Trending News

Blog Post

Top 25 Album of 2014
Album of The Day

Top 25 Album of 2014 

Memasuki penghujung tahun 2014, sudah saatnya kita menilik album-album apa saja yang menjadi yang terbaik atau terfavorit menurut versi CreativeDisc. Ada puluhan atau mungkin ratusan album yang dirilis tahun ini di Indonesia. Banyak yang berkesan. Banyak juga yang lewat begitu saja. Tapi, tentunya apa yang berkesan dan tidak bagi seseorang, tentu berbeda dari orang lain. Oleh karenanya untuk mendapatkan apa yang berkesan bagi CreativeDisc adalah mengumpulkan daftar album yang dianggap terbaik di tahun 2014 dari para kontributornya. Sebagaimana biasa, yang masuk dalam daftar ini hanyalah 25 judul album yang mendapat nominasi terbanyak terdapat dalam polling.

Tanpa berpanjang-panjang lagi, inilah Top 25 Album of 2014 menurut CreativeDisc.com:


25. Pentatonix – PTX Vol. 1 & 2
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Dua EP milik grup pengusung akapela, Pentatonix, PTX Vols. 1 dan PTX Vols. 2 dikompilasi dalam satu album yang bertajuk PTX Vols. 1 & 2. Dengan pembagian vokal antar personel yang tegas dan jelas, masing-masing menjalankan tugasnya dengan sangat baik sehingga lagu-lagu yang mereka hasilkan tidak kalah dibandingkan dengan lagu-lagu yang dihadirkan dengan instrumen konvensional.Mendengarkan track-track populer seperti Can’t Hold Us akapela ternyata bisa memberikan sensasi musikal yang cukup menakjubkan. Full review.


24. Foo Fighters – Sonic Highway
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Album juga bisa dilihat sebagai gambaran bagaimana sosok Foo Fighters sebagai musisi Rock ranah mainstream bisa tetap menjembatani diri dengan musisi-musisi yang bergerak di ranah independen. Sonic Highways seolah membuktikan jika Foo Fighters bisa memadukan dua idealisme ini tanpa kendala yang berarti. Aneka gaya yang sukses mereka adaptasi dalam setiap track yang menjadi serat albumnya. Sebuah upaya, yang tampaknya saat ini hanya Foo Fighters yang bisa melakukannya. Full review.


23. Various Artists – OST The Fault in Our Stars
(Warner Music Indonesia)

Siapkan diri untuk merasa galau, karena album soundtrack film The Fault In Our Stars akan menyajikan sejumlah lagu yang menawarkan haru-biru yang dipastikan akan membuat perasaan menjadi gundah. Tapi, dengan dukungan barisan musisi yang memiliki reputasi yang bagus, album soundtrack ini juga merupakan sebuah album kompilasi yang cukup komprehensif. Full review.


22. U2 – Songs of Innocence
(Universal Music Indonesia)

Dibuka dengan nomor familiar, The Miracle (of Joey Ramone), band rock fenomenal dan legendaris, U2, menghadirkan album terbaru mereka, album ke-13 tepatnya, Songs of Innocence. Jeda lima tahun dengan album sebelumbnya, No Line on the Horizon (2009) mungkin cukup lama. Tapi para penikmat musik dan juga fans mungkin boleh berlega hati, karena U2 masih menyimpan pesona mereka. Full review.


21. Linkin Park – The Hunting Party
(Warner Music Indonesia)

Linkin Park tahun ini ternyata punya niat untuk kembali merilis album baru. Tapi mereka tidak ingin tampil sama. Maka lahirlah The Hunting Party yang memberikan banyak catatan dalam karir mereka. Pertama, album ini diproduseri langsung oleh anggota Linkin Park, Mike Shinoda dan Brad Delson bersama dengan Emile Haynie dan Rob Cavallo (tidak ada Rick Rubin kali ini) dan kedua, hilangnya sentuhan elektronika dalam musik mereka dan kembali ke rock yang lebih organis. Full review.


