Quantcast

Jogjarockarta 2018: MEGADETH Membuktikan Bahwa Mereka Masih Salah Satu Band Metal Terbaik

By - 2 weeks ago in Concerts Review

Rajawali Indonesia Communication kembali sukses menggelar JOGJAROCKARTA tanggal 27 October lalu di Stadion Kridosono Yogyakarta. Ini merupakan kali kedua dari Festival Musik Rock Internasional ini diadakan dan sudah menjadi agenda tahunan. Tahun lalu Dream Theater mengguncang JOGJAROCKARTA dua malam berturut-turut ditambah dengan band-band Rock Tanah Air.

Untuk edisi kedua ini Rajawali Communication mendatangkan Megadeth, band Heavy Metal / Thrash Metal yang telah 35 tahun malang melintang di scene musik dunia. Siapapun yang menggilai musik Metal pasti tidak asing lagi dengan pendirinya Dave Mustaine, yang sebelum mendirikan Megadeth dia adalah juga salah satu anggota Metallica. Seperti yang dikatakan oleh Dave ketika Press Conference sehari sebelum naik panggung, show Megadeth di Jogjarockarta ini merupakan show penutup dari rangkaian tour album Dystopia yang dimulai pada tanggal 20 February 2016 di Dallas. Album ini sebagaimana yang kita tahu juga menyabet penghargaan Grammy Award utk kategori Best Metal Performance pada February 2017.

Kedatangan Megadeth yang kini beranggotakan Dave Mustaine (vocal/Guitar), David Ellefson (Bass), Kiko Lourerio (Lead Guitar), dan Dirk Van Beuren (Drums) merupakan kali ke-4 untuk menggelar konser di Indonesia. Sebelumnya adalah pada tahun 2001 di Medan – Sumatera Utara, tahun 2007 di Jakarta, serta tahun 2017 di Jakarta (Hammersonic Fest). Ini berarti untuk Tour album Dystopia ini Indonesia dikunjungi 2 kali oleh mereka.

Megadeth tampil pada pukul 9:45 PM, setelah semua line-up lokal menuntaskan panampilan mereka dari siang hari di Indonesian Stage, yang diperuntukkan untuk band-band tanah air, mereka adalah Blackout, Koil, Sangkakala, Elpamas, Seringai, ILP serta God Bless. Sedangkan Megadeth main di International stage yang letaknya berdampingan dengan Indonesian Stage.

Konser dibuka oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, serta sebuah video pendek dimana Presiden Joko Widodo menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat memenuhi undangan Megadeth karena ada tugas negara, selain itu Presiden ke-7 Indonesia ini juga mengucapkan selamat menonton kepada metalhead yang datang ke Stadion Kridosono. Segera setelah itu Personil Megadeth naik panggung diiringi oleh Intro disambut gemuruh sorak sorai penonton. Megadeth membuka show mereka dengan lagu dengan speed tinggi “Hangar 18” dari album Rust in Peace (1990) yang langsung memompa adrenalin penonton yang memenuhi Stadion Kridosono. Pada lagu ini Dave dan Kiko saling bergantian mengisi part lead gitarnya.

Tidak ada yg meragukan kepiawaian Kiko Laurerio dalam menggantikan gitaris-gitaris sebelum dirinya, tapi Kiko tidak meng-improve interlude yang ada dalam lagu ini yang aslinya dibawakan oleh Marty Friedman dan Dave Mustaine. Kelar Hanggar 18, Megadeth langsung memainkan “The Treat is Real” (Dystopia, 2016) disusul oleh nomer lama The Conjuring (Peace Sells..But Who’s Buying, 1986),

Dave Mustaine, musisi berusia 57 tahun mengenakan T-Shirt warna hitam dan Jeans hitam baru menyapa penonton setelah The Conjuring. “Good Evening..!!, thank you for being here tonight, such a beautiful audience, so great to come all the way over from United States for just one show. How much you mean to us. I hope you have a great time, We got a lot of songs playing for you‘, ucapnya.

Next, mereka kembali membawakan lagu lama yang tidak tidak lekang oleh waktu “Wake up Dead” (Peace Sells, 1986) dan “in My Darkest Hours” (So Far So Good, So What, 1988). Tanpa jeda, mereka terus menghajar telinga 15 ribu pasang mata dengan lagu2 terbaik dari album selanjutnya yakni ; “Sweating Bullet” (Countdown TO Extinction, 1992), “She Wolf” (Cryptic Writings, 1997), “Tornado of Soul (Rust in Peace, 1990), “Conquer Or Die” (Dystopia, 2018), “Trust” (Cryptic Writings, 1997), “Dawn Patrol” (Rust in Peace, 1990), “Poison was the Cure” (Rust in Peace, 1990), Lagu Ballad “A Tout Le Monde” (Youthanasia, 1994), “Dystopia” (Dystopia), dan ditutup oleh “Peace Sells..(Peace Sells.. But Who’s Buying, 1986)”.

Megadeth menuntaskan penampilan mereka dengan 1 lagu encore. Seperti tahun lalu di Hammersonic Metal Festival, Megadeth masih memainkan lagu “Holy Wars (The Punishment Due)” dari Album Rust in Peace. Tidak lupa Dave memperkenalkan semua personil di tengah-tengah lagu tersebut. Semua personil kemudian bowing down, dan Dave mengucapkan Terima Kasih kepada Crowd Jogjarokarta 2018. Megadeth kembali membuktikan bahwa mereka masih salah satu band Metal terbaik di Dunia.

By the way, ini merupakan kali ke-3 saya menyaksikan konser Dave Mustaine cs. Dari tiga kali kesempatan tersebut, konser mereka di Jogjarockarta ini adalah konser Megadeth terbaik saya, baik itu dari segi production, sound system, crowd, serta mood dari Dave dan band itu sendiri. Dave yang terkenal ‘moody’ dan sangat irit bicara, malam itu sempat membalas ucapan ‘I love you’ dari seorang penonton. Dia membalasnya dengan ‘I love you too’. Ini menurut saya adalah hal istimewa yang dilakukan Dave. Dia juga sempat memberikan sedikit prelude ketika akan memainkan Dystopia, “What We’re gonna do for you, We want.., We finally won Grammy, This song is called Dystopia..”

Secara keseluruhan, JOGJAROCKARTA 2018 ini sukses dalam pelaksanaannya. Hal ini bisa saya simpulkan dari production yang semakin baik dari tahun lalu. Semua Band main sesuai dengan schedule, tertib dan juga fasilitas juga semakin keren. Semoga tahun depan Jogjarockarta ini tetap ada dengan menampilkan line-up yang lebih hebat lagi.

TEXT & PHOTOS : BUDI SUSANTO

Photographer, Live Music, Metalheads, Soup Addict.

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Concerts Review | October 21, 2018 By

Konser Nostalgia 20 Tahun A1 Berkarya Sukses Digelar

Music News | September 20, 2018 By

Megadeth Undang Presiden Jokowi dan Gubernur Ganjar Pranowo ke Konsernya di JOGJAROCKARTA

Concerts Review | September 6, 2018 By

Sundara Karma Tampil dengan Gaya Flamboyan di Hodgepodge Festival 2018