Trending News

Blog Post

March 2013 Artist Highlight: Dido
Reviews

March 2013 Artist Highlight: Dido 

Pertama kenal Dido dimana? Di lagunya Eminem! Lagu Dido ‘Thank You’ miliknya berhasil digabungkan ke dalam lagu ‘Stan’ yang mengisahkan tentang obsesi seorang penggemar terhadap sosok idola. Setelahnya, Dido berkibar sebagai solois papan atas yang punya suara unik dan lagu-lagu yang menggugah perasaan. ‘Thank You’ aja contohnya, dalam nyanyiannya yang mengangungkan cinta tersebut ia benar-benar menyentuh lewat olahan vokal yang apik menyanyikan bait demi bait lirik yang super romantis.

Dido terlahir sebagai anak perempuan dengan nama yang begitu artistik. Florian Cloud de Bounevialle Armstrong nama sesuai dengan akte kelahirannya. Ia lahir di hari Natal pada tahun 1971 dari ibu seorang penyair dan ayah yang bekerja sebagai manajer di perusahaan percetakan. Dido punya seorang kakak, Rollo, yang nama aslinya adalah Rowland Constantine O’Malley Armstrong. Dido dan Rolo adalah nama panggilan sewaktu mereka kecil yang kini menjadi nama panggung masing-masing.

Pijak kaki pertama Dido di dunia musik adalah ketika usia lima tahun ia mencuri sebuah recorder dari sekolahnya. Orang tua Dido pun mengarahkan minat putri mereka ke sekolah musik dan drama di London. Saat menginjak usia remaja, ia sudah bisa bermain piano, biola, dan juga alat musik yang pernah ia curi dulu, recorder. Dido berusaha untuk mengenyam pendidikan formal dengan mengambil jurusan hukum di University of London. Tapi hasratnya yang kuat untuk musik membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti bersekolah dan memulai profesi sebagai musisi.

Di tahun 1995 itu semua terjadi. Dido yang dibantu oleh sang kakak, Rollo yang adalah bagian dari grup bernama Faithless memikat bagi perusahaan rekaman Nettwerk yang kemudian merilis album paling pertama Dido, “Odds & Ends”. Hasil ini membawa Dido dan musiknya ke playground yang lebih luas. Dido dikontrak oleh Arista Records yang bekerjasama dengan Cheeky records, label rekaman milik Rollo. Disinilah “No Angel” lahir. 1 Juni 1999 album tersebut rilis pertama kali di daratan Amerika. Album ini tak hanya menampilkan karya apik Dido dan Rollo, tapi juga produser-produser lain yakni Rick Nowels, Youth, Duncan Bridgeman, Jamie Catto, dan Sister Bliss. Ada ‘Here With Me’, ‘Don’t Think Of Me’, ‘Hunter’, dan ‘All You Want’ yang dirilis sebagai single lepas dari “No Angel”, berikut monster hit-nya, ‘Thank You’.

Gaya musik pop Dido yang unik membuatnya mudah diterima. MTV Europe Music Awards di tahun 2001 menyerahkan gelar Best New Act untuk Dido, ASCAP Pop Music Awards menyerahkan titel Song of the Year kepada ‘Thank You, berikut dua penghargaan yang masing-masing diterima dari NRJ Awards dan BRIT Awards di tahun 2002. Awal karir Dido semanis gula-gula, dan tak ada yang bisa menyangkalnya. Manisnya apresiasi pun menulari album kedua, “Life For Rent” yang rilis di tahun 2003. Terjual sebanyak lebih dari 12 juta kopi di seluruh dunia, album ini menempati rangking 4 album terlaris di tahun itu. Dido masih menggandeng Rollo dan Rick Nowels di album ini, dimana mereka berhasil menelurkan empat buah single dengan dua di antaranya menjadi massive hit. ‘White Flag’, ‘Life For Rent’, ‘Don’t Leave Me Home’, dan ‘Sand In My Shoes’ berkumandang dari 2003 hingga 2004, yang juga menandakan puncak kejayaan Dido sebagai artis rekaman.

Untuk album ketiganya, Dido tak ingin bermain aman. Dia mengurangi kolaborasi bersama Rollo dan mempercayai Jon Brion dan The Ark untuk membantunya di bidang produksi. Hasil yang ia peroleh dari percobaan ini adalah “Safe Trip Home”, judul album ketiga tersebut diunggulkan untuk Grammy Awards di kategori Best Engineered Album, Non-Classical di tahun 2010. Bukti bahwa masih ada aspek sukses yang menempel meskipun dua single dari album ini gagal tercatat sebagai hit. ‘Don’t Believe In Love’ dan ‘Quiet Times’ gagal menembus Top 40 di UK dan sama sekali tak berjejak di US. Tapi jangan jadikan itu perkara besar, karena Dido, Rollo, berikut A.R. Rahman memiliki keberhasilan lain dengan ‘If I Rise’ yang menjadi lagu tema untuk film “127 Hours”. Sukses komersil boleh jadi menjauh, tapi tidak dengan kualitas penulisan lagu yang ia punya. Dido menjadi akrab dengan berbagai ajang penghargaan film berkat karyanya ini.

Dan itulah yang ingin kita suguhkan, kualitas karakter musik dan lirik yang Dido punya dalam alum studio keempatnya, “Girl Who Got Away”. Album yang dirilis di awal Maret ini akan menjadi salah satu album yang paling dinantikan, karena jarak yang ia buat dari album sebelumnya cukup untuk menimbulkan rasa kangen pada musik Dido. ‘Let Us Move’ telah dirilis mendekati akhir 2012 lalu. Lagu yang menampilkan kolaborasi bersama Kendrick Lamar ini menggeser posisi musik Dido untuk sedikit bergerak ke arah elektronika. Selanjutnya, ‘No Freedom’ membawa kembali Dido dengan kolaboratornya dulu, Rick Nowels sehingga membujuk kita untuk bernostalgia akan sound yang dulu telah terbiasa.

Bukan cuma dua itu, masih ada belasan track dalam “Girl Who Got Away” yang pantas untuk disimak. Seperti ‘End Of Night’ yang menampilkan kerjasama dengan Greg Kurstin dan ‘Day Before We Went To War’ dengan Brian Eno. Keberagaman yang ada dijamin akan memperluas pengalaman dengar atas musik Dido dari yang pernah kita kenal sebelumnya. Maka dari itu, Sony Music Indonesia dan CreativeDisc berbangga hati menyodorkan album yang akan sangat mungkin untuk tercatat sebagai salah satu album paling berkesan sepanjang 2013 dan memilih DIDO sebagai Artist Highlight di bulan Maret 2013 ini

Official Website Dido
Official Twitter @didoofficial
Official Facebook Dido

Official Twitter @SonyMusicID
Official Facebook Sony Music Indonesia

(Ai Hasibuan / CreativeDisc Contributors)

Related posts

Leave a Reply