20. Pharrell – GIRL
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Selama satu dekade lebih, Pharrell Williams banyak wara-wari membantu musisi lainnya, baik sebagai featuring artist maupun orang dibelakang layar. Tangan dinginnya memang menjadi kepercayaan banyak artis lain guna membantu mereka. Setelah tahun 2006 ia menghadirkan album solo debut berjudul In My Mind, maka setelah jeda 8 tahun, ia menghadirkan album sophomore yang bertajuk G I R L. Full review.


19. The Script – No Sound Without Silence
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Penggemar The Script boleh bersuka hati, karena mereka akan kembali dengan album keempat mereka yang berjudul No Sound Without Silence. Disebut sebagai prekuel dari album debut mereka di tahun tahun 2008, No Sound Without Silence tampaknya ingin menjawab sukses yang mereka raih dengan album #3 (2012). Formula yang telah terbukti sukses memang sulit untuk dihindari pesonanya. The Script menyadari hal tersebut. No Sound Without Silence punya formula itu. Terlepas apakah dia diniatkan sebagai gerakan back-to-basic atau tidak, yang pasti album ini terdengar familiar. Full review.


18. The Vamps – Meet The Vamps
(Universal Music Indonesia)

Jika ada produksi sinetron berjudul “Gara-gara YouTube”, The Vamps merupakan sajian di episode terbaru. Nama mereka yang kini mendunia merupakan pembibitan dari media internet tersebut yang kemudian dikembangkan oleh Mercury dan Virgin EMI untuk penggarapan musik yang profesional dan pendistribusian yang lebih serius. Percobaan perdana ini dinamai “Meet The Vamps“, sebuah introduction terhadap eksekusi musik poprock generasi muda yang berciri rebel dengan lirik bertemakan cinta. Full review.


17. Iggy Azalea – The New Classics
(Universal Music Indonesia)
Hate her or love her, Iggy Azalea merupakan nama panas di skena musik dunia saat ini. Rapper 24 tahun asal Australia bernama asli Amethyst Amelia Kelly sukses menaklukkan kerasnya industri musik Amerika dengan single anthem musim panas tahun ini, Fancy, yang bertengger selama 7 minggu di tangga lagu Billboard Hot 100. Tidak heran jika album debutnya, The New Classic , ditunggu oleh banyak orang. Ia mungkin akan berada lama dalam industri musik karena tidak hanya memiliki single-single catchy tapi rapper dengan ciri dan identitas yang khas jelas menjadi kekuatan utamanya untuk bertahan. Full review.


16. Tove Lo – Queen of the Clouds
(Universal Music Indonesia)

Swedia sepertinya memang ladang banyak musisi (juga komposer atau produser) bertangan dingin. Sebut saja Robyn, Lykke Li atau yang paling panas, Icona Pop. Kini bertambah satu lagi nama baru yang pantas untuk diperhatikan. Perkenalkan Ebba Tove Elsa Nilsson atau yang bisa dikenal dengan Tove Lo. Penyanyi 27 tahun ini adalah triple threat yang patut untuk diwaspadai. Ia bernyanyi, menulis lagu dan memainkan instrumen. Semua dibuktikannya dalam album debut yang berjudul Queen of the Clouds. Full review.


15. Lana Del Rey – Ultraviolence
(Universal Music Indonesia)

Secara keseluruhan, album baru Lana adalah sebuah perubahan yang sangat signifikan dari “Born To Die” ke “Ultraviolence”. Pada “Born To Die”, Lana masih ternodai oleh pop bahkan hip hop yang cukup melenceng dari pakem image yang dia munculkan namun pada “Ultraviolence” kesan dark dan gloomy yang selalu dibawa Lana dia munculkan dan berhasil dibawakan dengan baik. Full review.


