summertime Cinderella’ membuat penonton serempak bergoyang sambil mengangkat tangan sebelum para personel memperkenalkan diri. Malam itu mereka ditemani Osamu Hidai, mantan drummer School Food Punishment.

Photo: Azusa Takada

Konser berlanjut dengan ‘Tsuzuku’ dan ‘sabotage’. Aksi unjuk skill dimulai di ‘Aurora wo Sagashi ni’, ketika tuts keyboard Peppe mengalun lembut dan Haruko menembakkan nada tinggi yang jernih terdengar di telinga. Issei ikut mempertontonkan permainan gitar yang presisi, sementara ‘Hazukashiika Seishun wa’ dan ‘Anokoro Mita Hikari’ menjaga energi ruangan tetap hidup.

Usai sembilan lagu, Ryokushaka mulai bercengkerama dengan penonton dan menceritakan sedikit tentang keseharian mereka. Shingo mengungkap dirinya baru menjadi ayah bersama bassis The Peggies. Gelak tawa pecah ketika Issei mengaku “Reza Rahadian versi Jepang” dan berkelakar akan bermain di Perahu Kertas 3. Haruko pun ikut menggoda penonton dengan pengakuan bahwa ia makan durian dan berkata durian sangat bau tapi enak.

Photo: Azusa Takada

Mereka kemudian membawakan single anyar ‘My Answer’ sebelum masuk ke salah satu momen paling fenomenal malam itu ketika membawakan ‘Shout Baby’. Sebelum masuk chorus terakhir, Haruko bernyanyi tanpa ada instrumen yang mengikuti. Ia melakukan belting akapela yang membuat ruangan hening sejenak, sebuah unjuk skill vokal yang menegaskan statusnya sebagai salah satu vokalis terbaik Jepang saat ini. ‘Omoibito’ dan ‘Bokura wa Ikimonodakara’ kembali menunjukkan skill head voice dan belting bertenaga yang tak goyah layaknya mesin diesel.

Photo: Azusa Takada

Setelah ‘Michi wo Yuke’, Balai Sarbini berubah menjadi ruang karaoke massal lewat ‘Hana ni Natte’. Haruko tampak terkejut karena kencangnya suara penonton hampir menenggelamkan suaranya. Padahal pengaturan audio pada malam itu bertumpu pada vokalnya yang terdengar jauh lebih bagus ketika live ketimbang versi rekaman aslinya.

Menuju akhir dari bagian pertama, ‘PLAYER 1’ didaulat menjadi pembuka untuk bagian akhir. ‘Hajimari no Uta’ menjadi pemanasan sebelum ‘Mela!’ membuat penonton bergoyang gila. Synth yang menyayat, ketukan drum bernuansa disco dan dance-rock, dan teriakan liar penonton di bagian “na na na” seperti serigala yang ada di musik video lagu tersebut menjadi penutup sempurna bagian pertama.

Photo: Azusa Takada

Sempat turun panggung, Shingo kembali sebagai “Single Teacher” dimana ia bermain kendama diiringi teriakan “eaaa eaaa eaaa” oleh penonton. Sambil berkata “I’m a single teacher” terus menerus, ia juga mempromosikan merchandise konser (yang ludes dalam hitungan menit) sebelum keluar panggung dengan moonwalk.

Encore yang mereka sebut “bonus stage” menghadirkan ‘Illusion’ dan ‘Party!!’, menutup konser dengan suasana party yang maksimal. Dua jam penuh energi tanpa jeda, tanpa momen muram, hanya transfer energi antara Ryokushaka dan penonton.

Photo: Azusa Takada

Penampilan Haruko patut diacungi dua jempol. Stabil menyanyikan 20 lagu, menjaga tempo cepat tanpa kehilangan tenaga, dan mengalir dari belting ke head voice dengan presisi yang jarang ditemukan di vokalis band Jepang. Para personel lain pun tampil solid seolah menjadikan Haruko pusat gravitasi yang mendorong mereka tampil lebih kuat. Tanpa bidikan kamera HP yang terkadang menghalangi sesame penonton, penonton bisa menikmati vokal Haruko secara utuh dan khusyuk. Sebuah best kept secret yang hanya dialami mereka yang hadir malam itu.

Ryokushaka pulang dengan kesan mendalam. Mereka berkali-kali mengatakan bahwa Indonesia adalah negara terbaik dalam tur ini. Penontonnya menari liar, bernyanyi dengan lantang, dan tetap mengikuti ritme dengan rapi. Bahkan selepas tampil, mereka masih tercengang dengan betapa intensnya sambutan penonton Jakarta.

Senyum lebar dan kepuasan keluar dari Ryokushaka dan penontonnya. Malam itu, terdapat pertukaran kekuatan yang besar dari kedua belah pihak yang membuat malam itu adalah malam yang tidak terlupakan oleh kedua belah pihak.

Big thanks to Sony Music Japan for this moment

Author

luthfi

More from Creative Disc