Quantcast

Metamorfosis Greyson Chance dalam Album “Portraits”

By - 4 weeks ago in Album of The Day

“I cannot hold my tongue you give much to say…”

Sesuai dengan kalimat di atas, si pemilik album benar-benar “giving much to say” di album barunya ini. Rilis pada 15 Maret lalu, sang penyanyi menyebut album ini sebagai debutnya, walaupun rasa-rasanya album ini merupakan debut sejak dia mengaku gay di tahun 2017. Yap, dialah Greyson Chance, penyanyi asal Oklahoma yang sempat menjadi viral akibat videonya meng-cover lagu Paparazzi milik Lady Gaga.

Seiring pertumbuhan dirinya, perkembangan musik Greyson pun ikut bermetamorfosis, album ini adalah buktinya. Selain membuka lembaran baru melalui album bertajuk “Portraits”, Greyson juga menerapkan ciri khas di album ini, yaitu penggunaan kata tanpa huruf kapital. Let’s check ‘em out!

1. shut up (2:50)

Lirik lagu di atas adalah kalimat pertama yang terlontar dari penyanyi kelahiran 1997 ini. Lagu berdurasi hampir 3 menit ini adalah single Portraits pertama yang dirilis pada 8 Februari 2019. Melalui alunan beat yang terasa lebih chill, Greyson menceritakan bagaimana dirinya berkenalan dengan pria yang ditemuinya saat dia melakukan perjalanan ke Israel di bulan Desember. Walaupun si pria terdengar sering salah kostum (mulai dari main di pantai pada bulan Desember hingga mengenakan baju hitam saat musim panas), tapi semuanya terbayar oleh penutup chorus yang menggoda, “And when your eyes catch mine I know I talk too much, so give me your two lips and baby I’ll shut up.”

2. bleed you still (2:38)

Dimulai dengan ketukan lamban yang terasa sangat synth-pop, Greyson menyampaikan serenade untuk seseorang yang sedang dekat dengannya. Bagaimana tidak, lirik lagu ini berisi segelintir kiasan manis seperti “You’ll be the oxygen I’ll breathe.” Selain itu, frasa yang menjadi judul juga mengisyaratkan bahwa Greyson selalu siap menjadi support system bagi orang yang dikasihinya saat itu.

3. yours (3:46)

Single kedua dari Portraits ini diawali dengan musik disko dengan beat lebih cepat, tapi tetap menyertakan alunan synthesizer. Melalui single ini, kita dapat melihat bahwa Greyson mulai memberanikan diri untuk bereksperimen dengan musik yang sedikit berbeda dari lagu-lagu yang selama ini ditulisnya. FYI, lagu ini seperti menjadi lagu favorit Greyson untuk dinyanyikan di setiap tur lho, karena di hampir setiap penampilannya, yours selalu menjadi lagu terakhir yang masuk di track listing.

4. plains (0:58)

Berbeda dengan tracks lainnya, plain bukanlah sebuah lagu, melainkan monolog Greyson tentang ibunya, Lisa. Monolog yang sekaligus menjadi prolog untuk lagu selanjutnya ini, menceritakan nasihat ibunya saat Greyson melakukan penampilan pertamanya di usia 12 tahun dan mengeluarkan kata kasar di atas panggung. Kalimat “Listen, men don’t talk like that, boys do, and I’m raising you to be a man,” dari sang Ibu menjadi pesan yang diingat Greyson hingga saat ini.

5. west texas (3:36)

Lagu kelima ini menceritakan kedekatan Greyson dengan ibunya dan bagaimana dia belajar banyak hal dari tindakan dan keputusan yang diambil Lisa. Selain menjadi Father’s son/man di lagu Hit & Run (Somewhere Over My Head) dan stand (Portraits), Greyson juga tidak malu menunjukkan bahwa dirinya adalah Mommy’s son melalui rangkaian lirik,
“And it’s so hard to imagine what I’ll do without you here
As you gaze your eyes towards mine tell me to wipe away those tears
You say Jesus loves you, always will no matter what you did
And in that moment, I’m a kid again.”

6. white roses (3:56)

Usai lagu mellow tentang kasih sayang ibunya, Greyson mengutarakan rasa galaunya dengan alunan musik chill dari white roses. Mawar putih yang melambangkan kesucian dan ketulusan menjadi judul yang dipilih Greyson untuk menyampaikan kekecewaannya terhadap pria yang pernah melukainya begitu pedih, seperti yang ditulisnya, “’Cause you cut me wide open left teardrops on all my white roses.” Ketukan musik pop sangat terasa di lagu ini, alunan piano yang menjadi ciri khas Greyson juga mulai terdengar kembali, diiringi dengan suara tepukan tangan dan tamborin yang meramaikan pre-chorus hingga chorus, sampai efek echo yang terdengar di bridge.