14. Clean Bandit – New Eyes
(Warner Music Indonesia)

Clean Bandit mungkin tidak bisa disebut sebagai musisi yang punya selera musik dengan kelas canggih. Lirik-lirik mereka terkadang terdengar naif, jika tidak mau disebut klise. Tapi mereka mengerti bagaimana mengerjakan lagu-lagu pop yang menyenangkan untuk disimak. Notasi yang sederhana dipadu dengan aransemen catchy rasanya sudah cukup menjadi andalan. Lagi pula dengan menghadirkan string section sebagai bagian utama dari musik mereka, membuat EDM cita rasa Clean Bandit tidak terdengar terlalu steril atau mesin, karena memberi sentuhan nuansa organis yang membuat lagu-lagu mereka terdengar lebih lekat. Full review.


13. Ella Henderson – Chapter One
(Sony Music Entertainment Indonesia)

“Chapter One” could be an impressive music album, as well as a great vocal album. Untuk ukuran penyanyi berusia 18, Ella menjadikan kematangan sebagai nilai jualnya.Dalam urusan olah vokal, Ella berhasil menciptakan gradasi dalam eksekusi terhadap warna yang ia miliki. Dominan memanfaatkan tone berat untuk menggali nada-nada bawah, sanggup menembus nada-nada tinggi dengan lengkingan maut. Oh, kita belum bicara tentang keterikatan batin antara Ella dan albumnya ini. Lagu-lagu yang ia tulis merupakan caranya untuk bercerita ke pendengar. Ia bahkan berani untuk menamai album ini sebagai buku hariannya. Full review.


12. Sia – 1000 Forms of Fear
(Sony Music Entertainment Indonesia)

1000 Forms of Fear adalah album yang menarik. Ia menunjukkan identitas seorang Sia dengan cukup cermat dan tepat. Meski memadukan antara idealisme dan juga resumenya sebagai pencetak hits terkini, album justru tidak terdengar timpang. Setiap lagu yang ditujukan sebagai konsumsi masal atau tersegmentasi pada fans Sia atau pop eklektis tetap memiliki benang merah yang menyatukan mereka, sehingga tidak jomplang atau saling mendominasi. Full review.


11. One Direction – Four
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Siapapun yang pernah menuduh One Direction tidak akan bertahan lama di kancah musik pop tampaknya harus gigit jari. Mereka justru semakin tangguh dengan album studio keempat, “FOUR” yang dirilis berjarak setahun dari album sebelumnya. Ini mengindikasikan konsistensi dan komitmen yang mereka punya kepada para pecinta 1D. Full review.


10. Calvin Harris – Motion
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Calvin Harris membayar lunas semua rasa penasaran yang dimunculkannya atas album Motion. Satu demi satu single dan track yang dirilisnya mengindikasikan sebuah album yang tidak hanya kental dengan nuansa EDM dan Pop, tapi juga secara musikalitas lebih matang. Overall, Motion mungkin tidak seekletis album-album awal Harris, I Created Disco (2007) dan Ready for the Weekend (2009). Dua album tersebut memiliki materi dengan tone yang berbeda baik dari Motion ataupun 18 Months yang mengejar ranah mainstream sebagai targetnya. Hanya saja, kemasan yang matang membuat album ini begitu menarik, sulit untuk dihindari pesonanya. Dan membuktikan mengapa Harris masih menjadi sosok musisi EDM terdepan masa kini. Full review.


09. Ariana Grande – My Everything
(Universal Music Indonesia)

Setelah lumayan sukses dengan album debutnya, Yours Truly, Ariana Grande tidak mau membuang waktu lama-lama selagi ia masih memiliki momentum dengan merilis album keduanya, My Everything. Dengan album ini ia pun mencoba untuk menyusul kesuksesan tersebut, meski harus diakui jika Grande tampaknya tidak ingin bermain-main di warna yang sama di album ini.Sebagai album pop ia sukses menjalankan misinya untuk menghibur dengan barisan lagu-lagu ringan yang sangat gampang dicerna. Tentunya sangat naif jika menginginkan My Everything sebagai album canggih dengan materi kompleks atau kontemplatif. Lepaskan ekspektasi tersebut dan My everything dijamin akan memuaskan pendengaran.Dengan My Everything, Ariana Grande setidaknya berada di jalan yang pas dan tepat untuk mematangkan karirnya sebagai penyanyi pop terdepan masa kini dan juga (mungkin) masa depan. Full review.


