Trending News

Blog Post

Exclusive Interview With Only Seven Left
Artist Interviews

Exclusive Interview With Only Seven Left 

Band asal Belanda, Only Seven Left yang beranggotakan Bjørgen (vocals), Roderick (piano), Jochem (guitar), Hinne (bass) dan Bram (drums) ini mengadakan tur ke Indonesia di 3 kota sekaligus, Jakarta, Bandung dan Bogor. Sayangnya Roderick, sang pianis tidak bisa ikutan hadir. Dan sebelum mereka tampil, kita berkesempatan untuk interview mereka secara langsung di Erasmushuis. Simak interview kita berikut ini:

Gimana kalian menikmati Indonesia sejauh ini?
Jochem: asik banget, meskipun sempat delay 6 jam pesawat di Belanda, tapi waktu sampai di Indonesia, keren! Beda banget sama Belanda.
Bjorgen: Kotanya sangat besar, orangnya ramah dan kami makan malam kemarin enak sekali.

Siapa pengaruh terbesar musik kalian?
Bjorgen: Kami dengerin musik yang berbeda. Aku suka 30 Seconds to Mars. Pengaruh juga bisa datang dari Katy Perry atau Two Door Cinema Club.

Setelah dikontrak dengan perusahaan rekaman EMI, bagaimana itu mempengaruhi album terbaru kalian?
Bram: Sebenarnya kontak kita tidak begitu berpengaruh dengan album baru (Anywhere From Here), karena kami rekaman dulu albumnya, kemudian kita mencari label yang mau merilis, dan akhirnya kami sign kontrak dengan EMI.

Dimasa depan, kalian ingin kolaborasi dengan siapa?
Bram: Bakal asik banget kalau kami bisa berkolaborasi dengan produser dance keren suatu hari nanti seperti Calvin Harris. Bakal keren karna kami memulai band ini sebagai band rock, dan sepertinya asik kalau kami bikin musik yang beda dari biasanya kami bikin.
Jochem: Kami suka banget lagu-lagu rock dan lagu-lagu dance, bagus banget kalau digabungkan.

Kompetisi di dunia musik sekarang sangatketat. Orang-orang suka musik seperti One Direction, The Wanted. Bagaimana kalian bisa bertahan dengan musik kalian sendiri?
Jochem: Kami tetap bikin musik yang “kita banget”, yang sesuai dengan kami.
Bram: Sebenarnya ini bukan kompetisi. Musik di dunia lebih bervariasi, dan itu bagus untuk referensi musik. Selain itu, kami sudah punya penggemar setia dan yang lainnya yang tetap mendengarkan musik bergenre seperti kami.

Kalian menamai band kalian “Only Seven Left” dari lirik yang pernah kalian ciptakan. Bisa ceritakan dan kalian nyanyikan?
Bram: hahaha.. Kami hanya mengarang cerita itu, karena cerita sebenarnya sangat membosankan. Kamu beruntung mewawancarai kami sekarang, karna kamu tahu duluan. Dulu, salah satu teman kami bikin list nama band yang bagus, dan Only Seven Left adalah yang terbaik menurut kami. So, yeah, we took that name. Tapi karena banyak yang tanya, jadi kami mengarang cerita supaya terlihat seru! Sekarang kamu tahu cerita sebenarnya.

Negara mana yang ingin kalian kunjungi suatu hari nanti untuk melakukan tur?
Hinne: Australia.
Bram: Sweden. I just love Sweden!
Jochem: Indonesia. Akhirnya aku disini! Aku suka negara panas.
Bjorgen: United States!

Kalian mencari vokalis baru dari audisi online, dan ketemulah Bjorgen. Kenapa Bjorgen? Apa pertimbangan kalian?
Bram: dari 50 yang audisi, kami suka performer ke-2. Selalu suka.
Jochem: sampai sekarang pun kami suka dia. Dia bisa menyanyi dengan bagus, menciptakan lagu.. tapi bukan hanya soal musik, kami suka personality dia. Sampai sekarang, kami berteman baik.

Banyak fans yang tanya, siapa di antara kalian yang masih single?
*berpandangan satu sama lain dan kemudia tertawa*
Bjorgen: well, we’re all taken.
Jochem: Tapi kami lagi di Indonesia, berarti kami single. Yep, kami single. Kasih tau mereka, kalo selama di Indonesia, kami single! Hahaha..

Apa hal yang paling “rock n roll” yang pernah kalian lakukan?
Bjorgen: being in a karaoke bar…
Jochem: di Inggris, waktu kami tur, kami selalu tidur di tour bus. Tempat tidurnya kecil dan sempit, tidak seperti di Indonesia dimana kami bisa menginap di hotel. That’s rock n roll! Untuk bertahan, kami bikin party setiap malam.

Jika kalian nggak di Only Seven Left, kalian jadi apa sekarang?
Bram: Being in another band. Making music is my life! Aku nggak bisa membayangkan hal lain selain berada di band, perform, bikin musik…

Ada yang mau kalian sampaikanuntuk fans?
Jochem: Thank you for everything! Kalian selalu mendukung kami, mendengarkan musik kami, nonton show kami, apapun. Terimakasih.

Berhubung interview kali ini bertepatan dengan hari Valentine, CreativeDisc memberikan pertanyaan tambahan.

Apa hal termanis yang pernah fans lakukan untuk kalian?
Jochem: Being dedicated. Itu hal yang simple, tetapi manis. Ada fans kami di Belanda yang nonton semua show kami di Inggris. Fans kami juga membangun fanbase. That’s sweet!

Siapa yang jadi ‘womanizer’ di band?
Bram: Hinne! Jangan tertipu sikap dia. Hinne sangat pendiam, tapi itu rahasianya.
Jochem: Ya, Hinne! Tapi karna kami semua sudah punya pacar, jadi kami nggak terlalu bisa dibilang womanizer.. hahaha

Adakah kenangan tentang perayaan Valentine termanis kalian?
Jochem: Waktu masih sekolah, di sekolah, semua cowok dan cewek bertukar hadiah, bunga, dan kartu. Tapi sedihnya, nggak ada yang kasih apapun buat aku. Tapi akhirnya ada satu cewek yang datang ke aku, kasih bunga dan kartu. Dia lebih tinggi dan lebih tua dari aku. Sweet! Sampai sekarang, aku masih simpan kartu Valentine pemberian dia.
Bjorgen: Aku biasanya bikin lagu untuk cewek yang aku suka. Waktu di sekolah, aku bikin lagu untuk seorang cewek, perform di sekolah untuk dia, dan banyak orang yang nonton.

What’s your best pick up line?
Bjorgen: “hey does it hurt?” “hurt what” “falling from heaven? Cause you’re an angel”
Hinne: No, biasanya aku yang tunggu mereka kasih pick up line buat aku.. hahaha
Bjorgen: Tapi buatku, cuma bilang “halo! Boleh aku tau namamu?” dengan halus, itu sudah terdengar seperti pick up line.

Terima kasih Only Seven Left buat interviewnya. Dan ini dia greeting Only Seven Left buat CreativeDisc.com

Buat kalian yang masih ingin menonton mereka, masih ada kesempatan di Institut Teknologi Bandung (tanggal 18 Februari) dan Institut Pertanian Bogor (19 Februari) dan semuanya GRATIS!

(Sheyla)

Related posts

Leave a Reply