Trending News

Blog Post

Interview With Anggun
Artist Interviews

Interview With Anggun 

Image and video hosting by TinyPic

Di tengah-tengah gelombang electro, dance dan synthesizer mengapa memilih musik yang lebih organik?
Dari dulu aku nggak pernah mengikuti trend musik. Albumku yang sebelumnya itu lebih kental dengan nuansa hip-hop, dance dan electro. Sekarang yang sedang trendy justru itu. Aku mau musikku tampil lebih mewah, lebih ningrat. Kalau hanya membuat musik dengan programmer akan lebih cepat dan mudah. Sehari mungkin aku bisa menghasilkan 3-4 lagu langsung selesai. Tapi bukan itu yang aku mau. Aku ingin semua itu melalui proses. Dengan proses yang aku mau, aku harus memanggil pemain musik. Aku bisa mengatur bunyi musik yang aku mau. Aku mesti memikirkan semuanya termasuk membayar gaji para pemain musik itu. Itu yang aku mau.

Kenapa memilih judul ‘Echoes’ untuk album kali ini?
Aku memilih judul ‘Echoes’ karena album ini isinya merupakan gema dari kehidupanku dan orang-orang di sekitarku.

Apa pengalaman menjadi Goodwill Ambassador of Food and Agriculture Organization ikut mempengaruhi isi dari album ini?
Sebenarnya yang paling berpengaruh dalam kehidupanku adalah kelahiran anakku, Kirana. Setelah kelahirannya aku baru mengerti apa artinya menjadi ibu itu mengubah kehidupan seorang perempuan. Tadinya teman-temanku selalu menceritakan bagaimana memiliki seorang anak mengubah kehidupan mereka dan aku hanya mampu mencerna sebatas pengetahuan saja. Tapi setelah melahirkan anak sendiri, barulah aku mengerti apa yang mereka bicarakan selama ini. Dan memang tadinya pusat dari kehidupanku itu adalah diriku sendiri. Tapi sekarang anakku membuat pusat kehidupanku berubah kepadanya, bukan lagi kepada diriku sendiri. Dan itulah yang membuatku memutuskan untuk lebih terlibat jauh dalam peranku sebagai Goodwill Ambassador of FAO dengan lebih serius berkampanye untuk memerangi kelaparan. Setiap 6 menit seorang anak mati karena kurang gizi atau kelaparan.

Jadi dalam album ini, Anggun lebih mengurangi sisi ego-nya atau?
Sebenarnya sih dikatakan mengurangi sisi egois juga tidak benar ya. Karena album itu justru sisi egoku yang keluar. Karena di album ini aku menulis lagu sendiri, memproduserinya sendiri. Aku hanya ingin berbagi dan berbuat lebih banyak bagi semua orang. Popularitas itu tidak ada artinya kalau aku tidak berbuat sesuatu bagi sesama. Album ini merupakan album dimana lirik-liriknya paling sulit yang pernah aku kerjakan. Aku bisa beberapa kali mengganti lirik dalam album ini hanya karena di kemudian hari aku merasa ada yang kurang sreg di hatiku dan harus dirubah. Aku ingin lirikku memiliki kedalaman arti dan semakin dewasa. Seperti pada lagu ‘Hanyalah Cinta’ yang mengisahkan kalau semua ketenaran dan kekayaan itu bisa pudar tapi cinta itulah yang abadi. Atau ‘Can’t Buy Me Happiness’ itu menceritakan seseorang yang kaya luar biasa tapi tidak memiliki kebahagiaan.

Anggun dalam salah satu kesempatan pernah mengungkapkan kalau berbicara dalam bahasa Inggris dan Perancis tapi juga berhitung dan berpikir dalam bahasa Indonesia. Manakah yang lebih sulit dalam menulis lirik? Bahasa Indonesia, Inggris atau Perancis?
Buat aku sih sama saja ya sulitnya. Hanya saja aku biasa menulis dalam bahasa Indonesia lebih dulu. Karena aku sendiri merasa kemampuanku menulis lirik dalam bahasa Perancis masih terbatas. Aku sendiri baru berbahasa Perancis selama setidaknya 10 tahun. Aku juga bukan kelahiran Perancis. Bukan berarti aku tidak bisa menulis dalam bahasa Perancis. Namun aku merasa untuk menulis dalam bahasa Perancis itu memerlukan kemampuan dalam memahami gaya bahasa yang lebih subtil. Bapakku, yang seorang penulis, dulu selalu mengungkapkan kepadaku untuk menulis satu kalimat itu paling tidak perlu membaca 200 buku. Nah aku merasa untuk bahasa Perancis atau Inggris aku merasa kemampuanku menulis lirik belum sejauh menulis dalam bahasa Indonesia.

Kita semua tahu rambut adalah aset bagi Anggun hingga terpilih sebagai Duta Pantene. Apa pernah terpikir untuk memotong rambut?
Dulu di album keduaku aku pernah memotong pendek rambutku sampai di atas bahu. Dan kemudian aku menyesal. Sejujurnya sih aku jarang pergi ke salon. Mungkin di Jakarta saja aku baru sempat ke salon. Karena buatku pribadi bukan yang di luar ini yang penting. Tapi yang di dalam, yang ada di pikiran dan hati itu yang penting buat aku dan harus nampak keluar. Aku sendiri tidak begitu merasa harus ke salon. Selain karena aku tidak punya banyak waktu karena begitu banyak yang harus dikerjakan termasuk mengurus Kirana. Aku juga merasa lebih baik waktuku, kugunakan untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih berguna dari sekedar memanjakan diri. Kalau aku terus memanjakan diri di salon, rasanya kegiatan itu akan menjadikanku seorang pemalas. Sementara aku sendiri bukan tipe orang yang tidak bisa diam, harus selalu aktif.

Mengapa sepertinya artis Indonesia selalu dipermasalahkan soal rasa nasionalisme-nya ya? Agnes Monica dituding tidak nasionalis karena sering berbahasa Inggris. Anggun sendiri hingga jumpa pers kemarin pun masih harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Aku tidak tahu persis kenapa di luar negeri aku menjadi ikon Indonesia, sementara di Indonesia sendiri orang seperti mempertanyakan nasionalisme-ku. Dulu waktu awal aku merintis karir internasional aku memang berusaha memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Tapi sekarang dengan kehadiran sosokku saja orang luar sudah tahu aku orang Indonesia. Aku tidak mungkin kan mengaku-ngaku orang Perancis atau Swiss dengan wajah Indonesia-ku ini? Yang ada malah akan menjadi tertawaan. Dalam darahku ini tetap darah Indonesia, negara itu hanya batas geografis. Buatku perkara nasionalisme itu bukan sekedar memasukkan lirik berbahasa Indonesia secara vulgar dalam musikku. Justru jika kita ingin memperkenalkan Indonesia, aku harus memasukkan unsur Indonesia itu secara halus, samar supaya bisa diterima mereka. Aku sudah pernah melakukannya bersama Deep Forest dengan memasukkan gaya nembang Sunda. Aku tidak mungkin membawakan lagu berbahasa Indonesia di depan penonton yang terdiri dari berbagai bangsa di dunia. Itu namanya tidak menghargai penonton yang sudah membayar untuk menonton pertunjukkan kita.

(Timmy / CreativeDisc Contributors)

Special Thanks to Titaz and Sony Music Indonesia!

Related posts

Leave a Reply