7. lights (0:25)

Sama seperti plains, track ini juga menjadi prolog untuk black on black. Isinya adalah percakapan Greyson dengan seorang perempuan yang memberitahunya lokasi strip club di daerah Las Vegas. Sepertinya, di strip club inilah Greyson bertemu dengan pria yang dimaksudnya di lagu selanjutnya, ‘black on black’.

8. black on black (3:23)

Pada lagu dengan lirik yang tak kalah menggoda, Greyson berhasil menciptakan vibe yang lebih sensual dengan musik elektrik dengan gema seperti baru memasuki sebuah ruangan. Lirik lagu ini mendeskripsikan seseorang yang tidak segan untuk berdansa dengan orang yang mengaguminya. FYI, ada satu line yang terdengar agak vulgar, yaitu “But damn, boy, you got me f*cking on my knees,” namun Greyson akhirnya mengklarifikasi bahwa kalimat tersebut hanya mengartikan dirinya berlutut untuk memohon kasih sayang.

9. seasons nineteen (2:48)

Sebelum dijadikan versi electric-pop dengan tempo lebih cepat dan dimasukkan ke dalam album, Greyson pernah merilis lagu ini dengan judul “Seasons” di tahun 2017. Awalnya, Seasons menceritakan pandangan Ibu Greyson tentang kehidupan yang mirip seperti musim yang terus berganti. Namun, rasanya Greyson memasukkan seasons nineteen sebagai pengingat bahwa di musim ke-19 hidupnya saat dia mengaku gay, dia mengalami perubahan besar yang juga diiringi oleh dukungan dari para Enchancers.

10. timekeeper (3:57)

Lagu dengan durasi terpanjang yang dirilis tepat seminggu sebelum perilisan Portraits ini bercerita tentang hubungan toxic Greyson dengan orang berinisial RK dan RB. Melalui lirik yang menyerang dua pria sekaligus ini, Greyson tidak segan untuk mencaci orang-orang toxic yang telah melukai dirinya. Tak lupa, Greyson juga berharap agar para mantannya itu mendengar lagu ini agar dirinya bisa menjadi timekeeper bagi mereka. What a great revenge!

11. stand (3:26)

One of my favorites! Pada track ini, Greyson menyajikan musik yang mirip dengan alternative/indie bersama alunan piano, gitar elektrik, serta back vocal yang terdengar harmonis dan calming. Rangkaian lirik yang tidak kalah apik dan powerful juga melengkapi lagu yang pertama kali dinyanyikan secara publik di Paste Studio, New York, ini. Lirik yang sudah ditulis sejak tiga tahun lalu ini ternyata sempat dibagikan Greyson melalui tweet-nya: “My favorite lyric I have written recently: ‘I cannot move in forever, no I stand, on the feet of my drunkenness I am my father’s man,’” pada 31 Agustus 2016.

12. lakeshore (about Chicago) (2:47)

Bersama dengan west texas dan white roses, lakeshore menjadi lagu favorit Greyson di album Portraits. Ibarat frasa “last but not least,” lagu yang dipenuhi dengan falsetto Greyson ini tak kalah powerful dibanding lagu lainnya. FYI, Greyson mengaku bahwa lakeshore terinspirasi dari kota Chicago, lho. Tapi hati-hati ya, angelic voice yang dilantunkan Greyson di lagu ini bisa membuat kita “don’t wanna go home.”

Meskipun banyak Enchancer yang menyayangkan lagu-lagu seperti Good as Gold dan Low tidak masuk dalam album Portraits, namun kenyataannya, kedua belas lagu berdurasi 34 menit inilah yang benar-benar mewakili makna ‘portraits’ bagi Greyson Chance. Tapi tenang, kabar baiknya, setelah penantian selama tujuh tahun, akhirnya Greyson akan melaksanakan konsernya kembali di Jakarta pada 27 Juli mendatang, tepatnya di The Pallas SCBD, Jakarta Selatan.

Hmm, sepertinya artikel ini juga sudah “giving much to say”. Kalau menurutmu gimana nih, setuju ngga kalau Portraits menjadi album metamorfosis Greyson sejak album terakhirnya? BTW, lagu apa sih yang jadi favoritmu?

CD Collector | Music freaks

Comments

Leave a Reply

Related Articles

Artist Interviews | August 7, 2019 By

CreativeDisc Exclusive Interview with Greyson Chance: 5 Hal yang Tidak Banyak Diketahui Enchancers

Creative Disc TV | August 6, 2019 By

CreativeDisc Exclusive Interview Greyson Chance

Concerts Review | August 5, 2019 By

Greyson Chance Guncang The Pallas dengan Album Portraits