Trending News

Blog Post

Album of the Day: The Chainsmokers – Collage
Album of The Day

Album of the Day: The Chainsmokers – Collage 

Released by: Sony Music Entertainment Indonesia

Tahun 2016 sungguh adalah tahun duo Andrew Taggart dan Alex Pall yang tergabung dalam The Chainsmokers. Di tahun ini nama mereka benar-benar mengemuka. Dikenal luas, tidak hanya di skena EDM, namun juga musik pop secara umum. Semua ini tentu berkat kesuksesan dua single rilisan tahun ini. Pertama, ‘Don’t Let Me Down’ dan tentunya saja single fenomenal ‘Closer’.

Kini The Chainsmokers merangkum kesuksesan tahun ini dengan mini album kedua mereka, “Collage“, yang sebagaimana judulnya adalah catatan perjalanan karir meraka sepanjang tahun yang dimanisfestasikan dalam sebuah instalasi kolase berdasarkan single-single tadi.

Tahun lalu The Chainsmokers merilis “Bouquet”, yang menandakan sebagai EP pertama mereka. Dari EP ini The Chainsmokers merilis ‘Roses’ yang menandakan sebagai single top 10 Billboard Hot 100 pertama mereka. Prestasi lagu ini jauh melampaui sukses single viral ‘#Selfie’ (2014) yang berjasa dalam memperkenalkan nama The Chainsmokers. Pastinya melewati prestasi single debut mereka, ‘Erase’, sebuah track progressive house yang menggandeng bintang asal Bollywood yang sekarang populer berkat serial “Quantico”, Priyanka Chopra, sebagai pengisi vokal.

‘Roses’ sepertinya membentuk formula musikalitas The Chainsmokers ke depannya. Track future bass ini meramu pop dengan dance dalam formula pas, di mana drop anthemik dan melodi catchy adalah bagian struktur lagu. “Bouquet” sendiri menghadirkan barisan track dalam sub-genre yang lumayan variatif. Jejak progressive house jelas masih terpampang nyata di sana dan memastikan jika gig The Chainsmokers masih menawarkan ritme ala rave party.

Hanya saja Taggart dan Pall jelas menyadari akan gemilangnya ‘Roses’, sehingga tidak heran single-single selepas “Bouquet” pun diramu dengan pendekatan sama. Maka hadirlah ‘Don’t Let Me Down’ yang mengajak penyanyi pendatang baru yang masih berusia 17 tahun, Daya. Sebenarnya track ini tidak benar-benar future bass, melainkan berbasis pada trap. Namun jelas The Chainsmokers ingin mengajukan melodi pop secara utuh, sehingga terlepas dari beat trap intens dan, tentunya, momentum drop bergelora, ‘Don’t Let Me Down’ dibekali dengan notasi renyah dan gampang diserap pendengaran. Duduk di posisi 3 Billboard Hot 100 adalah bukti kesuksesan ‘Don’t Let Me Down’.

Sebagai jeda, mengemuka ‘Inside Out’ dengan penyanyi asal Swedia, Charlee, sebagai featuring act. Di sini trap dimodifikasi menjadi future bass. Sementara ritme mengikuti alur beat ala EDM, jelas ‘Inside Out’ tetap menawarkan pop catchy dan easy listening. Sampai kemudian hadir ‘Closer’ yang seolah menjadi kulminasi transisi The Chainsmokers dari musisi EDM dengan materi yang rave oriented menjadi radio friendly.

Tema yang diusung ‘Closer’ memang sederhana, tapi sangat lekat dengan keseharian, terutama di kalangan anak muda. Verse yang gampang diingat jelas adalah kunci, selain hook mengikat pada chorus. Sulit untuk tidak ikut bernyanyi mengikuti lirik, “So, baby, pull me closer / In the back seat of your Rover / That I know you can’t afford / Bite that tattoo on your shoulder / Pull the sheets right off the corner / Of that mattress that you stole / From your roommate back in Boulder / We ain’t ever getting older.

Menjadi juara Billboard Hot 100 tentu adalah prestasi tersendiri. Namun menjaganya selama 12 pekan berturut-turut adalah sebuah keistimewaan yang jarang diraih. Berkat ‘Closer’ nama The Chainsmokers pun meroket menjadi yang terdepan. Duo ini beruntung mengajak Halsey, penyanyi pop alternatif yang tengah naik namanya, menjadi kolaborator, karena ia mampu menjadi tandem Taggart, yang sejujurnya memiliki vokal biasa saja, untuk mempercantik lagunya menjadi lebih spektakuler.