08. David Guetta – Listen
(Warner Music Indonesia)

Dengan rentang karir selama hampir 3 dekade, tentunya David Guetta sudah kenyang makan asam garam di dunia musik dansa elektronis. Lima album yang dipersembahkan Guetta membuktikan jati dirinya, dengan mengadirkan barisan hits single demi hits single yang mengibarkan namanya sebagai DJ dan musisi EDM terkemuka. Dengan rentang karir selama hampir 3 dekade, tentunya David Guetta sudah kenyang makan asam garam di dunia musik dansa elektronis. Lima album yang dipersembahkan Guetta membuktikan jati dirinya, dengan mengadirkan barisan hits single demi hits single yang mengibarkan namanya sebagai DJ dan musisi EDM terkemuka. Full review.


07. 5 Seconds of Summer – 5 Seconds of Summer
(Universal Music Indonesia)

5 Seconds of Summer, nama panas dalam kancah pop punk/pop rock dunia mengeluarkan debut albumnya setelah memanaskan dunia lewat lagu “She’s Looks so Perfect” yang menjadi pemuncak di berbagai macam tangga lagu di belahan dunia. Empat pemuda ini mengeluarkan debut album self titlednya yang mempunyai nafas pop punk/pop rock/power pop yang asyik dan sangat gampang dicerna. Mereka juga tidak hanya modal tampang karena beberapa lagu di album ini cukup berani, keras dan menunjukkan the fun side of pop punk. Untuk sebuah album debut, album ini cukup kuat dan mereka mempunyai materi yang cukup mumpuni sehingga tidak terjebak dalam label one hit wonder. Rasanya melalui album ini akan lebih banyak lagi hati yang mereka curi dari para remaja. Full review.


06. Beyonce – Beyonce
(Sony Music Entertainment Indonesia)

Keserbatiba-tibaan perilisan album ini ternyata bukan lantas Beyoncé terdengar tidak matang. Malah sebaliknya. Masih mengusung semangat RnB berbalut elektro-pop, namun kini Beyoncé terdengar jauh lebih matang dan album seperti sebuah kulminasi akan setiap bentukan artistik yang selama ini diolah oleh Bey. Menyebutkan Beyoncé sebagai album terbaik Bey mungkin akan terdengar sumir. Akan tetapi album ini bisa disebutkan sebagai puncak karir dari penyanyi bernama lengkap Beyoncé Giselle Knowles-Carter ini. Satu yang pasti, Beyoncé merupakan salah satu album terbaik yang bisa kita nikmati tahun ini. Full review.


05. Maroon 5 – V
(Universal Music Indonesia)

Album keempat Maroon 5, Overexposed (2012) disebut-sebut sebagai album ter-ngepop band yang digawangi oleh Adam Levine, Jesse Carmichael, Mickey Madden, James Valentine, Matt Flynn dan PJ Morton ini. Tapi, tampaknya anggapan tersebut bisa disanggah dengan kehadiran album kelima mereka yang berjudul sederhana saja, V. Mengapa tidak? Dibuka dengan Maps, Maroon 5 is ready to swept away the throne of Summer Songs. Dan Maroon 5 tidak ingin tanggung-tanggung. Beberapa hits maker sekaligus diajak untuk mengerjakan Maps, Ryan Tedder, Max Martin, Benny Blanco, dan Shellback. Tidak heran jika Maps terdengar sangat catchy, dan tentunya memiliki hook yang sangat kuat. It’s pop at its very core. So, meski vokal ber-high pitch Adam Levine terdengar annoying, tapi beat-yang yang dinamis menjadi kelebihan tersendiri. Full review.


