Trending News

Blog Post

CreativeDisc Exclusive Interview with Novo Amor: Bahas Album Baru, “Cannot Be, Whatsoever” hingga Indonesia
Photo by: Daniel Alexander Harris
Artist Interviews

CreativeDisc Exclusive Interview with Novo Amor: Bahas Album Baru, “Cannot Be, Whatsoever” hingga Indonesia 

Usai mengunggah artikel tentang dirilisnya single barunya, ‘If We’re Being Honest’, tim CreativeDisc kembali berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan sang musisi, Novo Amor alias Ali Lacey, yang membahas seputar album terbarunya, “Cannot Be, Whatsoever” hingga keinginannya untuk menjelajah Indonesia dan kembali tampil di Jakarta.

Membahas album “Cannot Be, Whatsoever” yang akan rilis pada 6 November mendatang, Ali mengaku bahwa ketika rekan kolaborasinya, Ed Tullett, memperlihatkan artwork buatan seniman asal Belanda, Tilleke Schwarz, ini dirinya tidak tertarik. Namun, seiring berjalannya proses pembuatan album, perlahan Ali malah jadi jatuh cinta dengan karya Schwarz dan memutuskan untuk menggunakan hasil karya yang ditunjukkan Ed padanya. Menurut Ali, dirinya merasa artwork yang dibuat tahun 2001 ini terlihat cocok dengan musik di album barunya.

Artwork album ini nantinya akan seperti kotak yang berisi benda-benda yang melayang dan quotes yang tersebar di semua bagian dengan tulisan-tulisan acak agar terlihat masuk akal, dan bagiku ini semua benar-benar mencerminkan isi album ini, karena aku adalah orang yang sangat sulit mengambil keputusan saat menciptakan musik, aku merasakan kekacauan di otakku lalu menyajikannya untuk kalian agar kalian dapat mengartikan sesuai penafsiran masing-masing, kurang lebih seperti itulah makna cover album ini untukku.”

Selain itu, Ali juga membagikan pengalamannya dalam menulis lagu. Biasa dirinya mengawali pembuatan lagu dengan irama, kunci nada, gumaman, atau suku kata tertentu yang terbesit di otaknya. Setelah itu dirinya akan mencari kalimat yang cocok untuk nada-nada ini, baik dari pengalamannya sendiri, ingatan akan teman-temannya, atau cerita yang dibuat dalam imajinasinya, kurang lebih cerita tentang interaksi Ali dengan manusia di sekitarnya.

Mengingat Novo Amor menyatakan bahwa album “Birthplace” mempunyai suasana pinggiran kota dan “Cannot Be, Whatsoever” terdengar lebih “kota”, Ali menjelaskan bahwa jika mengingat “Birthplace”, dirinya biasa kembali bernostalgia dengan studionya di Woodgate, New York, pada musim salju yang menenangkan. Di sisi lain, album “Cannot Be, Whatsoever” dibuat sekitar musim semi sehingga terasa lebih energetik dengan alunan drum. Ide ini pun diiyakan oleh Ed Tullett, yang turut berkolaborasi dengan Novo Amor dalam sebuah band bernama Hailaker.

Saat ditanya tentang Indonesia, Ali sangat ingin kembali melangsungkan konser di Jakarta. Dirinya juga mengaku ingin berkeliling Indonesia, terutama mengunjungi replika ikan paus di Bali yang pernah digunakan untuk membuat video musik ‘Birthplace’. Namun, masih ada aral-melintang yang harus mereka hadapi. Oleh karena itu, let’s do finger crosses and wait for them to come back here, shall we?

Simak tayangan lengkap interview kami dengan Novo Amor melalui video berikut:

Interview by Tristin
Video edit by Dundhee Yuwono

Related posts

Leave a Reply