Dua track lain dalam “Collage” adalah susulan ‘Closer’. Furure bass berbalut pop jelas masih menjadi alas bagi ‘All We Know’ dan ‘Setting Fires’. Dalam ‘All We Know’ Taggart masih ingin hadir sebagai pengisi vokal, meski ada penyanyi pendatang baru Phoebe Ryan sebagai rekan duet. Sebenarnya track ini sangat mengingatkan akan ‘Closer’ karena memiliki pendekatan melodi yang sama. Hanya saja terdengar lebih “matang”, baik dari segi komposisi ataupun tematis. Menilik ‘Closer’ dan ‘All We Know’, senang mengetahui jika The Chainsmokers tidak ingin lagu-lagu mereka terdengar steril karena ingin mengemukakan hubungan interpersonal dengan emosi tebal sebagai sajian.

Sementara ‘Setting Fires’ hadir dengan tempo yang lebih up-beat. Sebagai kolaborator mereka menggandeng duo kakak-beradik Chase dan Paige Duddy yang tergabung dalam grup pengusung alternatif electro-pop, XYLØ. Masih future bass, meski dengan latar XYLØ pastinya electro-pop pun mendominasi alur beat lagu. The Chainsmokers sendiri tak melewatkan kesempatan untuk memasukkan motif ataupun drop ala EDM di beberapa bagian agar lagunya terdengar meriah, walau harus diakui kadang ‘Setting Fires’ terdengar seperti lagu milik XYLØ yang diremix oleh The Chainsmokers. Tidak masalah, karena sebagai remixer olahan The Chainsmokers tak kalah gemilang. ‘Habits’ milik Tove Lo atau ‘I Can’t Stop Drinking About You’ Bebe Rexha atau ‘Sway’ Anna of the North adalah contoh kecil dari remix berkesan The Chainsmokers.

“Collage” memang cenderung lebih singular dibandingkan “Bouquet” yag memiliki materi relatif lebih variatif. Pemilihan pop secara dominan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan karena The Chainsmokers dengat cekatan menunjukkan kemampuan mereka dalam merangka lagu-lagu pop yang enak disimak. Sedang kekurangan karena “Collage” cenderung menjauhkan The Chainsmokers dari ranah EDM yang telah membesarkan nama mereka.

Mungkin ini adalah pilihan. Apalagi kabarnya untuk album debut mereka mendatang The Chainsmokers sudah mengajak nama-nama besar, seperti Chris Martin dari Coldplay misalnya. Jelas antisipasi menjadi lebih besar. Agak cemas sebenarnya jika The Chainsmokers ternyata masih mengulang formula sama ketimbang menggali kreativitas mereka lebih jauh.

Taggart menyebutkan jika musik The Chainsmokers mengaburkan batasan antara indie, pop music, dance music dan hip-hop. “Collage” bisa dikatakan adalah perwujudan dari hal itu. Meski tidak pas benar, setidaknya The Chainsmokers sudah menunjukkan geliatnya. Sebagaimana “Bouquet”, “Collage” adalah sebuah album mini yang memuaskan. Dalam artian setiap track menyenangkan untuk disimak dan menghibur. Hanya saja mereka masih bertugas sebagai appetizer. Menu utama alias main course dari The Chainsmokers masih on the way dan kita harus bersabar untuk itu. Yang kita harapkan adalah setidaknya secara kualitas harus menyamai, bahkan melampaui. Kita tunggu saja kalau begitu.

iTunes

iTunes

Official Website

TRACKLIST
1. “Setting Fires” (featuring XYLØ) 4:07
2. “All We Know” (featuring Phoebe Ryan) 3:14
3. “Closer” (featuring Halsey) 4:04
4. “Inside Out” (featuring Charlee) 3:54
5. “Don’t Let Me Down” (featuring Daya) 3:28

Related posts

Leave a Reply

izmir eskortlar bursa eskort bayanlar ankara escort bayanlar Antalya escort bayanlar Eskişehir escort bayan Konya bayan escort escort Kayseri İzmit escort kızlar Alanya escort Kocaeli escort Kuşadası escort Gaziantep escort Malatya escort Diyarbakır escort Denizli escort Samsun escort Adana escort Bodrum escort Dubai escort porno izle seks hikayeleri sex hikayeleri paply.org

Entsorgung Berlin