04. Ed Sheeran – x
(Warner Music Indonesia)

Ed Sheeran. Apa yang tercetus di benak saat mendengarkan namanya? Lagu-lagu pop-folk yang mengharu biru serta vokalnya yang terasa pas saat menyanyikan lagu-lagu yang mengandalkan lagu-lagu dengan atmosfir kelabu dan melankolis. Setelah sukses dengan album debut, + di tahun 2011, Sheeran menyusulnya dengan memberikan kita album keduanya yang diberi judul x di tahun ini. Dalam x, Sheeran masih menawarkan formula yang sama. Dengan X, Ed Sheeran membuktikan jika ia bukan one hit wonder. Dengan usia yang masih sangat muda (23), ia terdengar sangat matang dan mengerti benar musik yang ingin dipersembahkan. Tidak hanya artikulatif, akan tetapi setiap lagu dalam X menunjukkan kelas tersendiri sebagai musisi matang. Full review.


03. Taylor Swift – 1989
(Universal Music Indonesia)

Taylor Swift akhirnya memutuskan untuk terjun 100% dalam skena Pop dalam album terbarunya, album kelima tepatnya, 1989. Sebenarnya Pop bukanlah hal yang aneh bagi Swift. Di album-album sebelumnya Pop kental mewarnai lagu-lagunya, meski tentunya Swift lebih dikenal sebagai biduan Country. Hanya saja, semakin karirnya maju ke depan, warna Country pun semakin luntur pula. Ditunjukkan oleh geliat di album Red (2012) dan pada akhirnya tanggal secara utuh dalam 1989. Materi dalam album ini dikerjakan dengan baik. Sebagai album Pop komersil Swift tetap mampu menginfusinya dengan idealisme tersendiri. Swift tidak memaksakan diri untuk ikut-ikutan dalam trend Pop kekinian, Ia lebih memilih untuk mendefinisikan Pop sebagaimana yang ia inginkan. Hasilnya, 1989 tidak hanya terdengar catchy dan menghibur, tapi juga cukup mencorong dan berkesan. Full review.


02. Sam Smith – In The Lonely Hour
(Universal Music Indonesia)

Mungkin sebagian besar dari kita mengenal Sam Smith sebagai pengisi vokal dari hits single milik Naughty Boy, La La La atau single milik Disclosure, Latch di akhir 2012. Tidak ada salahnya juga, karena saat itu penyanyi asal Inggris ini berusia 22 tahun ini belum merilis albumnya. Tapi penantian akan aksi solonya berakhir sudah dengan dirilisnya album debut sang penyanyi berbakat bertajuk In The Lonely Hour. In The Lonely Hour memiliki materi yang kuat untuk membuat ia menjadi sebuah album yang mengesankan. Pilihan jenis lagunya mungkin tidak luar biasa dan mungkin juga sudah terlalu biasa. Pop, soul, balada. Rasa-rasanya sudah banyak yang memakai pendekatan yang serupa. Tapi di tangan Smith materi usang ini terdengar segar dan kontemporer, yang mungkin saja disebabkan oleh latar belakang personal Smith tadi yang memantul dalam tema-tema lagunya. Full review.



01. Coldplay – Ghost Stories
(Warner Music Indonesia)

Dalam 18 tahun rentang karirnya dan semenjak album debut mereka Parachutes di tahun 2000, Coldplay telah menjelma menjadi sosok raksasa dalam industri musik dunia. Semula mereka dikenal sebagai pengusung rock alternative dalam era pasca Brit-pop, namun setelah sukses besar yang diraih oleh Mylo Xyloto (2011), tampaknya Coldplay semakin menyebrang ke arah pop. Dan itu semakin dipertegas dengan album keenam mereka, Ghost Stories. Evolusi mereka menuju ranah pop yang lebih awam mungkin tidak bisa diterima secara mutlak oleh banyak penggemar mereka. Namun setelah Mylo Xyloto, sudah seharusnya kita tidak usah heran lagi jika Coldplay goes more pop and pop-er. Apalagi mereka masih mengerjakan Ghost Stories dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. Full review.


Apa album terbaik di tahun 2014 versi kamu?

(Haris / Creative Disc Contributor)

Related posts

Leave a Reply