Trending News

Blog Post

Album of the Day: Alter Bridge – Fortress
Album of The Day

Album of the Day: Alter Bridge – Fortress 

Released by: Warner Music Indonesia

Menapaki perjalanan band asal Amerika Serikat ini, Alter Bridge, sungguhlah menarik. Mengawali jati diri sebagai sebuah band yang menampung mantan-mantan personil Creed bukanlah sebuah citra yang baik. Terlebih album pertama mereka, “One Day Remains”, masih menyisakan bayang-bayang musikalitas Creed dimana proporsi pengaruhnya sempat dipertanyakan oleh para kritikus. Dan setelah empat album berselang, tampaknya mereka mulai menemukan arah yang tepat dan mencoba meninggalkan pengaruh lamanya secara bertahap. Jika album “AB III” yang dirilis 2 tahun lalu merupakan sebuah gerbang menuju konsistensi musik Alter Bridge, maka sudah seharusnya gerbang tersebut mengarah kepada sebuah benteng yang mencerminkan tangguhnya konsistensi musik mereka. Dan analogi tersebut sangat sesuai dengan judul album teranyar mereka, “Fortress”.

Anda mau mengklasifikasikan album ini sebagai hard rock, metal, atau bahkan heavy metal sekalipun itu terserah anda. Yang jelas, sepanjang album ini, anda akan dibawa melalui petualangan musik yang sarat akan akrobat gitar menawan hati. Berterima kasihlah kepada Myles Kennedy yang mampu membantu Mark Tremonti dalam menyusun layer-layer gitar atraktif dan terdengar bertenaga di beberapa titik.

Petikan gitar pada “Cry Of Achilles” mengawali perjalanan kita dalam mengarungi 12 track yang terdapat di album ini. Menghentak-hentak selama enam menit tanpa memberi ampun, vokal Kennedy yang melengking pun seolah-olah menjadi sebuah representasi apik bagi energi yang telah mereka himpun. Dan nuansa bantingan sperti pada lagu “Cry of Achilles” masih akan berlanjut di track berikutnya. Namun bedanya, kali ini lampu sorot ada pada Mark Tremonti. Sayatan gitarnya yang megah berhasil membangun sebuah atmosfir sinis pada “Addicted to Pain” yang juga mengandalkan layer-layer vokal pada beberapa not-not fluktuatif. Sungguh perpaduan yang terbilang epik. Terjangan Mark Tremonti pun masih berlanjut pada “Bleed it Dry” dimana efek overdrive-nya mampu membuat telinga anda penuh akan bising-bisingan yang memesona. Dan jangan lupakan juga aksi gitar solo yang semakin eksplosif seiring meningkatnya emosi yang terbangun.

“Bleed it dry leaves us here with nothing..” begitulah lirik lagu “Bleed It Dry” yang tampaknya menjadi sebuah kontradiksi karena Alter Bridge sepertinya tidak akan meninggalkan kita dengan tangan hampa (atau dalam kasus ini, telinga hampa). Mereka malah menyuguhkan “Lover”, sebuah track yang memiliki tempo cenderung lebih lambat dibanding track lainnya. Tetapi, anda akan dibuat kaget dengan keberadaan aransemennya yang tiba-tiba bisa terdengar kosong, namun juga bisa terdengar meledak dengan sendirinya. Dan lagi-lagi, vokal melengking Myles Kennedy disini berperan besar dalam menciptakan atmosfir transisi di antara keduanya.

Hal menarik muncul pada track “Waters Rising” dimana Mark Tremonti mengambil alih porsi vokal dan kemudian melakukan harmonisasi apik dengan Myles Kennedy di bagian chorusnya. Dan pada track ini, anda tak akan menemukan atraksi instrumen macam-macam dan not-not melodius seperti track-track sebelumnya. Stagnansi tensi masih terjaga melalui lagu “Farther Than A Sun” dan juga “Cry A River”, tetapi album ini malah ditutup secara klimaks dengan lagu “Fortress”, sebuah lagu berdurasi 7 menitan yang mengambil esensi musik hard rock klasik yang sangat eksperimental dan sarat akan kombinasi bunyi-bunyian. Saya pribadi rasanya tak sabar ingin me-skip bagian vokalnya dan langsung menuju bagian interlude yang cukup panjang dimana anda akan merasakan indahnya raungan distorsi dan agresifnya gebukan drum Scott Philips saling berpacu satu sama lain. Sebuah musik yang pas untuk membuat telinga puas tanpa membuat energi terkuras.

Memang beribu-ribu jempol perlu diacungkan kepada Myles Kennedy dan kawan-kawan karena telah berhasil menunjukkan taringnya dalam mengutak-atik instrumen kesayangan mereka masing-masing di album “Fortress” ini. Namun, alangkah baiknya jika hal tersebut juga diimbangi dengan penciptaan dinamika yang progresif sedari awal. Penggunaan rumus dinamika berbentuk kurva (seperti album ini gunakan) sebetulnya cukup baik, namun malah terkesan menjadikan track-track posisi tengah hanya sekedar filler semata. Tapi jika anda tak perduli dengan hal tersebut dan memang menggemari musik yang kaya akan suara bertekanan tinggi, well it’s worth to have.

Official website

Rate the album:
[ratings]

Buy album on iTunes

(Galih Gumelar / CreativeDisc Contributor)

TRACKLIST
1. “Cry of Achilles” 6:30
2. “Addicted to Pain” 4:16
3. “Bleed It Dry” 4:44
4. “Lover” 5:17
5. “The Uninvited” 4:47
6. “Peace Is Broken” 4:40
7. “Calm the Fire” 6:04
8. “Waters Rising” 5:39
9. “Farther than the Sun” 4:07
10. “Cry a River” 4:00
11. “All Ends Well” 5:12
12. “Fortress” 7:36

Related posts

Leave a Reply