Trending News

Blog Post

Pesta Pora Konser The Proclaimers di Singapura
Photo by Aloysius Lim
Concerts Review

Pesta Pora Konser The Proclaimers di Singapura 

Tanyakan pada orang-orang sekitarmu, apakah mereka tahu sebuah band bernama “The Proclaimers”? Pasti mereka balik bertanya sambil mengernyitkan dahi. Atau mungkin kamu dianggap aneh ketika kamu bilang pada mereka ‘mau nonton The Proclaimers’. Siapa mereka?

Namun mungkin justru kebalikan bagi para komunitas Scottish. The Proclaimers bisa jadi lebih dari sebuah band bagi mereka. Mereka adalah sebuah simbol ekspresi, sebuah kebanggaan dan soundtrack perasaan bagi para fans-nya. Setidaknya itulah yang saya rasakan dan lihat dengan mata kepala saya sendiri pada saat Lushington Entertainment Singapore menggelar konser mereka di Singapura tanggal 29 April 2019 lalu.

Duo bersaudara Craig dan Charlie Reid dari Skotlandia yang telah mendunia selama 30 tahun ini sukses dengan formula musik mereka yang menggabungkan pop, folk, rock kontemporer, new wave dan sentuhan punk dengan balutan lirik-lirik tajam dan tak jarang satire.

Lagu-lagu The Proclaimers terasa begitu evergreen, dengan ciri khas menangkap emosi manusia, dengan lirik-lirik yang ditulis dengan kejujuran emosional yang dalam dan tajam. Hits ngetop mereka; “I’m Gonna Be (500 Miles)”, dari album “Sunshine on Leith”, yang bercerita tentang kisah awal manusia jatuh cinta secara berlebihan, atau “I’m on My Way” yang sempat mengisi soundtrack album film “Shrek” selalu memiliki ciri khas unik ketimbang musik-musik masa kini pada umumnya.

Malam itu, Capitol Theatre Singapura dijejali bule-bule yang sebagian besar memang orang-orang Skotlandia. Terdengar aksen Scottish kental disana sini dan sebagian dari mereka ‘nekat’ memakai “kilt”, kostum tradisional dataran tinggi Skotlandia. Konser dibuka 15 menit molor dari jadwal. Tanpa aksi band pembuka, tanpa basa basi, duo bersaudara Craig & Charlie Reid langsung memberondong telinga penonton dengan setlist lagu-lagu mereka yang memiliki tunes-tunes cepat/upbeat, ceria dan lantang. Uniknya dibalik keceriaan harmoni mereka, tak semua lagu mereka melulu bercerita tentang kebahagiaan. Tak jarang berisi sindiran, politik, satire, depresi atau kekelaman hidup, namun tetap dengan gaya trademark mereka yang catchy, seakan mengisyaratkan kita untuk mengusir negativitas dalam diri kita.

Kekuatan dan kekompakan vokal dua bersaudara ini memang menjadi kekuatan The Proclaimers, dibalut dengan harmoni musik mereka yang ramai. Berkejar-kejaran, saling bersahutan dan saling mengisi ruang kosong dengan improvisasi. Seperti pada lagu “Letters From America”, bercerita tentang kelamnya hidup di kampung halaman dan terpaksa mengungsi ke Amerika demi ekonomi. Namun meskipun demikian, justru ini yang seringkali membuat penonton bangkit dari tempat duduknya untuk turut berjingkrak bersama.

Dan disinilah saya pun akhirnya gatal untuk tidak beranjak dari kursi saya. Ditarik entah oleh siapa, akhirnya saya pun akhirnya berpindah tempat ke kelas standing section untuk ikut berpesta bersama. Kekuatan lain dari musik The Proclaimers ini memang membuat penonton untuk mudah ikut arus tersihir melodi mereka. Bergembira, berpesta, bersorak-sorak bersama. Entah siapapun di samping mereka.

Sebuah pengalaman lain dari sebuah konser saya rasakan malam itu. Seperti sebuah pesta kemenangan tim nasional sepakbola dalam sebuah bar, seperti sebuah kegembiraan tentara pulang dari perang, atau kebahagiaan mendapat promosi jabatan. Penuh gelora, semangat dan kekompakan. Itulah yang saya lihat.

Meskipun ada, namun jarang saya dapati mereka sibuk merekam dengan handphone mereka. Kalaupun ada, rasanya hanya karena ingin sebuah memento untuk diingat dan dikenang kembali pasca konser. Beda halnya dengan konser-konser remaja yang sibuk dengan handphone-nya sepanjang konser, ingin video mereka eksis dan viral. Dan inilah penikmat konser yang sesungguhnya.

Mereka justru lebih memilih untuk asik dengan gelas bir di tangan mereka yang tak habis-habisnya. Berteriak-teriak penuh semangat, bernyanyi atau sekedar “da da da da!” pada lagu “I’m Gonna Be (500 Miles)”, sebuah lagu yang haram rasanya didengarkan hanya sambil duduk.

Setelah hits legendaris itu, duo tersebut melakukan encore tiga lagu setelah menghilang di balik panggung. “Cap In Hand”, “Make My Heart Fly” dan “The Joyful Kilmarnock Blues” menutup konser mereka dengan sukses. Saya pun pelan-pelan mundur. Meninggalkan venue dan para Scottish yang masih bertahan dan berbagi keceriaan disana.

Teks: Wisnu H. Yudhanto, w1snu.com
Official photo by: Aloysius Lim & Alvin Ho for Lushington Entertainment Singapore.

Related posts

Leave a Reply